Monday, August 8, 2022

Fakta Bisnis & Pasar Aroid

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Monstera deliciosa ‘thai constelation I (II)’ salah satu incaran para pehobi. (Dok. Chacha Binahati)

Tren tanaman hias aroid seperti agloanema, monstera, dan philodendron makin ramai. Pasar bukan hanya domestik, tetapi justru ke mancanegara.

Trubus — Dua puluh paket aglaonema golden hope itu ludes pada hari peluncurannya di Kota Bogor, Jawa Barat pada 12—13 September 2020. Golden hope varian agalaonema terbaru hasil pemuliaan Greg Hambali. Harga per paket terdiri atas 10 tanaman berukuran 30—40 cm “hanya” Rp50 juta. Salah satu pembeli, Agung Tri Wibowo, mengatakan, harga itu relatif murah. Pertimbangannya golden hope bagus secara performa.

“Berkarakter daun unik, dan memiliki corak perpaduan warna hijau, merah dan keemasan,” kata pehobi di Kota Semarang, Jawa Tengah, itu. Selain itu, aglaonema “harapan emas” termasuk jenis paling gres sehingga langka di pasaran. Hari itu Greg melepas 200 tanaman aglonema baru. Alumnus Biologi Birmingham University, Inggris, itu mengatakan, jumlah golden hope saat rilis masih sedikit sehingga wajar jika harganya premium.

Aglaonema golden hope hasil pemuliaan penyilang tanaman hias di Kota Bogor, Jawa Barat, Greg Hambali. (Dok. Trubus)

Harga melambung

Greg Hambali menuturkan, asalkan pehobi menyukai barang dan memiliki cukup uang untuk membelinya tidak jadi masalah. “Jika suka dengan barang tetapi belum punya cukup uang siasatnya bersabar hingga barang banyak,” kata pemulia aglaonema itu. Menurut Agung golden hope akan menjadi aglaonema kelas premium incaran pehobi. Saat ini jumlahnya terbatas hanya untuk kalangan kolektor.

Agung menuturkan, harga jual itu masih belum terjangkau untuk konsumen menengah ke bawah. “Itu lazim di dunia aglaonema, barang baru pasti menjadi barang kolektor terlebih dahulu,” kata pemilik Pondok Bunga Ayu Nurseri itu. Menurut Agung semasa pandemi korona permintaan aglaonema justru meningkat. Tren itu masih akan berlangsung lama, musababnya pangsa pasar tergambar jelas hingga pada konsumen akhir. Artinya bukan sesuatu yang bersifat spekulan atau hanya menduga pangsa pasarnya.

Epipremnum pinnatum var white anggota keluarga aroid

Menurut Agung dari segi harga, aglaonema terbagi menjadi kelas rendah, menengah, dan tinggi. Lazimnya untuk barang murah pangsa pasarnya pemula, dengan kisaran harga di bawah Rp500.000 per tanaman. Adapun kelas menengah untuk kolektor sekaligus penjual, kisaran harga Rp500.000—Rp5 juta. Adapun kelas kolektor, atau barang yang masih terbatas harga jualnya di atas Rp5 juta (baca: Harga Melangit Harga Membumi halaman 14—15).

“Tanaman hias seperti barang seni, sebetulnya tidak ada patokan harga yang pasti,” kata Agung yang menekuni hobi aglaonema sejak 2004. Penjual tanaman hias di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Diana, mengatakan bahwa konsumen terbagi menjadi beberapa kelas. Pemilik toko tanaman hias Graha Raya itu membagi menjadi dua kelas, yakni kelas premium dan kelas rendah.

Tanaman jenis premium antara lain beragam vairan philodendron dan monstera variegata seperti monstera variegata kuning marmorata, monstera thailand, philodendron white princess, philodendron pink princess, philodendron white knight, philodendron white wizard ,dan philodendron florida beauty variegata. Harga jual Rp2 juta–Rp15 juta per tanaman. “Tanaman berharga mahal itu terdiri atas 3—6 daun, bukan tanaman besar,” kata Diana.

