Tuesday, November 29, 2022

Lidah Mertua Geliat di Pasar Lokal

Rekomendasi

Satu…, dua…, tiga…. Parizal menghitung, “Dari 40 pot yang saya bawa, masih tersisa 15,” katanya. Dengan harga minimal Rp60.000 ia mengantongi Rp1.500.000.

Padahal, pemilik nurseri Mekarbaru itu juga memajang rangkaian di pot lebih besar: diameter 25 cm dan tanaman tunggal di pot plastik hitam 15 cm. Dalam ekshibisi tahunan untuk memperingati hari jadi Kota Jakarta itu, 25 pot rangkaian besar dan 50 pot Sansevieria trifasciata golden hahnii alias kodok-kodokan laris terjual. Masing-masing seharga minimal Rp100.000 dan Rp25.000 per pot. Itu berarti kelahiran 17 Juni 1978 itu mendapat tambahan pendapatan Rp3.750.000.

Di gerai lain, Khairuddin pun tengah menghitung pendapatan. Pemilik Fathur Flora itu membawa 500 pot Sansevieria trifasciata lorentii. Itu lidah mertua yang kerap disebut pedang-pedangan. Dari total tanaman yang dibawa, 300 pot diboyong konsumen. Harga sepot Rp5.000 terdiri dari 5 helai daun setinggi kira-kira 30 cm. Dari si pedang-pedangan Khairuddin mengantongi Rp1.500.000.

Itu belum seberapa dibandingkan dengan penjualan di gerai D&W Nursery. Baru 3 hari pameran berjalan 400—500 pot super ba dan lorentii ludes diserbu pembeli. Dengan kisaran harga per pot Rp15.000—Rp40.000 berarti dalam 3 hari pertama saja Rp6.000.000 sudah masuk ke pundi-pundi Denny—pemilik D&W.

Mulai ramai

Di medio 2005 ini rupanya lidah mertua tengah menggoda pasar lokal. Trubus melihat hampir setiap gerai di pameran Flora dan Fauna memajang si lidah jin—sebutan di Malaysia. Jenis pedang-pedangan dan kodok-kodokan memang mendominasi. Toh, lidah mertua unik seperti Sansevieria kirkii berdaun cokelat berlurik-lurik dan gold fl ame berdaun hijau pekat dengan semburat kuning keemasan di sekitar tulang daun juga dipajang. “Ini untuk kelas para kolektor,” ujar Parizal.

Maklum harga lidah mertua cantik itu melangit. S. kirkii berdaun 7 lembar di gerai Mekarbaru dibandrol Rp1-juta. Sementara si percikan api keemasan di tempat Khairuddin dijajakan Rp250.000 per pot berisi 4 helai daun.

Tak melulu di ajang pameran, lidah mertua pun mulai ramai diperniagakan di berbagai nurseri. Sebut saja di kios milik Fauzi di Rawabelong, Jakarta Selatan. Dari tokonya setiap hari keluar 20—30 pot. Hal serupa dirasakan Evi Nardi, pemilik nurseri Citralala. Setiap akhir pekan ia menikmati pendapatan minimal Rp1,4-juta dari penjualan 60 pot selama Sabtu—Minggu. Di Bogor permintaan 100 pot per bulan mengalir ke kebun Yenny Nursery. Padahal 3 bulan silam, “Terjual 5 pot saja sudah untung,” tutur Fauzi.

Tarikan ekspor

Hal itu diamini Lanny Lingga, di Cisarua, Bogor. “Pasar lokal memang mulai bagus,” ujar pemilik nurseri Seederama itu. Setiap bulan 20—30 rangkaian sansevieria dari kebunnya diborong konsumen. Harga per rangkaian rata-rata Rp100.000 berisi 3—5 jenis bila menggunakan pot tanah biasa. Harga melonjak mencapai jutaan rupiah jika yang digunakan pot keramik. “Soalnya kalau menggunakan pot keramik, jenis sansevieria yang dirangkai juga mahal-mahal,” tutur master bidang farmasi dari University of New South Wales itu.

Tak sekadar sebagai penghias rumah pribadi, sansevieria pun dibutuhkan sebagai tanaman rental. Sebuah kantor di bilangan Permatahijau, Jakarta Selatan, menjadi pelanggan pertama Parizal. Pelanggan lain sebuah apartemen di kawasan Rasunasaid, Jakarta Pusat. Hotel Sindanglaya di Bandung pun meminta pasokan dari Saputro di Cipanas, Cianjur. Di Bogor lidah jin terlihat mempercantik kantor BCA dan Bank Niaga.

Pasar lokal lidah mertua terkerek naik lantaran “terinfeksi” gairah perniagaan sansevieria untuk pasar ekspor. Sejak 5 tahun terakhir, pemain di tanahair memang kebanjiran permintaan dari luar negeri, terutama Korea dan Jepang. Sebut saja PT Hujanmas di Tangerang yang mengirim 2 kontainer per bulan. Satu kontainer berisi sekitar 100.000 lembar daun jenis pedang-pedangan atau sekitar 10.000—15.000 tanaman. Tak sekadar menunggu, para importir dari negeri Ginseng ada yang menjemput bola langsung ke sentra-sentra penanaman. Di Sukabumi, misalnya, setidaknya ada 20 importir yang menampung sansevieria dari para pengepul.

