“Kayunya pasti laku keras,” kata pekebun di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.

Tabungan masa depan Raharjo itu adalah 1.600 jabon yang ditanam dengan jarak rapat 2,5 m x 2,5 m di lahan 1,25 ha. Tinggi pohon anggota famili Rubiaceae itu kini mencapai 7 – 8 m dan berdiameter rata-rata 12 cm pada umur satu tahun. “Saat ini semua pohon dalam kondisi sehat. Semoga lima atau enam tahun mendatang saya bisa memanennya,” kata Raharjo.
Pegawai sebuah perusahaan perminyakan di Jakarta itu memilih jabon bukan tanpa sebab. Ia melihat sebuah penampungan kayu di dekat kebun membutuhkan hingga 4.000 m3 kayu per bulan. “Salah satu yang dicari adalah jabon karena kayunya dianggap bagus,” kata Raharjo yang berharap memanen 500 m3 dengan harga jual Rp900.000 per m3 itu.
Nun di Malang, Jawa Timur, Melati Tanjungsari juga menanam jabon pada 2010. Melati memanfaatkan lahan kopi robusta seluas 5 ha di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Di sana ia menanam 7.000 jabon di sela-sela tanaman kopi. Tinggi pohon jabon itu kini 6 – 7 m dan berdiameter rata-rata 10 cm. “Untuk pasar, sudah ada yang siap menampung,” ujar perempuan 28 tahun itu.
Meluas
Sejak digadang-gadang pada pertengahan 2010 sebagai salah satu pohon untuk keperluan industri selain sengon, pamor jabon langsung meroket. Apalagi sederet kelebihan melekat pada kayu kelas awet IV itu – setara kayu agathis, kayu bayur, dan kayu kenari – seperti tahan penyakit dan sangat disukai industri kayu. “Tahan penyakit itu penting karena ini investasi jangka panjang,” kata Surya – nama samaran – pengusaha asal Bandarlampung, Provinsi Lampung, yang menanam 12.000 jabon di kebun seluas 23 ha di Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Keunggulan lain Anthocephalus cadamba yang belum banyak diketahui adalah tunas baru pascapanen cepat tumbuh. “Jabon itu dengan tanam satu kali bisa 2 – 3 kali panen. Tunas baru akan lebih cepat menjadi pohon karena akar induk sudah lebih luas penyebarannya,” kata Dr Ir Irdika Mansur MForSc, dosen di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, saat acara Seminar Nasional Jabon di Bogor pada September 2011.
Maraknya penanaman jabon terlihat dari penelusuran Trubus di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Daerah dengan topografi berbukit-bukit itu dipenuhi barisan pohon-pohon jabon rata-rata berumur 1 – 2 tahun. “Empat tahun lalu di sini hanya berupa tanah kosong, tetapi sekarang jabon ditanam sampai ke lereng-lereng bukit,” ujar Nur Jaini, pengawas salah satu kebun jabon seluas 2,5 ha di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamanis.
Indikasi lain terus meluasnya penanaman jabon adalah penjualan bibit. Dua produsen bibit jabon yang dihubungi sepakat terdapat kenaikan penjualan sejak 2 tahun terakhir. “Dua tahun lalu volume penjualan 400.000 bibit per tahun, sekarang bisa 1,3-juta bibit per tahun,” kata Sugeng dari CV Alam Jabon Sentosa di Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur. Hal senada disampaikan oleh Ardha Primatopan. “Order mencapai 100.000 bibit per bulan terutama pada awal musim hujan,” kata pembibit di Kendal, Jawa Tengah, itu.
Menurut Sugeng, pembeli bibit – hampir 80% perorangan – datang dari seluruh penjuru negeri mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Bibit yang diinginkan tingginya minimal 30 cm. Meski permintaan terus meningkat, harga bibit turun. Dua tahun lalu harga bibit setinggi 30 – 40 cm Rp3.500, kini Rp1.000 – Rp1.500/batang. “Penurunan itu terjadi karena bibit jabon sekarang mudah diproduksi,” kata Sugeng.
