Tuesday, August 9, 2022

Hobi Tanaman Rp1-M

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kesan maskulin palem roti yang tumbuh alami di Afrika Selatan itu kontras dengan gemulai nolina di pojok taman dekat selasar penghubung ruang tamu dan ruang santai. Beaucarnea recurvata itu menjulang jangkung setinggi 4 m-hampir menyentuh atap rumah. Pony tail palm yang habitat aslinya di Meksiko itu juga diapungkan dari negeri Siam. Harganya Rp80-juta.

Memasuki areal taman ruang santai yang berpemandangan ke arah Surabaya ada Cycas rumphii ‘purba’. Julukan itu pantas ditilik dari susunan ruas batangnya yang sangat rapat. Jumlahnya lebih dari 100 ruas. Setiap ruas mewakili hitungan tahun umur tanaman. Artinya umur anggota famili Cycadaceae asli Australia Utara itu lewat dari 100 tahun! Pantas penampilannya meraksasa: tinggi batang 1,7 m, tinggi tajuk, 2,5 m; bentangan tajuk 4 m. Kusnadi Halim, si pemilik, mesti membayar Rp100-juta demi mendapat si jangkung.

Toh, bukan semata-mata karena berisi koleksi tanaman mahal jika setiap akhir pekan Kusnadi Halim betah ngendon di sana. Suasana asri vila berlokasi di ketinggian 950 m dpl itu memang membuat kerasan. Kesan hijau kian kuat dengan kehadiran 4 E. lehmannii, 2 E. horridus, 2 E. princeps, Cycas ‘Glen Idle Blue’, Zamia skinneri, dan drasena yang bonggolnya pecah-pecah seperti tempurung kura-kura di sekitar bangunan utama.

Kira-kira 10 m dari situ ada gazebo berhias air terjun mini. Di tepi kolamnya Kusnadi menanam 2 blackboy Xanthorrhoea australis setinggi 40 cm dan 60 cm. Blackboy juga mengisi taman di dekat ruang barbeque. Si batang hitam itu bergandengan dengan Macrozamia moorei, serta-lagi-lagi-E. lehmanii dan Cycas ‘Glen Idle Blue’.

Obat jiwa

Ketika embun masih menempel di dedaunan Kusnadi sudah berkeliling taman seluas total 2 ha. Jika terlihat ada tanaman yang sedikit saja merana, Alex Santoso Halim-tenaga ahli kebun-siap-siap kena omelan. Maklum bagi pengusaha tambak bandeng untuk ekspor itu tanaman adalah belahan jiwanya.

Kolektor kuda pacu itu tidak sendirian mabuk kepayang karena tanaman. Di Jakarta seorang pria nekat membongkar bangunan rumah di sebuah hunian elit menjadi tanah rata seluas 3.000 m2. Di atas tanah itu lalu dibuat undak-undakan dari batu alam hingga menyerupai gunung.

Di beberapa bagian dibuat jalan setapak sehingga orang bisa berjalan hingga ke puncak. Di ‘gunung’ itulah ia menanam keluarga sikas-sikasan. Bukan jenis biasa tapi yang spektakuler. Sebut saja 65 E. hirsutus berbagai ukuran yang membuat Michael D Ferirera, jagoan tanaman hias dari Australia, terbelalak.

Di dunia sikas, hirsutus salah satu idaman. Di alam sudah sangat langka. Warna daunnya biru mempesona. Nurseri-nurseri besar di Afrika Selatan-habitat aslinya-pun hanya punya 1-2 tanaman. Harganya jangan ditanya. Salah satu yang berpola variegata banderolnya US$20.000-US$25.000 setara Rp200-juta-Rp250-juta. ‘Itu surganya encephalartos,’ kata Chandra Gunawan yang banyak mengoleksi tanaman variegata.

Namun, buat para kolektor memiliki tanaman mahal bukan sekadar urusan membelanjakan rupiah. Ada yang lebih bernilai ketimbang melulu uang. ‘Tanaman itu penghilang stres,’ ujar drg Thomas Aquinas W Santoso. Minimal 3 kali sehari alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu ‘menyantap’ obat stresnya. Pukul 06.00 sebelum berangkat praktek, pukul 12.00 sepulang praktek pagi, dan pukul 22.00 setelah praktek sore.

