Monday, August 15, 2022

Semangka : Panen Besar karena Topas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penerapan teknik budidaya sistem topas di lahan petani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

 

Upaya meningkatkan produksi semangka dengan sistem topas.

Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia tergolong rendah. Hal itu antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca atau iklim, serta teknis budidaya petani yang masih konvensional. Penerapan teknologi budidaya sistem topas—singkatan dari toping, pruning, arranging, selection—salah satu upaya meningkatkan kualitas dan produksi buah semangka.

Teknik toping adalah pemangkasan pucuk pada cabang utama atau primer dari tanaman semangka. Biasanya dilakukan pada saat tanaman berumur dua pekan setelah tanam (mst). Tujuan toping adalah munculnya cabang lateral/sekunder yang sama pertumbuhanya. Teknik pruning perlakuan pemangkasan cabang tersier atau sulur yang tidak produktif pada pertanaman semangka. Biasanya teknik itu dilakukan pada saat tanaman berumur empat pekan setelah tanam hingga menjelang panen.

Seleksi buah

Buah terseleksi pada posisi cabang ke- 15 (dua buah di bagian atas) dan buah terseleksi pada posisi cabang ke-20 (bagian bawah)

Cabang-cabang tersier atau sulur perlu dipangkas agar intensitas sinar matahari yang masuk ke seluruh bagian permukaan tanaman dapat optimal serta menjaga iklim mikro pertanaman. Manfaat lain dari pemangkasan (pruning) adalah penyebaran hasil asimilat dan fotosintat makanan dapat ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman secara efisien.

Teknik arranging atau pengaturan cabang adalah teknik pengaturan cabang tanaman di atas permukaan lahan atau bedengan di areal pertanaman untuk memudahkan dalam perawatan dan pemeliharaan tanaman semangka. Tanaman semangka termasuk jenis tanaman menjalar atau merambat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin dan hidupnya semusim. Sistem perakarannya menyebar ke samping dan dangkal.

Batang tanaman semangka bersegi. Panjang batang antara 3,5—5,6 meter dan sulurnya bercabang menjalar di permukaan tanah atau merambat. Batang berbentuk bulat lunak, berambut dan sedikit berkayu. Cabang-cabang lateral mirip dengan cabang utama. Di antara ruas cabang dan daun terdapat sulur-sulur sebagai ciri khas dari famili Cucurbitaceae. Sulur-sulur itu berguna sebagai alat pembelit atau pemanjat bila budidaya tanaman semangka dengan sistem turus/ajir.

Teknik selection atau seleksi adalah teknik menyeleksi tanaman dan buah semangka dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Tujuan seleksi memilih buah yang produktif dan dapat berkembang mencapai hasil maksimal. Buah semangka tersedia dalam banyak bentuk, warna, dan bermacam-macam ukuran. Seleksi buah dilakukan pada umur 10—15 hsp (hari setelah polinasi) atau 40—45 hst (hari setelah tanam) atau saat buah sebesar telur ayam.

Hal itu karena lokasi penanaman beragam (dataran tinggi, menengah, atau rendah) serta masa berbunga dan berbuah setiap varietas semangka berbeda-beda. Oleh karena itu, petani berpatokan pada ukuran buah sebesar telur ayam saat menyeleksi buah. Ciri-ciri buah yang dipertahankan bentuk buah sempurna (bulat, oval, atau lonjong sesuai varietasnya), bulu-bulu halus pada kulit buah masih terlihat merata, warna kulit buah dan lurik terlihat cerah (hijau muda atau terang).

Syarat lain, tidak ada serangan hama atau penyakit seperti lalat buah atau busuk buah), posisi buah pada cabang ke 15—20 (dihitung dari pangkal batang). Petani hanya memilih satu buah yang terbaik per tanaman untuk dipelihara. Bentuk buah bervariasi mulai dari bulat hingga lonjong, dengan warna-warna kulit buah yang berbeda-beda mulai hijau muda hingga kehitaman serta kuning. Warna kulit buah dapat mulus, bergaris-garis atau berbercak-bercak.

Semangka hasil budidaya sistem topas atau singkatan dari toping, pruning, arranging, selection.

Warna daging buah ada yang kuning, merah jambu, merah cerah ataupun merah tua. Terdapat pula semangka berbiji maupun semangka tanpa biji. Hasil penerapan teknologi budidaya sistem topas di lahan penelitian kampus Politeknik Negeri Lampung terbukti mampu meningkatkan produksi buah semangka. Produktivitas semangka tipe buah lonjong dengan teknik topas juga lebih tinggi.

Produksi melonjak

Produksi semangka sistem topas mencapai 14—18 ton per ha, lebih tinggi jika dibandingkan dengan penanaman sistem konvensional yang berkisar 10—14 ton per ha. Produktivitas semangka tipe buah oval dengan menggunakan teknik topas antara 20—26 ton per ha. Bandingkan dengan dengan penanaman sistem konvensional antara 14—18 ton per ha. Produktivitas semangka tipe buah bulat menggunakan teknik topas 19,33 ton per ha (sistem konvensional 13,78 ton/ha).

Teknologi budidaya sistem topas menjadi solusi permasalahan petani. Oleh karena itu, diharapkan para petani di berbagai wilayah di Indonesia dapat menerapkan langsung di lahan. Tujuannya meningkatkan jumlah produksi dan kualitas buah semangka. Produktivitas semangka di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada akhir Mei-Juni 2020 rata-rata 15,79 ton per hektare. Apalagi kini tingkat konsumsi buah-buahan seperti semangka meningkat setiap tahun karena lonjakan jumlah penduduk dan pola makan masyarakat. (Anung Wahyudi, Ph.D. dosen Politeknik Negeri Lampung)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img