Ke daerah

Belakangan tak hanya Korea yang meminta pasokan. Sejak akhir April setiap minggu Lanny mengirimkan 3.500 jenis kodok-kodok untuk pembeli di Kuching, Serawak, Malaysia. Konon di negeri jiran lidah mertua digunakan sebagai salah satu elemen penghias taman. Dengan harga per tanaman Rp8.000, Lanny menangguk omzet Rp28-juta per pekan.

Sebuah kebun di Cikokol, Tangerang, mendapat order untuk memasok jenis Sansevieria trifasciata ‘futura’ alias super ba ke Australia, Malaysia, dan Kanada. Permintaan 1 kontainer per minggu pun diterima Joko Widi di Semarang dari pembeli di Taiwan. Permintaan urung dipenuhi lantaran stok tanaman terbatas.

Pantas dengan berkembangnya pasar lokal dan ekspor penanaman meluas ke berbagai daerah. Di Cipanas, Saputro membuka kebun seluas 1.000 m2. Padahal, kelahiran Malang itu puluhan tahun bergelut sebagai pekebun sayuran. Nun di Batu utara, Jawa Timur, 200 pekebun apel berpindah menanam sansevieria. Sebut saja Praptono dan Satari. Dua sekawan itu tidak hanya menanam, tapi juga mengumpulkan lidah mertua dari pekebun lain untuk dikirim ke gudang eksportir.

Pemasaran ke Korea terbuka setelah seorang importir dari negeri Ginseng berlibur di Batu. Secara tidak sengaja ia melihat anggota famili Agaveceae itu ditanam di sekitar hotel tempat menginap. Tanpa prosedur berbelit kontrak pengiriman selama 10 tahun ditandatangani. “Mereka meminta pasokan 1 kontainer isi 10.000—15.000 tanaman per bulan,” tutur Satari. Namun, pengiriman perdana pada Juli baru terpenuhi 1.500 tanaman.

Kebun-kebun baru pun bermunculan di Kediri, Malang, Tulungagung, Purbalingga, Semarang, dan Pontianak. Para pemain lama kembali melirik si lidah mertua. Sansevieria trifasciata lorentii, golden hahnii, gold fl ame, dan parva di kebun Venita Nursery di Bandung yang semula teronggok kini ditanam ulang dan terlihat terawat.

Musuh besar

Namun, gairah mengusahakan si lidah jin bukan tanpa kendala. “Sekarang menanam sansevieria harus siap bangkrut,” cetus Koko B Kusnanda, pekebun di Cisarua, Bogor. (baca: 48 Jam, Rp60-juta Melayang, halaman 104 ) Serangan bakteri Erwinia sp dan cendawan Fusarium sp meluluhlantakkan kebun Koko dalam hitungan hari.

Gejalanya, muncul bercak basah pada daun. Itulah tanda serangan erwinia. Begitu daun basah, fusarium pun ikut menginfeksi. Bercak kecokelatan yang perlahan melebar pun bermunculan. Penyakit serupa menyerang kebun-kebun lain.

Batu sandungan lain, persaingan di pasar dunia. “Sekarang barang dari Cina membanjiri pasar Korea,” kata Koko. Akibatnya sejak Mei permintaan kepada pemain lokal turun. Spesifi kasi yang diminta pun lebih ketat. Kalau semula lorentii setinggi 25 cm masih diterima, kini syarat minimum 50 cm.

Toh, itu tak menyurutkan langkah para pemain. Memasuki Oktober permintaan diperkirakan kembali normal. “Di Cina mulai musim dingin sehingga tanaman tidak bisa diproduksi,” lanjut Koko. Sementara di Indonesia lidah mertua bisa diusahakan sepanjang tahun. Peluang pasar ekspor pun dipercayatak terbatas. Terbukti masih banyak permintaan belum terpenuhi. Di tanahair, pasar lokal pun menggeliat. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Dewi Nurlovi, Hanni Sofi a, Laksita Wijayanti, Lastioro Anmi Tambunan, dan Rosy Nur Apriyanti)

48 Jam, Rp60-juta Melayang

Lahan seluas 1.000 m2 milik Koko B Kusnanda di Cisarua, Bogor, tak lagi terlihat indah. Sebanyak 6.000 lidah mertua jenis super ba yang semula tumbuh hijau royo-royo kini luluh-lantak kehilangan pesona. Sekujur daun terlihat lodoh seperti terkena siraman air panas.

Nestapa itu bermula dari munculnya bulatan cokelat dan basah pada beberapa helai daun. Tak diduga borok itu kemudian menyebar begitu cepat. Dalam hitungan 48 jam seluruh populasi di kebun terinfeksi. Akibatnya tak satu pun tanaman selamat. Padahal Koko tengah menanti panen untuk pengiriman pada pelanggan di Korea.

Katakanlah harga jual per tanaman Rp10.000, berarti kerugian pria tinggi besar itu mencapai Rp60-juta. Padahal harga futura—nama lain super ba—berkali lipat nilai itu. “Ibarat bangunan, sekarang ini di kebun tinggal puing-puing saja,” keluh kelahiran Karawang 9 September 1959 itu.

Duka serupa dirasakan seorang pekebun di Cianjur. Hanya dalam 2 malam beragam jenis sansevieria di lahan 2 ha terjangkit borok akibat serangan Erwinia sp dan Fusarium sp. Di sana Rp800-juta pun melayang dalam sekejap. Beragam cara dilakukan untuk mengatasi si pengganggu. Mulai dari penyemprotan bakterisida dan fungisida hingga pengobatan dengan mengoleskan kapur ke bagian yang sakit. Namun, hingga kini kedua musuh besar itu terus mengintai. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img