Cangkul di Florida

Pada jam-jam itu ayah 1 anak itu pasti ada di teras atau dak lantai 2 rumah. Di sana ia menimang-nimang tanaman koleksi seperti E. munchii dan E. turneri variegata yang baru dibeli 3 bulan silam. Kaudeks munchii baru seukuran bola kasti dengan 4 daun. Daun yang lazimnya kebiru-biruan justru kuning cerah. Harganya? Sekadar perbandingan E. munchii normal berkaudeks 5 cm di salah satu nurseri di Amerika Serikat US$600 setara Rp5,4- juta.

Koleksi lain, Zamia vasquezii berdaun kaku, Zamia furfuracea yang batangnya seperti berserabut, Z. furfuracea berbentuk seperti keong berduri, Z. furfuracea variegata dan berdaun keriting, E. horridus berdaun ekstrarapat, hingga beragam sansevieria variegata.

Bila sudah bertemu dengan para pujaan hati, pangkat, jabatan, dan status sosial para penggila tanaman itu tidak berarti. Di Tangerang, Edi Sebayang yang biasa membawahi ratusan karyawan di perusahaan kayu milik sendiri rela blusuk-blusuk masuk ke perkampungan mencari tanaman aneh. Husny Bahasuan, direktur perusahaan sarung BHS Tex, kerap membawa adenium kesayangan masuk ke kamar. Di sana ia merepotting mawar gurun itu sembari menonton acara televisi. Sehari-hari Harry Setiawan berbisnis makanan jadi dan mi. Namun, setiap akhir pekan tangan pemenang lelang aglaonema harlequin senilai Rp660-juta itu belepotan media tanam aglaonema.

Polah untuk mendapatkan tanaman pun kerap membuat kening berkernyit. Aris Andi rela menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Bangkok menuju sebuah kota kecil. Di sana ada Dion spinulosum istimewa. Diameter bulb 14 cm, tinggi bulb 35 cm. Tinggi total tanaman 2 m. Yang membetot hati, pelepah daun berwarna kuning-umumnya hijau.

Iwan Hendrayanta sudah melepas Yucca rostrata alba koleksi pada hobiis di Solo senilai Rp45-juta. Namun, setelah itu kelahiran Makassar itu jadi tidak bisa tidur tenang. Yucca berdaun putih keperakan itu selalu membayang di depan mata. Akhirnya dengan dibarter encephalartos dan uang Rp60-juta yucca kembali ke pangkuan.

Edi Sebayang sejatinya cuma kesengsem pada Sansevieria ‘Dragon King’. Namun, kolektor ayam serama itu mau tak mau memborong seisi kebun si empunya dragon king. Itu syarat untuk si empunya melepas sansevieria yang di dunia hanya ada 5 tanaman itu.

Abadi

Kenekatan para hobiis untuk mendapat tanaman incaran kadang menyerempet bahaya. Jantung seorang kolektor berdegup keras ketika memasuki bandara internasional di Cape Town, Afrika Selatan. Musababnya di dalam koper ada 50 encephalartos senilai Rp200-juta. Ia membeli tanaman itu secara legal dari Kebun Raya Kirstenbosch. Namun, yang membuat keringat dingin ia tidak sempat mengurus izin impor ke pihak berwenang. Bila koper dipindai dan terlihat ada encephalartos urusan bisa panjang. ‘Untung saja waktu itu tidak ada pemeriksaan X-ray untuk penerbangan lanjutan,’ ujarnya lega.

Pengalaman Usnelly Usman tak kalah mendebarkan. Ia sempat diberondong peluru dari senapan milik tentara di sebuah bukit di Aden, Yaman. Itu gara-gara Nelly asyik mengabadikan habitat Adenium arabicum. Untung saja lutut yang nyaris copot terbayar dengan adenium-adenium spektakuler yang ia peroleh dari sana. Sebut saja arabicum yaman berbatang merah dan arabicum golden.

Penelusuran Trubus, kelompok Cycads jadi koleksi utama kolektor kakap. Itu karena, ‘Kesannya abadi,’ ujar Kusnadi. Nyaris seluruh sikas-sikasan lamban tumbuh. Bentuk tanaman seperti tidak berubah-abadi-meski berumur puluhan tahun. Iwan Hendrayanta salah satu saksinya. Pada 1994 pengusaha perusahaan pemakaman itu menanam E. natalensis di taman di rumah barunya di kawasan Permatahijau, Jakarta Selatan. Palem roti seharga Rp2,7-juta itu ditata berdampingan dengan bromelia, palem-paleman, soka, dan heliconia.

