Friday, December 9, 2022

Bila Liukan Koi Menggoda Mereka

Rekomendasi

Pemasok mesin dan alat berat di Jakarta Barat itu pun lekas terbang ke Tokyo. Dari Bandara Internasional Narita ia melanjutkan perjalanan ke selatan. Sejam lamanya dihabiskan untuk menempuh jarak sekitar 100 km sebelum akhirnya tiba di sebuah farm.

Begitulah Susanto Leo. Dipisahkan jarak ribuan kilometer tak melunturkan kegemarannya menyambangi koi-koi koleksinya. Setidaknya 2 kali setahun bos PT Wira Mustika Indah itu melampiaskan hobi menikmati liukan kerabat ikan mas.

Puluhan koi jenis kohaku, sanke, dan showa berukuran 40—70 cm yang dibeli di Jepang tidak serta-merta diboyong pulang. Cassius auratus seharga puluhan hingga ratusan juta rupiah itu diinapkan dulu sampai penampilannya benar-benar prima. Untuk itu kelahiran Medan 60 tahun silam itu merogoh kocek lebih dari Rp100-juta setahun.

“Kalau dipelihara di sana warna dan tubuhnya jadi sangat bagus,”ucap penggemar herder yang baru 3 tahun kepincut koi itu. Layaknya orang tua yang anaknya indekos, kurang afdol seandainya terus-menerus memantau hanya lewat telepon. Apalagi jika rindu menyergap. Laporan sang pengasuh koi pun tak bisa menuntaskan, kecuali langsung menjenguk.

Kolam raksasa

Rumah bak istana di kawasan Tomang, Jakarta Barat, sejak setahun lalu dibangun kolam berkapasitas 50 ton berkedalaman 2,2 m. Susanto, pemilik rumah, menaruh 40 gosanke berukuran di atas 30 cm. Pembangunan kolam itu merupakan kelanjutan dari total 11 kolam yang telah dibangun sejak 2 tahun silam. Kolamkolam itu terletak persis di samping rumah.

Di sana kolam terbesar berkapasitas 150 ton. Yang lain bervariasi antara 5—20 ton. Di masing-masing kolam diisi sekitar 100 koi. Seluruhnya diimpor dari Miyajima Koi Farm di Jepang. Mereka menghuni kolam berdasarkan ukuran dan kualitas. Kolam kapasitas 150 ton, misalnya, menampung koi berukuran 70—80 cm berkualitas A.

Pengerjaan kolam-kolam bergaya jepang itu dipandu langsung oleh 2 tenaga ahli dari Nipon. Perlu 3 bulan untuk membuat seluruh kolam sampai siap huni. Soal dana yang dicemplungkan, Susanto enggan menyebut. Namun, sebagai contoh di salah satu sisi kolam berdiri filter canggih seharga ratusan juta rupiah yang konon satu-satunya di Indonesia.

Bercengkerama bersama koi dilakoni ayah 2 putra itu selama 2 jam sebelum berangkat ke kantor. Selain menyodorkan pakan, ia pun mengecek kondisi air dibantu pegawainya. Aktivitas terulang saat istirahat siang. Kala bel istirahat berdering, jika tak menjamu relasi bisnis, BMW biru seri 7 segera meluncur kembali ke kolam koi. ”Sekalian membuang stres,” ujar pria ramah itu.

Kelak untuk menyambut kedatangan koi-koi yang telah “bersekolah” di Jepang, sepetak lahan di Cipayung, Kabupaten Bogor, dibangun kolam raksasa berkapasitas 1.000 ton berkedalaman 2 m. Lokasi di daerah Puncak itu dipilih karena ada kemiripan dengan air di Jepang, suhu sekitar 20—22ºC. Untuk sementara kolam yang didirikan setahun lalu itu diisi oleh puluhan koi berukuran rata-rata 45 cm.

Sampai ke kantor

Yang tak kalah gandrung dengan koi adalah Sutrisno BSc. Bos CV Semarang Inti Foam dan CV Semarang Fleksibel Foam itu tak segan membangun kolam berkapasitas 30 ton berkedalaman 2 m di kompleks Semarang Indah. Kolam itu tampil cantik karena dipadu dengan taman bergaya tropis di halaman belakang. Di atasnya berdiri gazebo untuk menikmati keindahan koi. Filter berisi pasir kuarsa dan karbon aktif yang dioperasikan 24 jam melengkapinya. Air terlihat jernih berkat instalasi seharga Rp25-juta.

 

Tak hanya di rumah, kenikmatan melihat dan memelihara koi ikut menjalar sampai ke kantor. Tidak tanggung-tanggung, penyuka mobil BMW dan Toyota Prado itu membangun 5 kolam koi di kantornya di kawasan Mangkang. Masing-masing kolam berkapasitas 75—110 ton berkedalaman 2 , 7 m . U n t u k membuatnya, Sutrisno mempercayakan pada Surya Koi Center di Surabaya.

