Upaya meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan minum rebusan daun sambiloto.

Trubus — Rasa seduhan daun sambiloto Andrographis paniculata memang sangat pahit. Itulah sebabnya tanaman anggota famili Acanthaceae itu berjuluk king of bitter alias raja pahit. Namun, di balik rasa pahit, daun sambiloto memiliki aktivitas sebagai imunomodulator—substansi yang bisa memodulasi fungsi dan aktivitas sistem imunitas. Di tengah wabah virus korona, menjaga kekebalan tubuh sangat penting.
Daun sambiloto mengandung senyawa aktif andrografolid. Senyawa itu berperan sebagai imunomodulator terutama imunostimulan yang mampu meningkatkan kerja sistem kekebalan tubuh. Senyawa aktif itu juga meningkatkan fungsi sistem imunitas tubuh seperti sel darah putih yang bertugas menyerang bakteri dan antigen. Flavonoid dalam sambiloto berperan sebagai antiinflamasi, sedangkan tanin berkhasiat antidiare.
Fakta ilmiah
Selain itu zat aktif dalam sambiloto yang bertindak sebagai imunomodulator antara lain deoxyandrographolide, andrographolide, 14-deoxy-11, neoandrographolide, 12-didehydroandrographolide, homoandrographolide, diterpenoid, dan flavonoid. Ketika aktivitas sistem imunitas berkurang, flavonoid mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan kerjanya.
Sambiloto juga merangsang sistem kekebalan tubuh dalam bentuk respons antigen spesifik dan imun nonspesifik yang menghasilkan sel fagositosis. Respons antigen spesifik menghasilkan limfosit dalam jumlah besar terutama limfosit B. Limfosit B memproduksi antibodi yang merupakan plasma glikoprotein yang mengikat antigen dan merangsang proses fagositosis.
Hasil penelitian Khuamiroh dan rekan dari Jurusan Biologi, Universitas Negeri Surabaya, mengungkapkan pemberian 0,45 ml filtrat sambiloto meningkatkan jumlah leukosit darah tikus putih yang terpapar benzen. Leukosit atau sel darah putih merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih melacak dan melawan mikroorganisme penyebab penyakit atau infeksi, seperti bakteri, virus, dan parasit.

Selain itu penilaian aktivitas imunostimulator diketahui dengan melihat peningkatan jumlah antibodi IgG. Penelitian Mamik Ponco Rahayu dari Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi, menunjukkan sambiloto sebagai imunostimulator dengan cara meningkatkan jumlah IgG. Adapun hasil riset Wurlina dan rekan dari Fakultas Kesehatan Hewan, Universitas Airlangga, menyatakan pemberian 3,78 mg—11,4 mg alkaloid dalam sambiloto menurunkan CD4+ dan IFNγ ke tingkat normal setelah terinfeksi Salmonella typhimurium.
Sambiloto berfaedah menormalkan kondisi tubuh meski terjadi infeksi atau disebut sebagai imunomodulator. Alkaloid dalam sambiloto mengurangi sekresi IFNγ sehingga menggantikan tugasnya dalam mempertahankan respons imun nonspesifik dan spesifik. Secara klinis suatu imunomodulator digunakan untuk pasien dengan gangguan imunitas seperti kanker, HIV/AIDS, malnutrisi, dan alergi.
Produk imunomodulator juga dianjurkan terutama ketika pandemi Corona virus disease 2019 (Covid-19). Sayangnya penggunaan imunomodulator berefek samping. Misal pemakaian imunomodulator golongan antiinflamasi steroid berefek samping pendarahan mikroskopik saluran pencernaan, penurunan kadar trombosit, dan depresi pernapasan.
Tujuan pemanfaatan tanaman obat sebagai imunomodulator untuk menekan atau menurangi infeksi virus dan bakteri intraseluler. Bagaimana cara mendapatkan khasiat imunomodulator dari sambiloto? Rebus 10—15 daun muda segar dalam 1 liter air hingga mendidih. Sebaiknya gunakan daun yang berasal dari tanaman yang memasuki fase pertumbuhan generatif. Tandanya tanaman mulai berbunga atau berumur sekitar 90 hari.
Minum air rebusan itu 2—3 kali sehari terutama ketika tubuh tidak fit. Namun, mengonsumsi herba apa pun, termasuk sambiloto dengan dosis berlebihan berefek buruk bagi tubuh. Sekadar contoh beberapa pasien penderita HIV yang mengonsumsi andrograpole—hasil isolasi sambiloto—berdosis tinggi mengalami gangguan pencernaan dan peningkatan enzim hati. Hasil penelitian memang menyatakan sambiloto berfungsi sebagai imunosupresan.
Artinya zat aktif dalam herba itu menurunkan respons kekebalan tubuh ketika sistem imunitas melonjak melebih kondisi tubuh normal. Imunomodulator terbagi menjadi tiga kelompok yakni imunostimulator yang berfungsi meningkatkan fungsi dan aktivitas sistem imunitas, imunoregulator (dapat meregulasi sistem imunitas), dan imunosupresor (menekan aktivitas sistem imunitas).
Meski berperan sebagai imunomodulator, tubuh juga memerlukan vitamin untuk metabolisme terutama vitamin C. Setidaknya tubuh memerlukan sekitar 90 mg vitamin C setiap hari. Kekurangan jumlah vitamin C mengganggu metabolisme dan berpeluang memengaruhi imunitas tubuh. Pasokan vitamin C tidak mesti bergantung sepenuhnya dari produk buatan pabrik. Buah seperti jambu biji dan jeruk beberapa sumber vitamin C alami. (Maulana Yusuf Alkandahri, S.Farm., Apt., M.Farm., dari Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan, Karawang; Prof. Dr. Anas Subarnas, M.Sc., Apt., dari Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran; dan Dr.rer.nat. dr. Afiat Berbudi, M.Kes., dari Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran)