Baru setahun lewat, taman yang semula apik terlihat berantakan. ‘Semua tanaman ukurannya cepat membesar dan tajuknya tak beraturan,’ keluh ayah putri kembar Nabila Chiara dan Nadira Chianti itu. Satu-satunya yang tidak berubah encephalartos. Jadilah sejak itu keluarga Cycads satu per satu memenuhi tamannya. Ada 50 encephalartos berbagai jenis dengan kisaran harga Rp15-juta-Rp75-juta/tanaman disana. ‘Total sekitar Rp1-miliar-Rp1,5-miliar,’ kata si empunya.

Lagipula ence dan kerabatnya berkesan gagah dan maskulin. Di halaman rumah Chandra Gunawan yang lapang, sepasang Microcycas menjuntaikan daun raksasa sepanjang lebih dari 1,5 m. Satu-satunya sikas yang epifit itu berasal dari tepian pantai di Panama yang menghadap Samudera Atlantik. Empasan angin bercampur garam membuat kerabat zamia itu tahan banting. Harganya sepasang US$ 30.000 setara Rp300-juta.

Kesan maskulin juga ada pada bonsai dan adenium-terutama jenis nonobesum. Soeroso Soemopawiro mendapat 7 indukan sancang dari Thailand pada 2001. Harga setiap induk Rp10-juta. Di tanahair bahan bonsai populer itu diperbanyak dengan cangkok. Hasil cangkok ditata di atas relief pegunungan. Hasilnya miniatur alam pegunungan yang gagah. Contoh lain adenium asal Tanzania koleksi Rusli Hadinata. Kaudeksnya membulat menyerupai botol dengan tinggi 25 cm lebar 32 cm. Warnanya yang keemasan terlihat megah.

Anak tiri

Target buruan lain ialah tanaman mutasi: bentuk maupun warna. Soeroso Soemopawiro kesengsem pada euphorbia kristata. Batang anggota famili Euphorbiaceae itu melekuk-lekuk membentuk bidang setinggi 40 cm dan lebar 50 cm. Batang crown of god lazimnya langsung meninggi. Cycas revoluta setinggi 60 cm yang seluruh daunnya berwarna kuning jadi klangenan Kusnadi. Koleksi lain Cycas revoluta berdaun keriting dan yang daunnya separuh hijau separuh kuning. Ketiganya didapat dengan merogoh kocek Rp180-juta.

Tanaman mutasi elok lainnya, gasteria variegata, adenium variegata, dan zamia berdaun rawing koleksi Rusli Hadinata, S. gracilis variegata (Edi Sebayang), serta Pandanus utilis variegata dan kaktus berbatang melintir dan miring seperti menara Piza (Chandra Gunawan). Boleh dibilang Indonesia jadi terminal tanaman elok-dan juga mahal-dunia.

Tak dipungkiri mengoleksi tanaman mahal juga berarti prestise. ‘Saya inginnya mengoleksi tanaman yang orang lain tidak punya,’ kata Husny Bahasuan. Gara-gara gaya seperti itu banyak tanaman elok kerap tergusur dari deretan koleksinya. Pada 2002 direktur 6.000 karyawan itu mengumpulkan adenium dan aglaonema koleksi terbaru. Waktu itu mawar gurun dan sri rejeki memang mulai naik daun. Harganya masih melangit. Contohnya harga tiara ketika itu Rp3-juta per daun. Sekarang sudah kurang dari setengahnya.

Perlahan 2 belahan jiwa Husny turun pamornya. Harga jauh lebih terjangkau sehingga banyak yang memiliki. Pria yang senang berkaos itu lantas menggusur adenium dari kebun koleksi di Trawas dan Surabaya. Shabi star itu ditanam berjejer di halaman pabrik di Surabaya. Kini penggemar bonsai itu tengah gandrung mengumpulkan tanaman berbonggol alias caudiciform dan euphorbia nonmilii. ‘Ini unik dan jarang yang punya,’ kata Husny.

Minimal ada 40 caudiciform sudah ia koleksi. Salah satu yang istimewa Raphionacme procumbens. Tanaman itu cuma berupa bonggol seperti batu bundar yang permukaannya datar. Diameternya sekitar 25 cm. Meski sudah setahun tidak mengeluarkan daun, sebetulnya ia masih hidup. Buat para kolektor, cinta selalu membara untuk tanaman pujaan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti, dan Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img