“Ongkos buat 1 m3 saja mencapai Rp750.000,“ ucap alumnus Malibu Businness and Administration di Amerika Serikat itu. Kolam itu dirancang khusus antikuras memanfaatkan gravitasi dengan fi lter backwash sistem up-down berisi kulit titram, bioball, zeolit, dan batu han se ki. Filter dilengkapi pompa berkekuatan 2 tenaga kuda yang beroperasi 24 jam.

Bentuk kolam bergaya jepang dengan dominasi batu alam dari Pacitan. Agar cantik talas-talasan, pandan bali, pandan kuning, dan beringin ditanam di tepian kolam. Kolam pun menjadi berwarna. “Batu cokelat, tanaman hijau dan kuning. Merahnya diambil dari koi. Menurut feng shui, merah itu api pemberi energi,” ujar penggemar batu cincin itu. Total jenderal Rp1-miliar digelontorkan untuk pembangunan kolam, filter, dan ornamen taman.

Seharga Rp250-juta

“Saya suka koi ngga sengaja,” ujar ayah anak kembar Jayson dan Jonathan itu. Saat taman dan kolam dibangun, tukang tamannya meletakkan koi sebagai pengisi kolam. Setelah beberapa waktu, kelahiran Semarang 43 tahun silam itu jatuh cinta.

Kini 200 koi memanjakan indera pengelihatannya. Jenisnya didominasi kohaku, sanke, dan showa yang didatangkan langsung dari Negeri Matahari Terbit. Maklum setahun sekali berkunjung ke Jepang selalu diagendakan. Terutama Oktober saat panen koi dilakukan.

Koi termahal yang ia punyai mencapai Rp250-juta yang dibeli dari Matsuno Sake Farm. Kualitasnya benar-benar prima. “Hi (merah) padat, shumi (hitam) padat, besar, dan dominan. Kiwanya jelas benar,” ujarnya. Ia jatuh hati saat berkunjung ke Jepang belum lama ini. Sekitar 40 ekor lainnya jika ditaksir mencapai Rp1,5- miliar

Menurut Sutrisno koi memiliki arti mendalam di kehidupannya. Di samping menghilangkan stres ikan tubuh berpola itu mendatangkan kepuasan batin. “Bahkan bisa mendatangkan kekuatan sehari-hari. Sulit untuk digambarkan,” tuturnya

Masuk komputer

Setali tiga uang dengan Ayi Wiratman. Lelaki berperawakan langsing itu tampak sibuk memelototi layar monitor komputer. Bukan asyik bermain, bos perusahaan penyedia alat water treatment di Bandung itu asyik mengamati foto-foto koi seperti kohaku, tancho, dan showa yang baru tiba dari Jepang.

“Ini untuk arsip. Data ini berisi asal penangkar, umur dan tahun ketika ikan dibeli,” ucap ayah 4 putra itu kepada Prita Windyastuti dari Trubus. Mereka semua ditampung di 6 kolam berkapasitas 32—170 ton yang dibangun 1,5 tahun lalu di kawasan Dago, Bandung Utara. Kolam persegi panjang itu dipasangi fi lter yang ditutup kayu ubin berlubang. Tepat di atas fi lter dipasang beberapa kursi kayu yang dilengkapi bar mini. Di sana Ayi kadangkala ditemani relasi bisnis samasama menikmati keindahan koi.

Sudah banyak dana tersedot sejak ia menekuni koi pada 1990-an. Untuk membuat sebuah kolam saja butuh biaya Rp140- juta—Rp210-juta. Itu belum termasuk filter dan ikan. Salah satu ikan termahal mencapai Rp300-juta.

Mengindekoskan koi seperti Susanto Leo pernah diterapkan di pertengahan 1990-an. Beberapa ikan berumur setahun yang sudah dibeli dititipkan selama setahun. “Ingin mencoba apakah ada perbedaan setelah besar. Ternyata memang ada,” ucap pria yang mengaku hanya lulusan SMA itu. Untuk menuntaskan keingintahuan itu berlembar-lembar rupiah dikucurkan. Hasilnya salah satu koi menjadi juara di salah satu kelas di All Japan Combained pada 1999.

Bagi Ayi memelihara koi harus tahan banting. Ada saja musibah yang bisa melenyapkan nyawa sang klangenan. Saat pertama kali menekuni, dari 1.000 koi yang dibeli 900 ekor di antaranya meregang nyawa. Bahkan seekor koi seharga lebih dari Rp30-juta bernasib serupa gara-gara loncat ke darat. Toh keinginan untuk memelihara klangenan asal Jepang itu tak pernah pudar. “Koi itu selalu indah,” ucapnya. Mungkin nilai itu pula yang membuat banyak kolektor gandrung koi. (Dian Adijaya S/Peliput: Destika Cahyana dan Prita Windyastuti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img