Pemulia yang membidani kelahiran ayam kampung bongsor dan hemat pakan. Pendapatan puluhan juta rupiah per bulan.
Perlu waktu sebulan bagi ayam pedaging itu untuk mencapai bobot 1,2 kg. Lazimnya untuk mencapai bobot yang sama ayam kampung memerlukan 3—4 bulan. Itulah kelebihan ayam gorila—karena bongsor—hasil rakitan Candra Rianto. Pemuda dari Deliserdang, Sumatera Utara, itu mengatakan, konsumsi pakan ayam gorila juga irit. Rasio konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR) ayam gorila hanya 1,8—2,2, sedangkan ayam kampung 3—3,5.

Kini Candra memiliki 100 induk ayam gorila produktif. Produktivitas mencapai 50%. Ia menjual rata-rata 20—30 telur per hari. Harga jual Rp35.000 per butir setara Rp700.000—Rp1.050.000 sehari. Candra mengatakan, peternak ayam di berbagai wilayah di Indonesia mengenal ayam gorila. Peternak di Papua juga membesarkan ayam hasil persilangan ayam kampung aseel sebagai induk jantan dan broiler. Ia juga menyilangkan keturunannya (cross back) dengan ayam petelur plymouth rock.
Ayam modif
Menurut Candra, “Kendala beternak ayam di Papua pakan sangat mahal, bisa 5 kali lipat harga pulau Jawa atau Sumatera. Kalau mereka membesarkan ayam lokal, tidak bisa untung karena ayam lokal sangat lama besarnya.” Selain ayam gorila, Candra juga merakit ayam kampung dengan kemampuan bertelur layaknya ayam petelur atau layer. Pemulia ayam kampung sejak 2009 itu menamakannya ayam layer modif.
Keunggulan ayam layer modif produktivitas lebih tinggi daripada ayam kampung dan hampir setara ayam petelur komersial. Ayam modif bertelur pada umur 1—6 tahun dan menjadi indukan ayam kampung. Perawakan anakan layer modif sama persis seperti ayam kampung. “Ayam layer modif mengurangi permasalahan di daerah yang kekurangan day old chick (DOC) atau anak ayam, karena ayam kampung telurnya sedikit,” kata Candra.
Pemuda 25 tahun itu merilis ayam modif pada 2019. Pasar menerima ayam baru itu. Buktinya permintaan kutuk atau anak ayam baru menetas mencapai 400 ekor per pekan. Harga 100 ekor kutuk Rp2,3 juta atau Rp23.000 per ekor. Bandingkan dengan harga DOC ayam kampung Rp7.000—Rp10.000 tergantung daerahnya. Konsumennya berasal dari berbagai kota seperti Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Pontianak (Kalimantan Barat), dan Kabupaten Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat).
Ia membutuhkan tujuh tahun untuk merakit ayam-ayam persilangan kampung dengan jenis-jenis tertentu lainnya supaya mencapai kriteria yang diinginkan. Pada dasarnya, Candra merakit ayam kampung untuk mengatasi permasalahan peternak.Kedua orang tuanya dahulu juga memelihara ayam kampung. Namun, pemeliharaanya tidak efisien. “Saya ingin mengelola peternakan ayam yang benar-benar membantu meningkatkan ekonomi, efisien pakan, perawatan, serta harga yang tinggi,” kata pria alumnus SMK Putra Anda Binjai itu.

Meski latar pendidikan bukan dari peternakan, Candra aktif belajar secara otodidak mengenai pemuliaan dan genetika ternak ayam. Ia aktif mengikuti perkembangan informasi pada grup internasional di media sosial para pemulia ayam, membaca jurnal-jurnal internasional, bahkan bertanya pada dosen-dosen yang mengajar di bidang peternakan ayam. Bisa dibilang Candra cukup nekat, dan kenekatannya sempat menyebabkan kerugian.
Setop antibiotik
Tak selamanya upaya Candra berjalan mulus. Semula ia belum mengetahui pentingnya memvaksin ternak. Itulah sebabnya puluhan ayamnya terserang penyakit sehingga banyak yang mati. Celakanya di antara ayam yang mati itu terdapat ayam-ayam hasil persilangan dan seleksi bertahun-tahun. Kesulitan lain, menanggung biaya pakan indukan selama proses persilangan.
Candra menuturkan, lebih efektif memastikan kandang tidak terkontaminasi organisme patogen daripada menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik berulang-ulang menyebabkan patogen berubah menjadi resisten sehingga dosis antibiotik harus ditingkatkan. Candra ingin memusnahkan bakteri patogen dengan memaksimalkan bakteri-bakteri baik di lingkungan kandang.
Caranya dengan mengembangkan probiotik untuk ternak ayam dan lingkungannya. Ia menamakannya bakteri zet. Candra mencoba mengaplikasikan artikel-artikel ilmiah mengenai probiotik untuk ternak ayam, contohnya ia mengambil isolat bakteri dari tanah bambu dan jerami. Anak ke-2 dari 3 bersaudara itu menggunakan bakteri zet pada pakan, minuman, serta disemprotkan di lingkungan kandang.
Probiotik akan memecah nutrisi pakan supaya lebih mudah dicerna ketika proses fermentasi selama semalam. Adapun ketika dikonsumsi membantu pencernaan ayam supaya lebih optimal mencerna pakan. Biasanya ayam hanya 60% mencerna nutrisi dari pakan, dengan bantuan probiotik dapat meningkat hingga 90%. Akibatnya feses ayam sudah tidak mengandung nutrisi sehingga kering dan tidak berbau. Selain itu produksi telur meningkat 30%. (Tamara Yunike)
