Wednesday, August 10, 2022

Aren si Emas Hijau

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Aren berfaedah untuk ketahanan pangan, energi, dan kesehatan.

1.pdf

Julukan untuk pohon aren amat mentereng: emas hijau. Itu karena semua bagian pohon Arenga pinnata itu bernilai ekonomi tinggi. Nilai ekonomi tertinggi aren berasal dari nira atau larutan hasil sadapan tandan mayang alias bunga aren. Para petani mengolah nira itu menjadi gula aren dalam bentuk balok atau gula semut—gula aren yang dihancurkan sehingga berukuran amat kecil bagai semut.

Untuk menghasilkan 1 kg gula aren, produsen di Garut, Jawa Barat, Jo Santosa, memerlukan 8 liter nira. Nira juga potensial menjadi bioetanol alias bahan bakar nabati. Pembuatan seliter bioetanol berkadar 90—99% membutuhkan 14 liter nira. Sementara industri farmasi dan kosmetik membutuhkan bioetanol berkadar 40% hasil penyulingan pertama.

Laba besar

Sekujur tubuh pohon aren berpotensi untuk ketahanan pangan, energi, dan kesehatan manusia.
Sekujur tubuh pohon aren berpotensi untuk ketahanan pangan, energi, dan kesehatan manusia.

Hasil penelitian Elsje T Tenda, Donata S Pandin, dan Ismail Maskromo dari Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado menyebutkan mengolah nira memberi keuntungan besar. Mengolah nira dari 160 tanaman aren genjah menjadi gula aren berpotensi menghasilkan keuntungan Rp14.580.000 per tahun. Sementara jika petani mengolah nira itu menjadi bioetanol berkadar 99% menghasilkan keuntungan Rp25.658.000 per tahun.

Olahan lain berupa nata pinnata—merujuk pada nama ilmiah aren, yakni Arenga pinnata. Menurut periset dari Balai Penelitian Kehutanan, Mody Lempang, pengolahan nira aren menjadi nata dengan penambahan 2,5 gram ZA per liter. Rendemen nata pinnata rata-rata 94,22%. Satu liter nira menghasilkan 900 gram nata. Nata pinnata mirip nata kelapa alias nata de coco berbahan air kelapa sebagai makanan pencuci mulut.

Mody menyebutkan nata pinnata mengandung 97,4% air, 0,82% serat, 0,15% protein, serta sedikit kandungan vitamin C, lemak, kalsium, dan fosfor. Menurut Abdul Kadir W dari Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Makassar, pengolahan nira aren menjadi nata pinnata mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Tandan aren yang tidak disadap akan membentuk buah yang juga memiliki nilai ekonomi. Bagian buah tanaman anggota Arecaceae yang paling bernilai ekonomi yaitu inti biji berwarna putih agak bening yang disebut kolang-kaling.

Kaya kalsium
Kolang-kaling bernilai ekonomi tinggi khususnya pada bulan Ramadan atau Juni mendatang. Harga kolang-kaling pada bulan ke-10 kalender komariyah itu mencapai Rp4.000 per kg; di luar bulan itu, Rp1.500 per kg. Sementara harga di luar sentra harganya bisa mencapai Rp16.000.

Salah satu nilai ekonomi terbesar aren berasal dari pengolahan nira menjadi gula.
Salah satu nilai ekonomi terbesar aren berasal dari pengolahan nira menjadi gula.

Menurut herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, kolang-kaling juga bermanfaat untuk kesehatan. “Kolang-kaling dapat menyimpan energi lebih lama sehingga baik untuk menekan nafsu makan bagi penderita obesitas,” ujar Lina. Konsumsi kolang-kaling juga baik untuk penderita osteoporosis sebab dalam 100 g kolang-kaling terkandung 91 mg kalsium. Selain biji buah, pelepah aren juga bermanfaat untuk kesehatan. Ekstrak pelepah aren berpotensi sebagai antioksidan.

Analisis aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa baik ekstrak etanol 70% maupun ekstrak etanol 96% pelepah aren berpotensi sebagai antioksidan alami. Sejatinya masih banyak potensi aren untuk kesehatan. Secara empiris, akar aren terbukti dapat meredakan sakit gigi, mengobati bronkitis, meluruhkan batu ginjal, dan meningkatkan kesehatan pria. Namun, untuk itu masih diperlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.

Ekspor ijuk
Ijuk yang membalut batang aren pun bernilai ekonomi. Komoditas itu mengisi pasar ekspor ke Korea Selatan dan India sebagai bahan baku serat atau fiber untuk jok kendaraan bermotor. Harga ijuk berkualitas ekspor Rp13.000 per kg. Adapun harga ijuk berkualitas sedang Rp3.000 per kg untuk penyapu lantai. Sementara ijuk berkualitas rendah Rp300—Rp700 per kg sebagai atap rumah adat, untuk pemijahan ikan, atau tanggul erosi.

1.pdfDaun pohon aren juga biasa berfaedah sebagai bahan atap rumah. Lembaran daun di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembaran daun aren pun kerap dipintal menjadi tali, sementara lidi berguna untuk bahan anyaman dan sapu. Bagian aren lain yang juga bermanfaat yaitu batang untuk diambil tepungnya.

Tepung aren berasal dari pohon berumur 8—10 tahun yang sedikit sekali atau sama sekali tidak menghasilkan nira. Harga pohon hanya Rp50.000—Rp100.000 per batang. Setiap batang menghasilkan 200 kg tepung basah. Untuk memproduksi tepung aren 1,5—2 ton memerlukan 6—10 batang aren per hari. Selain itu limbah pengolahan tepung berupa kulit kayu yang keras berpotensi sebagai bahan atap rumah seperti sirap.

Namun, pemanfaatan aren untuk diambil tepungnya merugikan karena pohon aren yang ditebang usianya sudah lebih dari 10 tahun. Selain itu harga jual tepung aren lebih rendah daripada harga jual gula aren. Fakta bahwa semua bagian aren berfaedah dan bernilai ekonomi tinggi itulah yang menyebabkan Arenga pinnata berjuluk emas hijau. (Eny Pujiastuti)

Previous articleDua Aren Istimewa
Next articleAtasi Lalat Buah
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img