Anggi Aptianingsih kewalahan memenuhi permintaan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) setiap hari. Kapasitas produksi kumbung jamurnya hanya 20—50 kg per hari.
Jumlah itu hanya mencakup sekitar 2,3% dari total permintaan pasar. “Rata-rata setiap distributor meminta 5—7 kuintal per hari,” ujar petani dan pebisnis jamur tiram asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Anggi memasok jamur tiram ke tiga distributor di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember, Jawa Timur. Selain itu, ia juga mengirim pasokan ke beberapa pasar di Provinsi Bali.
Jamur tiram segar dijualnya dengan harga Rp13.000—Rp14.000 per kg. Dari usaha itu, Anggi meraup omzet harian Rp260.000—Rp700.000 atau setara Rp7,8 juta—Rp21 juta per bulan.
Selain menjual jamur segar, Anggi juga memproduksi baglog sendiri. Dengan begitu, biaya produksinya lebih murah dibandingkan membeli dari pemasok lain.
Tak hanya untuk usaha sendiri, ia juga melayani pemesanan baglog jamur. Dalam sebulan, rata-rata terjual 5.000—8.000 baglog ke berbagai daerah.
“Sebenarnya permintaan bisa dua kali lipat,” ujarnya. Namun, keterbatasan produksi membuatnya belum bisa memenuhi semua pesanan.
Harga baglog bervariasi tergantung lokasi pengiriman. Di Kabupaten Banyuwangi, harga per baglog Rp2.300, sedangkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, harganya Rp2.700.
Harga tersebut sudah termasuk biaya pengiriman. Dari penjualan baglog, Anggi mengantongi omzet sekitar Rp11,5 juta per bulan.
Jika ditotal, pendapatan dari jamur tiram segar dan baglog mencapai Rp30 juta per bulan. Anggi memulai bisnis ini sejak 2021 dan telah melalui berbagai rintangan.
“Beberapa kali saya mengalami penolakan,” ujar perempuan berusia 27 tahun itu. Meski begitu, kegigihan dan ketekunannya membawanya pada kesuksesan seperti sekarang.
Foto: Dok. Anggi Aptianingsih
