Tuesday, May 5, 2026

Banyak Aral Tanam Latoh

Rekomendasi
- Advertisement -

Selain hujan, pemasaran pun menjadi tantangan pengembangan anggur laut.

Daeng Sangkala merugi sekitar Rp20 juta ketika mengembangkan anggur laut di keramba jaring apung pada 2019.

Trubus — Daeng Sangkala masygul karena melihat anggur laut miliknya mati pada April 2019. Warga Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, itu mengembangkan anggur laut di karamba jaring apung. “Kerugian saya saat itu sekitar Rp20 juta yang mencakup biaya pembuatan karamba dan biaya transportasi menuju sumber bibit alami anggur laut,” kata Sangkal, panggilan akrab Daeng Sangkala.

Ia menduga suhu udara yang tinggi menjadi pemicu matinya anggur laut. Peneliti anggur laut di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, Sulawesi Selatan, Dr. Dasep Hasbullah, S.Pi, M.Si., mengatakan, suhu optimal untuk anggur laut 25—33°C. Sangkal tertarik membudidayakan anggur laut karena tergiur harga jual yang relatif tinggi. Ia berharap budidaya bulung boni—sebutan anggur laut di Bali—salah satu sumber pendapatan masyarakat di Gilimanuk.

Hama

Butuh kesabaran dan ketekunan untuk menghasilkan anggur laut berkualitas. (Dok. Trubus)

Selain budidaya, tantangan Sangkal lainnya yaitu pemasaran. Ia mengetahui tiga habitat alami anggur laut di perairan Gilimanuk. Sejauh mata memandang hamparan alga anggota famili Caulerpaceae itu. Ada satu lokasi yang luasnya sekitar 2 hektare. Sayangnya belum banyak konsumen yang memesan makro alga itu kepada Sangkal. Pelanggan terakhir Sangkal adalah seseorang dari Yogyakarta yang membeli 200 kg anggur laut pada Agustus 2019. Ia menjual anggur laut Rp150.000 per kg sehingga mendapatkan omzet Rp30 juta.

Sangkal mengatakan, “Masyarakat menerima ide membudidayakan anggur laut, tapi terbentur pasar,” kata pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, itu. Ia berharap ada pihak yang membantu pemasaran anggur laut. Head Project PT Tropical Ocean Prawn (TOP), Novie Dwi Karlina, mengatakan pasar salah satu kendala mengembangkan anggur laut. “Prospek pasar masih sangat bagus, tapi perlu edukasi,” kata Novie yang membudidayakan anggur laut sejak Januari 2019 di Bali.

Anggur laut berwarna putih karena kurang mendapatkan sinar matahari.

Mengikuti pameran di dalam dan luar negeri salah satu cara Kadek Lila Antara, S.Pi., M.Si., mempromosikan anggur laut. Pembudidaya asal Buleleng, Bali, itu mengembangkan anggur laut sejak 2017. Peneliti anggur laut di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah, Endah Soetanti, A.Pi, S.Pi., membuat aneka produk berbahan anggur laut agar makin dikenal masyarakat. Tantangan pengembangan latoh—sebutan anggur laut di Jawa—tidak melulu di hilir.

Peneliti anggur laut di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah, Endah Soetanti, A.Pi, S.Pi. (Dok. Endah Soetanti, A.Pi, S.Pi)

Sektor hulu pun memerlukan perhatian. Meski tidak ada penyakit yang menyerang anggur laut hingga kini, beberapa hama sejenis siput telanjang cukup menggangu dan mempengaruhi pertumbuhan anggur laut. Ada juga alga liar yang tumbuh sehingga membikin anggur laut menghitam. Kadek Lila yang menanam anggur laut di kolam semen menjumpai kedua hambatan itu. Penanggulannya mudah. Anggur laut terserang hanya dibilas hingga kedua hama itu hilang.

Menurut Endah munculnya alga lain sangat mengganggu umi budo—sebutan anggur laut di Jepang—karena terjadi perebutan makanan dan oksigen. Dampaknya pertumbuhan anggur laut pun tidak maksimal. Endah yang menanam anggur laut di tambak pun pernah menjumpai lumut yang mengganggu rumput laut itu. Kualitas air kurang bagus salah satu pemicu kehadiran lumut di tambak.

Hujan

Hujan salah satu tantangan membudidayakan anggur laut di tambak
dan sistem tertutup sebagian (semiindoor). (Dok. Valeriy Khoteev/Flickr)

Tantangan lain membudidayakan anggur laut yaitu musim hujan. “Hujan deras mempengaruhi salinitas dan suhu air laut. Salinitas rendah menghambat pertumbuhan anggur laut. Lama-kelamaan bisa mati,” kata alumnus Program Studi Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, itu. Hujan pun menurunkan produktivitas anggur laut. Menurut teknisi budidaya anggur laut di PT TOP, Gede Sudi Wira, produksi anggur laut menurun sekitar 10% karena hujan.

Gede menanam anggur laut di bak plastik berdiameter 2,5 m. Air laut di lokasi budidaya anggur laut yang dikelola Gede berwarna cokelat ketika hujan karena ada dua muara. Tentu saja kondisi itu mempengaruhi pertumbuhan anggur laut. Masa budidaya pun molor menjadi 2 bulan ketika musim hujan. Lazimnya ia menuai lato-sebutan anggur laut di Filipina—1,5 bulan pascapenanaman.Penurunan produktivitas anggur laut ketika musim hujan lebih besar terjadi di tambak.

Pembudidaya anggur laut di Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, itu, Amin Mustono Daeng Nyala, mesti merelakan produksi anggur laut miliknya menurun 30% saat musim hujan. Pendapatan Daeng Nyala pun berkurang. Menurut Dasep, kehilangan hasil panen anggur laut di tambak bisa mencapai 50% ketika musim hujan jika pembudidaya malas mengganti air. Jika semua kendala teratasi, laba anggur laut pun pasti didapat. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Cara Memilih Jeruk Manis di Pasar: Ciri Fisik, Aroma, dan Mutu

Menurut Said dan rekan dalam artikel Physicochemical Quality Indicators of Citrus Fruits, mutu jeruk manis ditentukan oleh kombinasi karakter...

More Articles Like This