Upaya meningkatkan sistem kekebalan tubuh di tengah pandemi virus korona dengan rutin mengonsumsi minuman secang.
Trubus — Namanya wedang uwuh, tetapi rasanya amat lezat. Minuman itu antara lain terdiri atas daun cengkih, rimpang jahe, dan kulit pohon secang, sama sekali tanpa sampah. Uwuh dalam bahasa Jawa bermakna sampah dan wedang berarti minuman. Seduhan air mendidih menyebabkan air berubah kemerahan karena pengaruh kayu secang Caesalpinia sappan. Masyarakat lazim mengonsumsi seduhan wedang uwuh untuk menghangatkan tubuh.
Kayu secang—juga disebut kayu brasil atau kayu sapan—terbukti secara ilmiah meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Mengonsumsi seduhan kayu secang atau wedang uwuh secar atidak langsung juga meningkatkan kekebalan tubuh di tengah wabah virus korona. Salah satu senyawa yang terkandung dalam kayu secang adalah brazilin. Senyawa itu merupakan yang paling banyak terkandung dalam kayu secang.
Terbukti ilmiah
Riset terbaru oleh Rohmad Yudi Utomo dan rekan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada menunjukkan senyawa brazilin dari kayu secang menjadi salah satu senyawa yang potensial dalam menghambat inisiasi infeksi Corona virus disease 2019 (Covid-19). Riset itu menggunakan metode molekular model atau pemodelan berbasis komputer. Menurut Rohmad senyawa brazilin memiliki interaksi yang baik dalam menghambat infeksi virus ke sel inang.
Aktivitas yang sama tidak hanya dilakukan oleh brazilin tetapi juga fenilpropana yang terkandung di dalam lengkuas Alpinia galanga. Alfita Yan Kusuma dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya juga melakukan riset terkait secang. Alfita menambahkan ekstrak kayu secang ke dalam plain yoghurt. Hasilnya penambahan ekstrak kayu secang membuat zona hambat bakteri makin besar.

Artinya penambahan ekstrak kayu secang membantu meningkatkan efektivitas yoghurt sebagai antimikrob. Pengujian Alfita berupa uji aktivitas mikroba terhadap kultur yoghurt dengan kertas cakram. Menurut Alfita konsentrasi ekstrak kayu secang ke dalam yoghurt maksimal 20%. Total bakteri asam laktat (BAL) yang terkandung memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) yakni 107CFU/ml.
Menurut riset Nilesh P. Nirmal dan rekan dari Pusat Pangan dan Nutrisi, University of Queensland, Australia, beberapa studi ilmiah menyatakan brazilin bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antiphotoaging, aktivitas hipoglikemik, vasorelaksan, hepatoprotektif, dan anti jerawat. Selain itu brazilin berperan menghambat pertumbuhan sel kanker.
Febriyenti dan rekan Fakultas Farmasi Universitas Andalas juga meriset hal yang sama. Hasil riset menunjukkan ekstrak kayu secang memiliki aktivitas antioksidan. Mereka menyatakan, brazilin memiliki gugus hidroksi yang banyak. Makin banyak gugus hidroksi akan makin tinggi aktivitas antioksidan suatu senyawa. Gugus hidroksi yang dimiliki brazilin bertugas mendonorkan atom H pada radikal bebas. Artinya radikal bebas menjadi berpasangan yang mengakibatkan menurunnya aktivitas atau menjadi kurang reaktif.
Khasiat antikanker

Menurut Nirmal brazilin senyawa alami yang aman dan berpotensi untuk dikembangkan dalam industri makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi. Penelitian aktivitas brazilin untuk antioksidan menunjukkan hasil yang baik. Brazilin menunjukkan aktivitas pembersihan radikal tertinggi. Pengujian menggunakan metode 1,1- difenil-2-pikrihidazil (DPPH) yakni pengujian yang didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen.
DPPH merupakan senyawa radikal bebas yang stabil. Perizet lazim menggunakannya sebagai pereaksi dalam uji penangkapan radikal bebas. DPPH akan menjadi ungu kemerahan bila terdapat aktivitas antioksidan. Hal itu terjadi pada brazilin. Itu artinya senyawa brazilin dapat memperlambat bahkan mencegah proses oksidasi molekul lain yang dapat merusak sel. Oleh karena itu, kayu secang dapat menjaga daya tahan tubuh agar tidak rentan terserang penyakit.
Pembuktian khasiat secang oleh Dr. Sri Haryanti, M.Sc., Apt. dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Menurut Haryanti kayu secang efektif menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel kanker. Apalagi jika kayu secang dikombinasikan dengan rimpang lempuyang menyebabkan kesalahan regulasi sehingga pembelahan sel kanker tertunda bahkan berhenti. Secang berdampak kuat terhadap kekebalan tubuh. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
