Dua puluh pohon jabon berumur setahun delapan bulan itu menjulang hingga 8 m, diameter batang 18 – 20 cm. Lazimnya 6,5 m dan 12 – 13 cm. Pohon bongsor berkat amputasi akar
Itu pemandangan di kebun Sugiarto Budiono di Sentul, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Selain 20 pohon itu, ada juga 25 jabon berumur setahun 4 bulan yang tumbuh menjulang, tinggi 7 m dengan diamater batang 10 – 12 cm. Sugiarto memang memperlakukan bibit Anthocephalus cadamba itu berbeda dengan pohon lain yang berumur sama. Pekebun 47 tahun itu memotong akar tunggang ke-45 bibit sebelum penanaman. Pemotongan ketika bibit setinggi 10 – 15 cm; bibit siap tanam di lahan rata-rata setinggi 30 – 40 cm (lihat infografis: Mari Potong Akar).
Sugiarto memotong akar tunggang jabon sejak 2 tahun silam. Importir ikan koi itu memenggal akar bibit asal biji, terdiri atas 5 daun, dan tinggi batang 10 cm. Lalu ia mencelupkannya ke dalam hormon perangsang akar sebelum ditanam di polibag. Media tanam berupa campuran media tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang, dengan perbandingan masing-masing satu bagian.
Keberhasilan 90%
Ia meletakkan bibit di tempat khusus beratapkan jaring peneduh berkerapatan 75%. Di sana bibit disungkup komunal dengan plastik transparan hingga muncul tunas baru, sekitar satu bulan kemudian. Penyiraman setiap 1 – 2 hari sekali atau pada saat kering untuk menjaga kelembapan di atas 80%. Kemudian Sugiarto mengadaptasikan bibit dengan cara membuka sungkup plastik secara bertahap dan menggantinya dengan jaring peneduh berkerapatan 75%. Proses adaptasi berlangsung 2 – 4 bulan. Setelah kuat, bibit siap tanam di lahan.
Teknik penggal akar memiliki tingkat keberhasilan hingga 90%. “Tergantung penanganannya, jika jorok pada saat pemotongan, maka banyak yang mati karena infeksi,” kata Sugiarto. Oleh karena itu pisau harus steril, yaitu cuci pakai alkohol sebelum digunakan. Media tanam pun sebaiknya disemprot fungisida agar terbebas dari cendawan.
Sugiarto mengamputasi akar bibit karena ingin pertumbuhan tanaman anggota famili Rubiaceae itu lebih cepat. Ia memperoleh informasi dari Ir Sri Danarto MAgr, dosen di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, pada 2008. Ketika itu Sugiarto berencana mengebunkan jarak pagar di Nusa Tenggara Timur. Pria kelahiran Semarang itu pun langsung mempraktekkan teknik penggal akar pada 2-juta bibit jarak pagar. “Pertumbuhan tanaman bagus, tapi tidak maksimal karena kekurangan air,” katanya.
Cepat panen
Sugiarto pun beralih ke jabon dan menerapkan teknik yang sama total pada 14.500 bibit pohon kerabat kopi itu. Penanaman tersebar di Garut Selatan, Bogor, dan Waingapu. Di Waingapu, Nusa Tenggara Timut, misalnya, bibit-bibit kini menjelma menjadi pohon berumur setahun yang menggapai langit. Tinggi pohon rata-rata 4 – 5 meter dan diameter 7 cm. Pertumbuhan bongsor itu membuat Sugiarto optimis bahwa panen pohon kerabat mengkudu bakal lebih cepat. “Kalau biasanya jabon dipanen pada umur 5 – 7 tahun, maka dengan pemotongan akar tunggang panen bisa lebih cepat, umur 3 – 5 tahun,” ujarnya. Kualitas kayu jabon yang dihasilkan pun setara dengan kayu berumur 5 – 7 tahun.
Menurut Ir Edhi Sandra MSi, ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), pemotongan akar tunggang merupakan teknik lama, tetapi pekebun jarang menggunakan. Sebab, pekebun khawatir pohon mudah tumbang lantaran tidak memiliki perakaran yang kuat. Padahal, tujuan pekebun memperbanyak tanaman dari biji untuk mendapatkan perakaran kuat. “Pemotongan akar bisa dilakukan untuk semua tanaman yang tidak memerlukan perakaran yang kuat,” katanya.
