Tuesday, November 29, 2022

Achmad Soelaiman Putra Aroma Parfum di Kumbung Jamur

Rekomendasi

Bila dulu kesehariannya disibukkan urusan pesan dan kirim barang, kini kelahiran Pontianak itu menghabiskan hari tuanya dengan bertanam tiram di pedesaan.

Begitulah aktivitas sehari-hari ayah 4 putra itu sejak 2003. Setelah lebih dari 25 tahun menjalani hidup sebagai pengusaha kosmetik, Achmad memutuskan membuka usaha mandiri di pedesaan. “Orang kampung balik ke kampung,” ujar Achmad. Menjalani hidup sebagai petani telah menjadi impiannya sejak lama.

Tak heran bila kini pria paruh baya itu kerap dijumpai berkeliling dari kumbung ke kumbung di keheningan desa di kawasan Gadog, Bogor. Mengontrol kumbungkumbung yang tiap raknya mulai dipayungi tudung-tudung tiram kecil menjadi kegiatan baru yang mengasyikan. Itulah keputusan terbaiknya kala memasukai hari tua. Modal Rp2-miliar untuk membeli lahan seluas 1 ha dan membangun 6 kumbung yang dilengkapi rumah peristirahatan pun tak ragu dicemplungkan.

Jamur menjadi pilihan karena menurutnya komoditas pertanian bernilai ekonomis tinggi yang pengusahaannya tergolong aman karena di tanam dalam kumbung. Kerugian akibat penjarahan atau pencurian bisa ditekan. Ketertarikan pada jamur berawal dari rutinitasnya membaca Trubus. Prospek cerah berbisnis jamur mengundangnya untuk mencoba.

Kini, dua tahun telah berselang. Harapan baik  seakan membayangi usaha tiram yang dijalankannya. Bila awalnya hanya 6 kumbung, sejak awal 2005 telah berdiri 11 kumbung yang rata-rata berukuran 12 m x 23 m. Dua kumbung untuk fungsi inkubasi, selebihnya menampung lebih dari 325.000 baglog. Dua armada mobil bak terbuka selalu siap mengantar hasil panen ke berbagai tempat. Tiram Achmad pun berkelana ke semua pasar di penjuru kota.

Banting stir

Itu tak terbayang sebelumnya. Dulu orang mengenal Achmad sebagai pebisnis tulen yang menghabiskan waktu di belakang meja kerja hingga larut malam. Menandatangani nota pesanan, transaksi jual beli, hingga belanja ke Los Angeles, Amerika Serikat, secara rutin dilakoninya.

Namun, udara perkotaan yang sesak mendorongnya untuk menghirup aroma desa lebih banyak. Hari tua yang seakan menjemput menjadi motivasi lain mendalami usaha tiram. Sebelumnya, bersama sang istri, kelahiran 1950 itu mengadu nasib dengan mendirikan boutique pakaian di Megamall Pluit. Namun, karena dilanda kerugian, usaha itu pun tak berlangsung lama.

Keputusannya untuk banting stir ke bisnis tiram 2 tahun silam seakan sudah menjadi tekad. Hanya saja, usaha di bidang jamur tak bisa dibilang mudah. Kegagalan budidaya karena baglog terkontaminasi pada medio 2004 telah merenggut lebih dari 100.000 baglog produksi. Kerugian hingga ratusan juta rupiah pun mesti diteguknya. Kerap juga kumbung disambangi kumbang Cyllodes bifacies yang meluluhlantakkan tiram-tiram andalannya.

Namun, pengalaman pahit itu menjadi guru terbaik baginya. “Sebagai pekebun baru, saya selalu belajar pada orang yang sukses di bidang jamur,” tutur ayah dari Guntur Soelaiman Putra itu. Dalam bidang marketing, pria berkulit putih itu sempat kesulitan memasarkan tiramnya. Namun, Achmad selalu berusaha memproduksi tiram terbaik dengan pelayanan yang memuaskan konsumen.

