Friday, January 16, 2026

I Ketut Kari : Pelopor Montong di Parigi Moutong Kini Kebunkan Durian di Lahan 40 Hektare

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—I Ketut Kari mengebunkan durian komersial sejak 1998. Tentu bukan hal mudah. Pekebun durian di Desa Ogorandu, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, itu mendapat cibiran tetangga dan kolega saat menanam durian montong itu.

Namun, ia bergeming menanam montong lantaran saat itu harga durian montong untuk pasar lokal masih dianggap terlalu mahal dibandingkan dengan harga jual durian lokal. Banyak pekebun durian pesimis karena daya beli masyarakat saat itu masih rendah.

Harga durian montong mencapai Rp12.500 per kg, sementara durian lokal Rp2.000—Rp5.000 per buah pada penghujung 1990-an hingga awal 2000-an.  Semula Ketut menanam 108 tanaman durian montong di lahan seluas 1 hektare (ha).

Tiga tahun kemudian tanaman berbuah perdana dan panen. Sesuai prediksi ada tantangan dalam penjualan durian komersial itu. Demi mengenalkan durian montong, Ketut nekat menjual durian montong di pinggir jalan hingga ke Provinsi Gorontalo pada 2004. “Dahulu sistemnya seperti penjual obat keliling,” kata Ketut.

Upaya Ketut masih belum berbuah manis. Pembeli masih enggan karena harga durian yang memang relatif mahal. Ia juga menawarkan buah ke pasar swalayan. Namun ditolak karena cita rasa buah kurang optimal.

Dahulu ia belum mengetahui budidaya intensif dan pascapanen tepat durian. Pepatah usaha tidak mengkhianati hasil betul adanya. Ketut tak patah arang, segera memperbaiki budidaya dengan menerapkan pemupukan intensif dan pascapanen tepat di kebunnya hingga mutu buah meningkat.

Cita rasa durian montong dari kebun Ketut kian meningkat yaitu bertekstur kering dan legit. Masih pada tahun yang sama ternyata pembeli lah yang datang langsung ke kebun Ketut. Itu berawal ketika Ketut berhasil menjual durian montong kepada seorang maniak durian.

Akhirnya banyak pembeli datang langsung ke kebun. “Omzet dari perniagaan durian bisa sampai Rp20 juta per hari kala itu,” kata Ketut. Sejak saat itu pula banyak tetangga kebun dan kolega menanam montong karena melihat kesuksesan Ketut.

Pengembangan durian asal Thailand itu juga marak merata di Provinsi Sulawesi Tengah sejak 2004 hingga kini. Montong yang semula dianggap sulit dalam pemasaran menjadi salah satu durian yang memiliki ceruk pasar terbesar. Bahkan menjadi ikon ekspor Provinsi Sulawesi Tengah.

Ketut memperluas kebun menggunakan keuntungan perniagaan durian. Kini ia mengelola kebun seluas 40 ha. “Baru tergarap sekitar 20 ha,” kata pria berumur 50 tahun itu. Ketut tidak hanya menanam satu jenis durian.

Total jenderal ada 21 varietas yang dikembangkan Ketut. Beberapa varietas unggul komersial seperti musang king, duri hitam, bawor, masmuar, matahari, dan super tembaga bisa ditemui di kebun Ketut. Adapula durian eksotis pelangi sekadar untuk koleksi.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img