Dr Ir Irdika Mansur MForSc, ahli jabon dari IPB, mengatakan teknik penggal akar pernah digunakan pada sengon dan jati. “Namun, saya belum pernah menemukan di jabon. Jabon, tanaman yang akarnya sensitif sehingga jika akar tunggangnya diganggu dikhawatirkan akan membahayakan tanaman. Karena akar merupakan pusat dari tanaman untuk menyerap unsur hara,” ujarnya. Meski demikian, bukan berarti teknik amputasi akar tidak pas untuk jabon. “Untuk itu perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu,” katanya.
Namun, menurut Sugiarto panen jabon yang relatif singkat mendorong ia untuk mengamputasi akar. Toh, tanpa akar tunggang pun bukan masalah karena pohon kerabat kopi itu termasuk pohon genjah yang cepat panen. Pekebun menebang jabon pada umur 5 tahun. Waktu panen bahkan lebih singkat lagi dengan penggal akar.
Hormon
Edhi Sandra menjelaskan pemotongan akar tunggang mendorong tanaman membentuk akar baru dalam jumlah lebih banyak. Apalagi jika pekebun menambahkan hormon perangsang akar. “Akar jadi lebih cepat muncul dan jumlahnya pun lebih banyak daripada yang tidak diberi perangsang,” katanya. Pertumbuhan akar bisa 2 kali lipat lebih cepat.
Untuk merangsang akar, umumnya pekebun menggunakan zat perangsang tumbuh (ZPT) yang mengandung hormon auksin. Auksin banyak terdapat pada tunas dan bermanfaat mempercepat pembelahan dan pembesaran sel, serta pembentukan akar. Berdasarkan bahan pembentuknya, terdapat 2 jenis auksin, yakni alami dan sintetis. Auksin alami adalah asam indole asetat (IAA) dan sintetis, seperti asam indolbutirat (IBA), asam naftalenasetat (NAA), asam beta-naftoksiasetat (BNOA), asam 2,4-diklorofenoksiasetat (2,4-D), dan asam 4-klorofenoksiasetat (4-CPA).
IAA auksin bersumber dari tanaman. Daya kerjanya kurang optimal untuk mempercepat perakaran sehingga petani jarang menggunakan. Sementara IBA dan NAA terbuat dari bahan kimia dan sangat optimal mempercepat pemunculan akar. Hanya saja harga IBA lebih mahal daripada NAA sehingga jarang digunakan. “Oleh karena itu NAA paling sering digunakan di produk ZPT yang dijual di pasaran,” kata kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, itu.
Untuk mempercepat pertumbuhan pohon, Edhi menyarankan agar pekebun menggunakan ZPT yang mengandung auksin, giberelin, dan sitokinin. “Jumlah giberelin dan sitokinin maksimal 30% dari total bahan,” katanya. Hormon giberelin berfungsi untuk memacu buah dan bunga. “Namun, jika dosis kecil, maka giberelin bermanfaat untuk pembelahan sel dan hal itu turut mempercepat proses pertumbuhan,” ujar master Ilmu Pengetahuan Kehutanan alumnus IPB, itu. Sitokinin memacu perumbuhan tunas. Bagian tanaman yang menghasilkan hormon sitokinin ada pada ujung-ujung akar.
Setelah pemotongan akar tunggal jabon, akar baru muncul dari bagian kambium bekas potongan. Kambium membentuk kalus yang selanjutnya menjadi akar. “Semakin banyak jumlah akar, semakin banyak pula hormon sitokinin yang dihasilkan sehingga tunas semakin cepat tumbuh. Dengan begitu produksi hormon auksin di tunas kian banyak sehingga akar tumbuh lebih cepat dan banyak. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya pertumbuhan pohon jadi lebih cepat,” jelas Edhi.