Monstera obliqua salah satu spesies langka yang diburu pehobi dunia. (Dok. Trubus)

Tanaman hias ariod seperti monstera, philodendron, dan aglonema kelas premium terutama dijual via daring atau online. “Memang tanaman premium ada pangsa pasarnya, hanya terbatas pada kalangan menengah ke atas,” katanya. Pangsa pasar lainnya adalah kelas “lapak”. Menurut Diana pangsa pasar rendah untuk jenis tanaman di bawah Rp250.000. Ia mencontohkan aglaonema siam aurora dan sirih gading.

Apa yang membuat tanaman hias mahal? Menurut kolektor sekaligus pedagang aroid di Tangerang, Provinsi Banten, Noldy Topan Mahieu, kelir daun sangat memengaruhi harga. Harga tanaman variegata lebih mahal daripada tanaman nonvariegata. Makin banyak daun bercorak variegata pada satu tanaman, makin baik kualitas variegata tanaman itu. Pantas harganya makin mahal. Ukuran daun juga memengaruhi harga untuk tanaman yang berwarna hijau. Makin besar ukuran daun, meskipun jumlah daun sama, maka kian mahal harganya.

Makin mahal harga monstera dan philodendron berarti makin sedikit pula jumlah tanaman itu beredar di dunia. “Banyak yang mencari Philodendron spiritus-sancti, padahal barangnya sangat sulit dicari,” kata Noldy. Selain karena tanaman sulit ditemukan di alam, belum banyak yang memperbanyak tanaman-tanaman itu. Jadi, banyak faktor yang memengaruhi harga tanaman hias termasuk ketersediaan tanaman.

Philodendron joepii berkarakter daun khas bercabang tiga.

Eksportir tanaman hias di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Rico Rusdiansyah, tak hirau bila ada yang mencemooh bisnis tanaman hias aroid di Indonesia kini. “Tak masalah bila di Indonesia tidak ada yang mau membeli karena meragukan harga yang tinggi. Saya masih bisa menjual ke luar negeri dan bahkan sampai membuat daftar tunggu pengiriman berbagai jenis aroid,” kata  Rico kepada wartawan Trubus Tamara Yunike.

Ade Wardhana Adinata, S.E., M.M., mengandalkan Agalonema pictum ‘tricolor’ untuk memasok pasar ekspor sejak November 2019. Warga Sukaharja, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu mengirimkan sekitar 500 pictum per bulan sejak September 2019. Di pasar internasional harga jual pictum US$30 per tanaman setara Rp420.000 (kurs $1=Rp14.000). Jadi, para pelaku bisnis aroid justru banyak yang memasok pasar ekspor (lihat tabel Pasar Mancanegara).

Wajar harga mahal

Menurut Diana sebetulnya kenaikan harga tanaman hias sejak 2019. Namun, kenaikan drastis terutama saat pandemi korona. Menurut penjual tanaman hias sejak 2010 itu sebetulnya tren tanaman hias berawal dari luar negeri. Kemudian merembet ke dalam negeri. “Melihat orang luar mengunggah tanaman di media sosial membuat permintaan di dalam negeri pun menggeliat. Padahal, Indonesia salah satu negara produsen pengekspor tanaman hias,” kata Diana.

Kolektor tanaman tropis di Bali, Novi Buana. (Dok. Novi Buana)

Tren tanaman aroid di luar negeri itu memicu permintaan dalam negeri. “Maklum, konsumen di dalam negeri mudah terpengaruh euforia,” katanya. Imbasnya permintaan dalam negeri meningkat dan harga melambung. Namun, untuk jenis tanaman langka, baru, dan melalui rekayasa genetika yang sulit sangat wajar harganya mahal. Selain itu pada 2020 terjadi pandemi korona, mengharuskan masyarakat berkegiatan di rumah.

