Thursday, August 18, 2022

Durian Top di Kebun Tirto

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Musang king di kebun Tirto Santoso berpenampilan menarik bercita rasa lembut dan manis.

 

Durian-durian unggul di dataran menengah tetap bercita rasa legit, gurih, dan manis.

Ratusan durian berbaris rapi dan membentuk blok-blok di atas area yang bersih. Beberapa pohon tampak subur dan terawat dengan tajuknya yang berbentuk segitiga. Beberapa di antaranya memunculkan buah sebesar bola voli. Pekebun durian di Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Tirto Santosa mengelola lahan 10 hektare untuk membudidayakan beragam jenis durian unggul.

Buah durian ochee dari pohon berumur 4 tahun di kebun Tirto.

Tirto mengebunkan sekitar masing-masing 50 pohon musang king, bido, dan ochee. Jenis lain seperti pelangi, masmuar, dan monthong juga tumbuh di lahan itu. Umur musang king dan ochee sekitar 5 tahun. Para anggota Yayasan Durian Nusantara (YDN) pernah menghadiri undangan Tirto untuk menicipi durian unggul itu sembari berbincang pengembangan durian dan penyelenggaran kontes di berbagai sentra untuk menemukan durian unggul.

Musangking versus lokal

Tirto Santoso menjejer durian-durian hasil kebunnya di antaranya musang king, ochee, matahari, monthong, bido, mandong, dan durian lokal trawas. Para peserta menunggu tak sabar mencicip durian yang sudah dibuka sebagian juringnya. “Sebentar-sebentar, sebelum dicipi kita dokumentasikan setiap jenis,” ujar Direktur YDN Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S. disambut kemeriahan peserta.

Akhirnya satu per satu durian itu terbuka. Mula-mula para tamu mencicipi secara berurutan durian lokal, mandong, monthong, matahari, musang king serta ochee di akhir-akhir sesi. “Beberapa waktu lalu, di kebun ini ada angin kencang, sehingga merontokkan buah-buahnya. Tapi Alhamdulillah kita masih kebagian meskipun tidak banyak,” ujar Reza.

Namun, ada satu durian unggul yang tak hadir karena buahnya sedang tidak ada yang matang. “Sebenarnya Pak Tirto juga punya durian unggulan yaitu durian pelangi. Warnanya cantik merah jingga. Namun dari segi rasa butuh perbaikan, karena panen perdana. Lima tahun kemudian saya yakin, durian pelangi itu akan bersaing ketat dengan duri hitam atau ohee,” ujar Reza, doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor.

Menurut mantan Direktur Penelitian dan Pengembangan Mekarsari Research Station, Bogor, itu durian lokal yang Tirto sajikan terbilang istimewa. “Saya menjagokan lokal dari segi rasa. Bahkan, musang king dan ochee kalah. Durian lokalnya dari segi warna biasa dan berbiji besar. Namun, rasanya manis, gurih, dalam sekali, dan pekat. Airnya hilang tinggal sari-sarinya,” ujar ahli buah tropis itu. Menurut Reza durian musang king di kebun Tirto bercita rasa manis, gurih, dan datar tidak ada pahit. Sementara ochee rasanya pahit, gurih, tetapi kurang manis.

Tim Yayasan Durian Nusantara bersama mantan Dirjen Hortikultura Dr. Suwandi (berbaju batik hitam)

Penggemar durian asal Prancis, Anthoine, punya penilaian lain. “Saya lebih suka musang king dan durian lokal,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai juru masak itu. Menurut Anthoine musang king Tirto bercita rasa lembut, berbiji kecil, dan berdaging banyak. Sementara durian lokal rasanya manis, pahit, dan unik meski warna daging buahnya kurang menarik atau pucat.

Ekspor durian

Menurut penangkar bibit di Bogor, Jawa Barat Syahril M Said dari segi rasa, durian musang king dan ochee di kebun Tirto memang masih belum maksimal. Hal itu karena umurnya yang masih muda yaitu sekitar 5 tahun. “Dari segi rasa memang masih kurang dalam, tetapi untuk durian umur muda seperti itu sudah bagus rasanya,” ujar Syahril.

Durian pelangi dari kebun Tirto Santoso.

Performa durian Tirto yang terbilang unggul meski usianya masih muda tak terlepas dari budidaya intensif. Tirto memanfaatkan pupuk fermentasi ikan sebagai sumber nutrisi. Ia mendapat bahan pupuk itu dari penjual ikan yang dagangannya tidak laku. “Daripada dibuang mending saya beli dan saya olah jadi pupuk,” ujarnya. Proses fermentasi sekitar sepekan. Petani buah itu menyiramkan pupuk setiap bulan.

Reza menuturkan, tantangan berkebun di daerah berketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut adalah alam. “Di kebun Pak Tirto ini sejatinya yang dihadapi adalah alam, bukan budidaya. Dari segi budidaya sudah bagus, tetapi ketika angin kencang daun rontok. Nah, kalau daun rontok, tanaman tidak maksimal fotosintesisinya sehingga gula turun dan masaknya kurang satu strip,” ujar Reza.

Selain berkualitas, durian di kebun Tirto juga produktif meski usai muda. Tirto memanen 25—30 buah ochee per panen. Nanti kalau normal atau dewasa bisa 60—70 buah per pohon. Bobot ochee rata-rata 2—3 kg per buah. Ia menjualnya Rp300.000 per buah durian ochee, Rp200.000 per buah musangking, dan Rp90.000 per kg untuk durian matahari.

Menurut mantan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. Suwandi M.Si, yang juga turut hadir, durian-durian lokal di Indonesia punya potensi tinggi untuk dikembangkan, terutama di daerah setempat yang memang sudah adaptif. “Setiap tahun, neraca ekspor impor durian kita selalu menang impor. Namun, pada 2018, ekspor durian kita lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Surplusnya sampai 700 ton,” kata Suwandi. Hal itu menjadi indikator kuat, durian-durian Indonesia bisa bersaing untuk merebut pasar dalam dan luar negeri.

Reza menyampaikan untuk membangun durian perlu pembagian tugas mulai dari petani kecil, hingga peneliti, penangkar bibit, dan pemerhati durian. Selain itu teknologi percepatan pembentukan kebun durian unggul melalui top working. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img