Achmad selalu mencantumkan kode HA di setiap kemasan tiram yang siap dipasarkan. Ia menjamin jamur produksinya dipotong bersih, kering, patahan sempurna, bebas akar kuning, dan segar. Achmad juga tak segan-segan mengantar pesanan meski dalam jumlah kecil.

Semi konvensional

Ratusan ribu baglog itu dijamin mendapat perlakuan istimewa. Achmad yang menakhodai bisnis dibantu rekannya—Bahril Ulum—itu menerapkan teknologi baglog tidur. Baglog diposisikan melintang dan kedua ujung baglog dibuka sehingga produktivitas terdongkrak.

Menurut Achmad baglog berproduksi setelah berumur 25—30 hari dengan hasil panen rata-rata 0,5 kg per baglog berbobot 1 kg. Baglog bisa disusun ke atas hingga 10 tumpukan. Populasi baglog dalam kumbung pun bisa meningkat hingga 100% dibanding cara biasa.

Pantas bila kini sedikit demi sedikit mentari mulai menerangi usaha tiram yang dijalankannya. Apalagi ia selalu mencari varietas terbaik yang tahan hama dan sanggup menghasilkan produksi maksimal. Bila sebelumnya ia menanam tiram biasa, kini sejak 2004, strain tiram terbaik, grandmaster (hasil adaptasi tiram Cina—Th ailand—India) (baca: Tiram, Jika Washington Pindah ke Cisarua, halaman: 94) pun diboyong ke kumbungnya.

Oleh karena itu, ia berkeras membudidayakan tiram grandmaster. Setahun berselang, senyum Achmad terkembang, varietas grandmaster terbukti genjah, dalam 25 hari panen, tahan hama dan penyakit, warna putih, serta tahan angkut.

Kini, baglog-baglog yang tersebar di 9 kumbung menumbuhkan tiram dengan optimal dan bermekaran tiap pagi. Baglogbaglog itu menghasilkan rata-rata 5 kuintal per hari. Pantas bila pagi hari menjadi satu hal yang paling ditunggu Achmad. Payungpayung putih telah mananti untuk dipetik.

Banjir pesanan

Keheningan sebuah jalan setapak kecil di Gadog, Bogor, sama sekali tak menggambarkan kesibukan yang terjadi di ujung gang itu. Sebuah bangunan berdinding anyaman bambu dan berlantai keramik putih itu seakan menjadi tugu selamat datang yang menyambut kehadiran di kebun jamur Achmad.

Sebanyak 70 pekerja hilir mudik memanen tiram, mengemas, dan memasukkannya ke bak mobil. Dari sanalah bisnis jamur tiram Achmad berawal. Nun di Bogor, Ciawi, para pemesan tengah menunggu pasokan tiram Achmad. Sejak malang melintang di dunia perjamuran nama Achmad kian kondang sebagai produsen tiram.

Pantas bila sejak awal 2005 silam pesanan membanjiri perusahaan seumur jagung itu. “Banyak yang datang langsung ke kebun karena takut kehabisan,” ujar anak ke-5 dari 12 bersaudara itu. Permintaan yang mencapai 5—6 ton per minggu memaksanya untuk menggenjot produksi hingga 2 kali lipat. Padahal, kapasitas produksi yang ada hanya maksimal 3,5 ton per minggu.

Pasar lokal tetap menjadi incaran utama, tapi peluang ekspor pun tak akan ditinggalkannya. Belanda merupakan negara Eropa pertama yang tengah dijajaki sebagai lahan pemasaran baru. Keuntungan makin berlipat, sebab selain menuai jamur, pemesan baglog dan bibit tak henti-hentinya melayangkan permintaan yang jika dijumlah mencapai 2.000 baglog per bulan.

Lahan seluas 1 ha itu memang belum seluruhnya termanfaatkan. Jadi rencana perluasan hingga 20—25 kumbung pun dinilai wajar. Sebab kapasitas produksi dari 325.000 baglog itu memang dirasa belum mencukupi. (Hanni Sofi a)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img