Trubus.id—Kopi mulai dikenal oleh Suku Galia di Afrika Timur tahun 1000 Sebelum Masehi. Dua ribu tahun berikutnya antara abad ke-7 hingga ke-10, bangsa Arab menyebutnya “minuman energi”. Pada awal abad ke-11, Ibnu Sina menyelidiki zat kimiawi yang dikandung oleh kopi.
Dokumennya menjadi acuan pertama dari ilmu kedokteran dan kesehatan. Sumber kopi pertama dinyatakan dari Mokha, sebuah daerah di Yaman. Sejak itulah kopi mulai meluas ke seluruh Asia dan menembus pasar Eropa.
Kopi diperkenalkan oleh Kesultanan Utsmaniyah (bangsa Turki) di Konstantinopel pada 1453. Kedai kopi yang pertama bernama Kiva Han dibuka pada 1475. Tanaman kopi masuk ke Indonesia melalui pedagang Belanda dan bertransformasi menjadi budaya Indonesia.
Sebuah artikel di ensiklopedia bebas menulis: “Budaya kopi di Indonesia, memiliki pengaruh dari Eropa, terutama Italia, dan budaya lokal. Terutama Jawa dan Sumatra baik dalam hal pengolahan maupun penyajian.”
Belanda mengenal kopi pada 1616 dan membuka perkebunan kopi di Sri Lanka pada 1658. Maklum, pada tahun 1600, “budaya minum kopi” dipertimbangkan oleh Paus Clement VIII sebagai bid’ah—berdosa bagi peminumnya.
Namun, ia akhirnya mengizinkan orang Kristen halal minum kopi sebagai makanan alternatif. Pada tahun 1645, kedai kopi pertama dibuka di Venesia, Italia dan pada 1650 di Oxford, Inggris.
Amerika Utara mengenal minum kopi sejak 1668. Memasuki 1670-an kedai kopi bermunculan di sudut-sudut kota London sampai 1674 muncul Petisi Perempuan Menentang Kopi. Pada 1675 Raja Charles II menutup seluruh kedai kopi dengan dalih “sebagai tempat permufakatan makar.”
Pada 1668 saja sudah lebih dari 800 kedai kopi di Kawasan Soho, London—ibu kota Inggris. Kafe Prancis bernama Café de Procope dibuka 1689 di tengah krisis setelah pengumuman Kopi Merusak Kesehatan.
Gubernur Jenderal Belanda, Zwaardecron, membawa benih tanaman dari Mokha ke Bogor, Indonesia. Itulah kemudian membuat Jawa Barat menjadi kebun kopi di bawah Preanger Stelsel. Panen kopi Jawa Barat ini diteliti di Amsterdam 1706.
Hasil penelitian ini membuat tanaman kopi sangat bergengsi, bahkan ditanam oleh Raja Louis XIV dari Paris, Prancis. Johann Sebastian Bach, menciptakan komposisi Coffee Cantata yang melukiskan perjalanan spiritual bangsa Jerman atas pesatnya popularitas kopi di negerinya.
Pada tahun 1727, Francisco de Mello membawa biji kopi dari Prancis untuk penanaman di Brazil. Kopi impor dari Brazil masuk pasar Amerika Serikat (AS) pada 1809. Sekarang dengan angka minum per kapita lebih dari 4 kg, AS menjadi negara pengimpor kopi terbesar di dunia.
Sekadar catatan, rekor minum kopi per kapita masih dipegang oleh bangsa Finlandia, dengan 12 kg per tahun. Sementara Indonesia hanya 1 kg per kapita per tahun dengan perdagangan kopi 368.000 ton pada 2024.
Yang penting dicatat adalah kedai kopi tumbuh dengan sehat di berbagai kota besar. Sejak Jerman berhasil mengurangi kadar kafein dengan membuat kopi decaf pada 1910, dunia pengolahan kopi makin berkembang.
Indonesia pun tidak ketinggalan. Kita telah punya gerai itu di berbagai kota. Semoga kedai kopi tradisional maupun modern, menambah kebijaksanaan suatu bangsa. Yang penting, jangan lagi terjadi pemusnahan produksi kopi.
Sejarah mencatat, Brazil pernah memusnahkan 78 juta kantong kopi pada 1930—1944 untuk menstabilkan harga. (Eka Budianta)