Kebun-kebun besar pun terus menggenjot penanaman. Contoh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII di Jember, Jawa Timur. Menurut Sumeji A Fajar dari PTPN XII, luas penanaman baru pada 2010 mencapai 204,22 ha dengan populasi 132.297 pohon. Saat ini total jenderal PTPN XII mengelola 1164,38 ha kebun jabon berpopulasi 1.034.809 pohon. “Di luar kawasan PTPN, masyarakat juga terlihat ramai menanam jabon,” kata Sumeji.
Antirugi
Maraknya penanaman jabon di berbagai tempat yang nyaris serempak itu menyisakan pertanyaan besar, saat pekebun ramai-ramai memanen jabon lima atau enam tahun ke depan, sanggupkah pasar menyerapnya? Menurut Krishnadi, pengolah kayu di Temanggung, Jawa Tengah, pekebun tak perlu takut sulit memasarkan hasil panen. “Saya sendiri malah takut 4 – 5 tahun ke depan malah tidak kebagian kayu jabon,” katanya.
Menurut Agus Hendarto dari PT Kupajala Wanantara Kalyana (KWK) di Jakarta, perusahaan kemitraan jabon sekaligus penampung kayu jabon, kebutuhan kayu industri terus meningkat setiap tahun. “Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal pasar,” katanya. Dari hitung-hitungan Agus biaya produksi jabon termasuk rendah. Untuk satu ha dengan populasi 800 pohon biaya pemeliharaan selama 5 tahun sebesar Rp5,96-juta atau sekitar Rp7.456/pohon. Hasil panen per ha rata-rata 200 m3. Dengan harga saat ini sekitar Rp900.000/m3, pekebun bisa meraup omzet Rp180-juta.
Andai pun harga per m3 turun sampai separuhnya lantaran panen jabon melimpah, tak menjadi masalah. “Sampai harga Rp100.000 per m3 pun saya tetap untung,” ujar Surya di Lampung yang telah berhitung cermat sampai melambungkan biaya produksi hingga Rp15.000/pohon itu. Pada kenyataannya harga kayu bakal terus naik. Sebagai gambaran 2 tahun lalu harga per meter kubik jabon berkisar Rp600.000 – Rp750.000. Saat ini sudah rata-rata Rp900.000 – Rp1,2-juta per m3.
Peluang besar
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan kebutuhan kayu nasional rata-rata mencapai 43-juta m3 per tahun. Dari jumlah itu sebesar 9,1-juta dipasok dari hutan alam sehingga terjadi defisit 34-juta m3. Kekurangan itu coba dipenuhi dari hutan tanaman industri (HTI), Perhutani, dan hutan rakyat – termasuk di dalamnya pekebun, tetapi belum juga mencukupi. “Peluang kayu-kayu budidaya sangat besar di sini,” kata Soesilo Indarto, kepala Subdit Penghijauan Kementerian Kehutanan ketika menyampaikan presentasi di Seminar Nasional Jabon di Bogor.
Pekebun kayu industri seperti jabon memang akan memetik untung ke depan. Apalagi beberapa industri yang sudah melakukan ekspansi pasar ke luar negeri membutuhkan jabon lantaran kayu kelas kuat V itu disukai konsumen. “Kami biasa memakai jabon untuk pelanggan yang meminta 100% kayu alam seperti pembeli dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa,” kata Capt M Sain Latief dari PT Kutai Timber Indonesia. Jabon biasanya dipakai untuk pelapis atas dan bawah karena tekstur seratnya bagus.
Menurut Ardha Primatopan, kayu jabon juga disukai pembeli dari Jepang, Korea, dan Uni Emirat Arab. “Mereka suka karena kayunya ringan, kuat, dan halus,” kata Ardha yang membikin mebel, kayu lapis, hingga mainan anak-anak berbahan kayu jabon itu. Demikian besar kebutuhan kayu jabon, jadi pantas kayu pionir asli hutan Indonesia itu menjadi tabungan masa depan seperti harapan Raharjo. (Dian Adijaya S/Peliput: Susirani Kusumaputri)
