Saturday, April 20, 2024

Dongkrak Produksi Bawang Merah di Dataran Tinggi dengan Teknologi Produksi Lipat Ganda  (Proliga)

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Bawang merah salah satu komoditas hortikultura prioritas. Kebutuhan bawang merah di dunia terus meningkat. Pada 2020 sekiar 50 juta ton. Menjadi 79,14 juta ton pada 2010 dan 99,7 ton pada 2019. Sehingga target swasembada dicanangkan pada 2024.

Peneliti Ahli Utama PRHP-ORPP-BRIN, Atman menuturkan bawang merah salah satu komoditas sayur penyumbang inflasi. Menjadi bumbu masak utama yang tidak dapat disubstitusi dengan komoditas lain. Sehingga, mesti tersedia sepanjang tahun.

Atman menjelaskan untuk memeroleh hasil yang tinggi perlu teknologi dalam memanfaatkan biji sebagai sumber benih. Ia menuturkan di Sumatra Barat perkembangan produksi bawang merah cukup signifikan. Menduduki peringkat ke-3 yakni setelah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ia menuturkan untuk peningkatan produksi itu, sejak 2015 ada teknologi proliga bawang merah dengan peningkatan produktivitas mencapai 30 ton per hektare (ha). Teknologi itu meliputi penggunaan benih asal biji True Shallot Seed  (TSS), penambahan populasi tanaman dari 240.000 menjadi 500.000—800.000 rumpun tanaman per ha.

Upaya lain seperti pengelolaan manajemen hara dan air, dan pengendalian hama atau penyakit terpadu (PHT). Target penekanan kehilangan hasil maksimal 10% melalui PHT (pengendalian hama terpadu).

Lebih lanjut ia menuturkan benih asal biji memiliki sejumlah keunggulan. Misalnya dapat disimpan lebih dari setahun, bebas cendawan, bakteri, nematode, insekta, dan kontaminasi virus serta penyakit tular benih.

Selain itu biaya benih relatif murah hemat hingga 50%. Selain itu, fleksibel dan bentuk ukuran umbi relatif lebih seragam. Hal lain produktivitas lebih tinggi hingga 20 ton per ha. Sayang teknologi proliga belum masif di tingkat petani.

Hal itu karena beberapa faktor seperti informasi teknologi budidaya bawang merah asal biji spesifik dataran tinggi yang masih sedikit. Ketersediaan benih  masih sulit didapat. Hal lain petani enggan mengadopsi karena membutuhkan waktu lama dari semai hinga panen.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, menuturkan penerapan inovasi teknologi spesifik lokasi upaya meningkatkn hasil ertanian, mengurangi biaya produksi, dan mengurangi risiko kegagalan panen akibat gradient factor lingkungan, stress abiotik dan biotik, serta mendukung pertanian berkelanjutan.

“Tentu saja karena dengan kondisi alam saat ini yang harus menjadi perhatian kita, dan pengaruh faktor iklim global yang berdampak pada produksi pertanian, maka potensi pemanfaatan sumber daya seperti benih asal biji dan pemanfaatan limbah fly ash yang dilakukan melalui serangkaian riset lapangan yang dapat memberikan dampak positif terhadap upaya-upaya peningkatan produksi bawang merah perlu terus didorong dan dikembangkan sampai ke tingkat usahatani di lapangan,” kata Puji dilansir dari laman BRIN.

Kini budidaya bawang merah pada berbagai agroekosistem mulai dataran rendah hingga dataran tinggi. Sentra produksi bawang merah yakni di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mayoritas ada di dataran rendah. Sedangkan sentra bawang merah yang ada di luar pulau Jawa berada di Sumatra yang mayoritas ada di dataran tinggi.

Kepala Pusat Riset Hortikultura (PRH)-ORPP-BRIN, Dwinita Wikan Utami menuturkan  salah satu tupoksi PRH BRIN yakni mengurangi senjang hasil, dan yang kedua adalah bisa menerapkan teknologi yang dikuasai untuk meningkatkan produktivitas bawang merah.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berkat Trubus POC Petani di Berastagi Panen Horenso 56% Lebih Tinggi

Trubus.id— Manfaat Trubus pupuk organik cair kian dirasakan sejumlah petani. Petani di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img