
Mengolah bunga telang menjadi makanan dan minuman yang menyehatkan.
Trubus — Ida mengingat petuah orang tuanya untuk menggunakan kembang telang sebagai obat sakit mata. “Basahi sekuntum bunga dengan air bersih lalu tempelkan ke mata. Tidak lama kemudian kotoran mata keluar semua,” katanya. Warga Kampung Akuarium, Kelurahan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, itu memang akrab dengan bunga telang sejak kecil. Ia menghabiskan masa kanak-kanak di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Pantas saja ia antusias ketika koordinator Program Pertanian Perkotaan Kampung Akuarium, Dharma Diani, mengajak menanam bunga Clitoria ternatea itu. Ida makin tertarik saat penyelenggara program, majalah Trubus bekerja sama dengan PT Pembangkit Listrik Jawa-Bali (PT PJB) mengadakan pelatihan pengolahan telang menjadi bahan pewarna makanan atau minuman. “Saya baru tahu kalau bunga telang bisa dijadikan pewarna makanan,” kata Ida.

Perlu naungan
Sejak Agustus 2019, Majalah Trubus dan PJB memberdayakan warga Kampung Akuarium dan 3 RT lain di sekitarnya untuk menanam berbagai jenis herbal seperti rosela, bawang dayak, dan bunga telang. Anggota staf pemasaran khusus Trubus sekaligus pendamping Program Pertanian Perkotaan, Mohamad Risky Faisal Sukandi menyatakan, program itu mendapat dukungan penuh kaum ibu di Kampung Akuarium.
Penanaman menggunakan 2 macam bibit, dari setek batang sepanjang 25 cm dan bibit asal biji dalam polibag berukuran 5 cm x 10 cm. Media tanam untuk bibit dan penanaman berupa campuran kompos kotoran ayam sebanyak 2 bagian, kompos kotoran kambing dan sapi masing-masing 1 bagian, sekam bakar 1 bagian, dan tanah 1 bagian. Warga menanam di rumah tanam berukuran 4 m x 5 m berbahan baja ringan yang dibuat menggunakan dana swadaya.
Warga setempat belum terbiasa membudidayakan tanaman itu. Saat memindah tanaman dari kantong bibit ke polibag penanaman, seorang ibu mencabut begitu saja bibit telang lalu memindahkan ke polibag besar. “Mestinya polibag bibit ditumpahkan lalu tanamannya ditanam di tempat baru dengan hati-hati,” kata Risky. Untungnya tanaman anggota famili Fabaceae itu bandel dan tumbuh baik meski sebagian akarnya rusak.

Bibit pindah tanam ke polibag tanam berukuran 20 cm x 30 cm setelah berumur sebulan. Di antara tiang-tiang rumah tanam itu mereka memasang tali rafia dan jaring peneduh untuk merambatkan telang. Jaring peneduh juga menaungi atap rumah tanam. Menurut Risky, sebelumnya rumah tanam itu terbuka tanpa naungan. Namun, pertumbuhan telang dan rosela kurang baik, sebagian layu meski penyiraman 2 kali sehari.
Riset ilmiah
Setelah memasang jaring peneduh yang menyaring 30% sinar matahari, tanaman tumbuh subur. Warga memberikan pupuk organik cair dengan dosis sesuai anjuran dengan cara mengocor 2 pekan sekali. Mereka memupuk sekaligus menyiram tanaman bergiliran. “Biasanya kami menyiram sekalian lewat ketika berangkat ke pasar atau ada keperluan lain,” kata Lili Handayani, rekan Ida.
Mereka juga menyemprotkan pestisida nabati berbahan bawang putih dan jahe ketika datang serangga pengganggu. Risky menyarankan penyemprotan rutin setiap pekan untuk mencegah hama. Pada November 2019 mereka mulai memanen bunga. Menurut salah satu warga yang rajin merawat tanaman, Makini, asal sudah mekar bunga siap petik. Namun, mereka belum tahu cara mengolahnya sehingga Trubus mengadakan pelatihan pada Desember 2019.

Warga menjemur setangkup (20—26 tangkai) bunga telang hingga kering, merebus dalam 2 liter air sampai warna air biru keunguan. Selama perebusan mereka mengaduknya. Warga menggunakan air itu untuk menanak nasi atau membuat puding. Ada juga yang meminum langsung setelah menambahkan rempah.
Konsumsi bunga dan daun telang terbukti menyehatkan seperti terbukti dalam banyak riset. Periset di Department of Biotechnology, Holy Cross College, Tamilnadu, India, Daisy dan rekan membuktikan konsumsi rebusan daun dan bunga telang efektif menurunkan kadar gula darah, angka kolesterol total, trigliserida, urea, dan kreatinin. Dalam riset itu Daisy memberikan 400 mg per kg bobot tubuh selama 84 hari.
Konsumsi bunga itu juga meningkatkan serum insulin dan high density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik. Artinya konsumsi daun dan bunga telang memperbaiki kondisi tubuh dan meningkatkan kesehatan. Rasa lezat, warna menarik, berkhasiat pula.
Sekuntum Sekali Seduh
Konsumsi bunga gtelang relatif mudah, hanya menyeduh atau merebusnya. Namun, konsumsi bunga anggota famili Fabaceae itu harus hati-hati. “Cukup 1—3 kuntum untuk membuat teh. Kalau kebanyakan bisa mabuk,” kata Lili Handayani di Jakarta Utara. Mertua Lili, Basri (63), pernah mengalaminya. Ia merebus setangkup bunga telang kering dalam seliter air sampai mendidih dan tersisa segelas.
Setelah meminum air rebusan bunga telang, Basri pusing, mual, lalu muntah-muntah. Lili segera memberikan segelas air kelapa muda sebagai penawar. Kondisi Basri berangsur-angsur membaik setelah minum air kelapa. Menurut Lili mertuanya terpincut mencicipi lantaran melihat bunga telang yang berwarna menarik. (Argohartono Arie Raharjo)
