Tuesday, August 9, 2022

Beras hitam: Lemak Jahat Tersingkir

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tepung beras hitam dan beras merah menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol jahat.

Pegal di sekujur tubuh, nyeri punggung, dan sakit kepala. Itulah tiga keluhan Siti Masriaturrohmah hampir setiap hari sejak pertengahan 2009. “Saya pikir hanya lelah bekerja,” kata warga Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Maklum kesibukan Siti—panggilannya—sebagai guru bahasa Inggris sekaligus ibu rumah tangga membuatnya gampang lelah. Untuk mengatasi keluhan itu, ia hanya mengoleskan minyak angin atau balsem saja. “Lumayan menenangkan meski hanya sesaat,” ujarnya.

Akibat rasa sakit yang kerap mendera, perempuan 44 tahun itu memeriksakan diri ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Dokter yang menangani menyarankannya untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar trigliserida Siti mencapai 360 mg/dl; kadar normal kurang dari 150 mg/dl. Trigliserida merupakan lemak sejati yang tersimpan dalam darah. Penderita trigliserida rentan obesitas. Kadar trigliserida yang melampaui ambang batas memicu penyempitan pembuluh darah.

Tekanan darah

Pada pengujung 2010, Siti kembali memeriksakan diri ke dokter. Hasil laboratorium menunjukkan kadar trigliserida turun beberapa poin. Yang naik justru kadar LDL (low density lipoprotein) alias kolesterol jahat. Disebut jahat sebab kolesterol itu menempel pada pembuluh darah, menyebabkan penumpukan lemak dan menyumbat pembuluh darah alias aterosklerosis.

Kadar trigliserida dan LDL  yang melambung menjauhi angka normal menjadi tolak ukur kemunculan penyakit hipertensi, jantung koroner, dan stroke. Sayang, Siti lupa berapa kadar LDL saat itu. “Pantas frekuensi pegal dan sakit kepala semakin sering,” katanya. Menurut dokter dan herbalis di Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Banten, dr Prapti Utami, kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah dapat menyebabkan pegal dan sakit kepala.

Hasil laboratorium itu tidak serta-merta membuat Siti mengonsumsi obat. Yang ia lakukan adalah mengurangi konsumsi makanan berlemak seperti daging, jeroan, telur, dan makanan berminyak. “Diet makanan rendah lemak sudah saya lakukan sejak hasil laboratorium pertama,” katanya. Upaya lain, ia rutin berolahraga, jalan pagi keliling kampung setiap pagi dan senam tiga kali sepekan.

Barulah pada November 2011, Siti menyadari bahaya yang mengintai. Saat itu ia sedang hamil muda. “Saya khawatir kalau tiba-tiba terserang penyakit jantung atau stroke,” katanya. Apalagi saat memeriksakan kondisi  kehamilan di dokter kandungan, tekanan darah Siti pun naik menjadi 130 mmHg, normalnya 120/80 mmHg. “Pembuluh darah bisa pecah saat mengejan kalau tekanan darah tinggi,” katanya menirukan ucapan dokter. Oleh sebab itu, ibu hamil pengidap hipertensi disarankan menjalani operasi saat melahirkan.

Keinginan Siti untuk mengembalikan kadar kolesterol, trigliserida, dan tekanan darah begitu kuat meski tanpa bantuan obat kimia. “Saya ingin menempuh kesembuhan dengan jalan herbal saja,” katanya. Atas saran sang adik, Siti akhirnya mengonsumsi tepung beras hitam dan merah. “Adik saya hanya bilang tepung itu bagus untuk kesehatan tubuh. Apalagi dari tanaman organik,” katanya. Sang adik bekerja sebagai pemasok beras merah dan beras hitam di Malang, Provinsi Jawa Timur.

Turun

Siti mengonsumsi tepung itu sebagai pengganti sarapan. Setiap pagi ia menuang 2 sendok makan tepung beras hitam atau beras merah ke dalam mangkuk lantas menyiramnya dengan segelas air mendidih. Sarjana bahasa Inggris alumnus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendididkan (STKIP) PGRI itu juga mengonsumsi air seduhan campuran beras hitam dan merah. “Saya memasukkan tepung beras merah dan hitam masing-masing satu sendok dalam segelas air lalu menyeduhnya dengan 200 ml air hangat,” ujar Siti.

Ia rutin meminumnya setiap hari. Sebulan setelah rutin mengonsumsi beras hitam atau beras merah serta air seduhan campuran beras hitam dan merah, sakit kepala dan pegal yang kerap mendera perlahan hilang. Tekanan darah pun kembali normal. “Tubuh juga lebih segar dan bugar,” kata Siti. Sejak saat itu, sereal beras hitam atau merah menjadi menu wajib baginya. Air seduhan yang semula hanya diminum segelas setiap hari pun ia tambah menjadi dua gelas.

Sayang selama masa kehamilan, ia tidak menjalani tes laboratorium untuk mengetahui kadar trigliserida dan kolesterol jahat.  Akhirnya pada Juni 2013, Siti kembali menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kondisi tubuhnya. Hasilnya menggembirakan, kadar trigliserida turun menjadi 129 mg/dl, sedangkan kadar kolesterol jahat menjadi 90,4 mg/dl; normalnya kurang dari 150 mg/dl.

Secara ilmiah beras merah dan hitam memang berkhasiat menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh. Xiao Dong Xia dari dari Departemen Ilmu Gizi, Sekolah Kedokteran, Universitas Sun Yat Sen, Tiongkok, mengungkapkan bahwa beras hitam kaya antioksidan seperti sianidin-3-glukosida dan peonidin-3-glukosida. Xia Dong Xia menguji khasiat beras hitam menggunakan hewan uji berupa 30 mencit jantan yang menderita arterosklerosis.

Ia membagi mencit-mencit itu menjadi 3 kelompok yakni kontrol positif, negatif, dan perlakuan. Pada kelompok kontrol positif mencit mengonsumsi pakan, sedangkan kelompok kontrol negatif mengonsumsi obat penurun kolesterol golongan statin 50 mg per kg bobot tubuh. Sementara kelompok perlakuan mengonsumsi ekstrak beras hitam 300 mg per kg bobot tubuh. Lima bulan berselang, kelompok mencit yang mengonsumsi obat dan ekstrak beras hitam mengalami penurunan penumpukan lemak dalam pembuluh darah. Menurut Xia antosianin pada beras hitam mampu mengurangi jumlah LDL dan trigliserida dalam darah, serta menaikkan HDL.

Untuk khasiat beras merah, penelitian dari rekan Xiao Dong Xia, Wen Hua Ling mengungkap orang yang mengasup 30 gram beras  merah setiap hari selama 10 minggu, nilai plak arteriosklerosis pada aorta turun 50% dibanding konsumen nasi putih.

Meski kondisi Siti membaik sampai sekarang ia masih rutin mengonsumsi tepung beras hitam dan merah. Yang lebih menggembirakan, benjolan sebesar telur ayam di leher sebelah kanan yang bersarang sejak Siti berusia 25 tahun pun sirna. Sayang, Siti tidak memeriksakan diri ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengetahui jenis benjolan itu. (Andari Titisari/Peliput: Lutfi Kurniawan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img