Pemupukan
Selain pemotongan, Ir Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, menyarankan pertambahan akar itu harus dibarengi dengan pemupukan. “Akar banyak, maka makannya pun semakin rakus. Untuk itu harus diberi nutrisi yang cukup,” katanya. Sebulan setelah tanam di lahan, Sugiarto memberi 150 g pupuk NPK/bibit. Pemupukan selanjutnya setiap 3 – 4 bulan dengan dosis semakin meningkat. “Pemupukan kedua 200 g/pohon tergantung tanahnya. Kalau tanahnya sudah kaya hara seperti di Pulau Jawa cukup 200 g/pohon, tetapi di Nusa Tenggara Timur sebanyak 300 g per pohon. “Di sana tanahnya gersang dan setelah dites kandungan NPK rendah,” kata Sugiarto.
Dengan penggal akar dan perawatan intensif, jabon tumbuh lebih cepat dan waktu panen pun singkat. Jabon terkenal sebagai pohon yang pertumbuhannya cepat, yaitu 3 m per tahun dengan penambahan diameter batang 7 cm per tahun pada 8 tahun pertama. Amputasi akar memacu pertumbuhan jabon rata-rata bisa 30% – 50% lebih cepat ketimbang tanpa amputasi.
Pupuk N (nitrogen) bermanfaat dalam pembentukan sel, P (fosfor) berperan sebagai bahan bangunan dinding sel sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, sementara K (kalium) mengatur beberapa proses fisiologis dalam tanaman. Gunakan pupuk nitrogen dalam bentuk nitrat. Hasilnya sel berukuran agak kecil, tetapi sitoplasmanya kompak dan padat. Dengan begitu tanaman lebih tahan terhadap serangan penyakit. Sebaliknya, hindari pemberian pupuk N dalam bentuk urea dan amonium. Keduanya membentuk sel berukuran besar sehingga tanaman tumbuh dengan pesat. Di sisi lain, pembesaran sel menyebabkan dinding sel tipis sehingga cendawan mudah masuk. Akibatnya tanaman rentan terhadap serangan penyakit.
Pemberian kalsium, seperti dolomit, juga dianjurkan. “Kalsium mempengaruhi pembelahan sel, perpanjangan sel, dan diversifikasi sel,” ujar Yos. Unsur kalsium berpengaruh pada meristem atau titik tumbuh di ujung akar sehingga volume perakaran bertambah yang akhirnya dapat memacu pertumbuhan jabon.
Pemberian dolomit cukup 100 g/m2/tahun. “Benamkan dolomit di zona perakaran. Kalsium termasuk unsur yang tidak dapat bergerak. Jadi jika ditabur di atas tanah, maka ia tak bisa turun alias masuk ke dalam tanah sehingga akar tak bisa menyerap,” kata Yos. Pemupukan NPK sebaiknya dilakukan dalam bentuk parabola. Misalnya pemupukan pertama sebanyak 150 g/pohon, selang 3 – 4 bulan 300 g/pohon, dan seterusnya hingga percepatan tumbuh pohon mencapai titik maksimal. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Bondan Setyawan)
Mari
Potong Akar
1. Siapkan bibit jabon sehat asal biji yang batangnya telah terbentuk dan memiliki setidaknya 5 helai daun.
2. Cabut bibit dari media, bersihkan akar tunggangnya lalu potong. Kurangi setiap daun menjadi separuh untuk mencegah penguapan berlebih.
3. Celupkan segera bibit ke dalam zat perangsang akar mulai dari pangkal batang ke bawah atau bagian yang akan dikubur ke media
4. Tanam bibit di polibag berisi campuran media tanam tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan masing-masing 1 bagian.
5. Sungkup bibit dengan plastik transparan selama sebulan atau hingga muncul tunas baru.
6. Adaptasikan bibit dengan mengganti plastik dengan jaring peneduh berkerapan 75%
7. Bibit dengan pemotongan akar siap tanam di lahan selang 1,5–2 bulan setelah disungkup
Sirna Satu
Tumbuh Seribu
Bekas potongan akar
Kambium membentuk kalus
lalu tumbuh menjadi akar
Riap tumbuh jabon 7 cm per tahun
Tanaman jabon asal bibit yang diamputasi tumbuh bongsor
Sugiarto Budiono, memenggal akar jabon sejak 2 tahun silam. Pohon di sisinya pada 6 Januari 2011 berumur 16 bulan
Semakin banyak akar, kian banyak hormon sitokinin yang dihasilkan sehingga tanaman tumbuh cepat
Potong akar dilakukan pada bibit asal biji setinggi 10–15 cm
Dolomit bermanfaat menambah volume perakaran