Itu menjadi pemicu lain makin melambungkan permintaan tanaman hias. Jelas berimbas pada kenaikan harga. Diana mencontohkan, pada 2019 harga monstera marmorata Rp500.000 per tanaman. Harganya melonjak menjadi Rp10 juta pada 2020. Tanaman itu terdiri atas tiga daun. Jenis lain seperti keladi hias pun turut naik semula Rp30.000 kini menjadi Rp400.000. Itu menjadi berkah tersendiri bagi penjual tanaman hias seperti Diana.

“Jika dihitung mungkin pendapatan penjual tanaman hias sekarang cukup menggiurkan,” katanya. Menurut Diana sangat mungkin terjadi peningkatan harga mendadak tergantung ketersediaan barang dan permintaan. Menurut kolektor tanaman tropis di Bali, Novi Buana, harga aroid yang melambung menguras tabungan kolektor. Sebut saja harga monstera white monster dan monstera mint mencapai Rp50 juta—Rp75 juta per daun.

Penjual tanaman hias di Kota Depok, Jawa Barat, Nanang Koswara. (Dok. Trubus)

Menurut dosen Agribisnis Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., jika kenaikan harga tanaman hias hanya karena permintaan dari dalam negeri fenomenanya akan terulang, yakni terjadi penurunan harga produk. Penurunan harga itu karena peningkatan pasokan dan produksi mandiri. Kecuali jika pasarnya terus diperluas dan diinovasi sampai luar negeri. Idealnya mempertahankan produksi pada batas optimum, sehingga harganya tidak mahal, tetapi tetap menguntungkan dalam skala bisnis.

Ekspor bisa menjadi pilihan, tetapi butuh promosi, karena belum tentu konsumen di luar negeri menyukai tanaman hias yang sedang menjadi tren di negara kita. Jika ekspornya terus meningkat atau konstan, maka peluang trennya akan lebih lama. Namun, sampai batas jenuh permintaan dalam negeri, akan dengan sendirinya melandai. Pasti tren lebih lama dibandingkan dengan sebelumnya. Apalagi jika situasi ekonomi kembali normal dan pulih.

Namun, bagi kacamata kolektor tidak memikirkan mengenai permainan harga atau barang sedang tren. Artinya, tanaman hias premium ibarat barang seni. Jika menyenangi dan memiliki dana cukup akan membelinya. Adapun jika ragu atau takut tertipu tidak akan membelinya. Apresiasi harga tinggi wajar, terutama tanaman eksklusif yang sudah langka atau tanaman dengan pola variegata unik yang sulit dibuat.

Tren lama

Menurut penjual tanaman hias di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Nanang Koswara, peningkatan harga sangat mungkin terjadi. Pemicu harga tanaman makin menggila terutama permintaan tinggi dari seluruh dunia. Paul—panggilan akrab Nanang Koswara—memprediksi tren masih akan berlangsung lama. Budaya memelihara tanaman hias kini mendunia (Baca boks Tren mendunia).

Penjual tanaman hias di Desa Ciapus, Kecamtan Ciomas, Kabupaten Bogor, Furkon Hidayat. (Dok. Saung Amazon)

Peneliti tanaman aroid di Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dra. Yuzammi, M.Sc.,mengatakan, “Tren aroid sebagai tanaman hias akan tetap abadi sampai akhir zaman.” Demikian juga pendapat Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Dr. Ir. Rudy Soehendi, M.P. Alasannya tren aroid bersifat global, sehingga pelaku usaha dan penikmat tanaman ini cukup banyak.

Menurut Paul tren makin ramai saat negara di berbagai belahan dunia membuka kuncitara atau lockdown. Saat itu para pelaku tanaman hias bisa saling berinteraksi langsung. Saling bertukar tanaman sebagai bahan indukan. Itu pula yang dirasakan penjual tanaman hias di Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Furkon Hidayat, selama masa pandemi banyak negara menerapkan kuncitara.

Sebelum pandemi Furkon bisa berkunjung langsung menjual dan membeli barang dari Thailand. Namun, imbas kuncitara ia fokus menjual tanaman yang diperbanyak sendiri dan hanya melayani pengiriman lewat kargo. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Riefza Vebriansyah dan Tamara Yunike)

Previous articleMedia & Aroid
Next articleDuduk Perkara Harga Mahal
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img