Monday, August 8, 2022

Garut Rival Mag

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tanaman garut Maranta arundinacea menghasilkan umbi (foto bawah) yang memiliki beragam khasiat. (Dok. Trubus)

Konsumsi umbi garut membantu menyehatkan lambung. Penderitaan akibat mag pun berakhir.

Trubus — Mestinya Dawir Kusumo bersuka cita pada hari Idul Fitri 2019. Namun, pria 46 tahun itu tiba-tiba kembung dan nyeri di lambungnya. Setelah memeriksakan kondisinya, dokter mendiagnosis pria kelahiran Mei 1974 itu menderita asam lambung. Dokter pun meresepkan obat untuk Dawir agar asam lambungnya mereda. Namun, ketika obat habis kembung kembali menyerang.

Rita Nooryanti mengalami hal serupa ketika berlibur di Jakarta pada Juli 2019. Namun, perutnya terasa nyeri seakan disayat. Kerabat membawanya ke rumah sakit. Setelah memeriksa, dokter mendiagnosis Rita menderita asam lambung. Padahal alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mandala, Jember itu sudah lama tak menyentuh makanan masam dan pedas.

Umbi garut

Proses pembuatan sari pati umbi garut.

Khawatir efek samping bila ketergantungan obat-obatan kimia, Dawir dan Rita memperoleh informasi umbi garut untuk kesehatan lambung. Mereka tertarik untuk mencoba olahan umbi garut buatan Daniel Hendro Adi Siswoyo. Dawir dan Rita disiplin mengonsumsi satu bungkus umbi garut pada pagi sebelum sarapan dan sore sebelum makan malam. Daniel mengolah umbi garut hingga siap konsumsi.

Daniel, produsen di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu menyiapkan jenang umbi garut praktis. Daniel mengemas serbuk umbi garut dalam boks. Satu kotak terdiri atas 15 bungkus atau 30 bungkus. Adapun bobot setiap bungkus kecil 25 gram. Bahan baku jenang itu adalah sari pati umbi garut Maranta arundinacea. Daniel menambahkan gula aren dan vanilli untuk memberi cita rasa.

Jenang instan berbahan dasar sari pati umbi garut. (Dok. Trubus)

Dawir pun tinggal menyobek kemasan untuk satu kali konsumsi dan melarutkan dalam satu gelas air dingin. Kemudian ia memasak larutan itu hingga mengental. Umbi garut pun siap konsumsi setiap sebelum makan. Daniel menghindari penggunaan air panas untuk melarutkan karena umbi tidak akan menjadi jenang. Selain itu menyeduh umbi garut menghasilkan sediaan yang terlalu encer. Cara konsumsi praktis.

Menurut Dawir rasa olahan umbi garit itu itu enak. Ia merasakan perut menjadi “dingin” setelah menyantap garut. Setelah disiplin mengonsumsi garit selama 30 hari, Dawir tak lagi mengeluh asam lambung. Demikian juga dengan Rita yang mengakhiri pendieritaan akibat asam lambung setelah konsumsi 30 hari. Kini Dawir dan Rita merasa lebih baik. Mereka tak lagi khawatir bila makan tidak tepat waktu.

Olahan instan baik untuk sarapan pagi mengatasi gangguan lambung.

Konsumsi makanan pedas dan masam juga bukan lagi menjadi halangan. Dawir berharap dengan konsumsi bahan alam mampu menekan risiko efek samping pada masa mendatang. Menurut dr. Danang Ardiyanto di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus, umbi garut mengandung senyawa kimia seperti saponin dan flavonoid. Danang menuturkan, dalam 100 gram umbi garut terdapat 355 kalori, 0,7 gram protein, 0,2 gram lemak, dan 85,2 gram karbohidrat.

Selain itu umbi tanaman anggota famili Marantaceae itu juga mengandung 89 gram kalsium, 22 gram fosfor, 1,5 gram zat besi, 0,09 mg vitamin B1, dan 13,6 gram air. Apalagi zat pati yang paling berguna sebagai sumber karbohidrat yang mudah dicerna. “Sari pati umbi garut memiliki sifat mendinginkan perut,” kata dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Daniel Hendro Adi Siswoyo (kanan) produsen olahan umbi garut di Yogyakarta. (Dok. Daniel Hendro Adi Siswoyo)

Banyak riset yang menyatakan umbi garut meningkatkan jumlah bakteri Lactobacillus dalam pencernaan. Bakteri itu berperan menghalau bakteri penyebab penyakit. Daniel menuturkan, olahan garut yang dikonsnumsi Dawir itu bukan tepung melainkan sari pati. Proses mendapatkannya pun berbeda. Pembuatan sari pati umbi garut lebih panjang. Pekebun memarut umbi dewasa dan bersih, kemudian memeras hasil parutan itu.

Tahap berikutnya berupa penyaringan, pengendapan, pengeringan, dan pengayakan. “Sejak dulu keluarga dan masyarakat mengonsumsi umbi garut. Sudah seperti warisan nenek moyang,” tutur Daniel. Pria 32 tahun itu memproduksi olahan umbi garut sejak 2014. Semula ia memberikan olahannya hanya kepada keluarga. Pada Januari 2019 Daniel mulai memasarkan umbi garut melalui daring. Menurut alumnus Ekonomi Manajemen Universitas Gadjah Mada itu antusiasme masyarakat sangat tinggi. Banyak konsumen yang tertolong dengan mengonsumsi umbi garut. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img