Wednesday, August 10, 2022

Merah Dampingi Putih

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jabon merah umur 5 tahun di Temanggung, diameter hampir 25 cmKata ajib mengacu pada bahasa gaul anak muda itu berarti luar biasa. Gumilar melontarkan kata itu saat menunjukkan beberapa pohon jabon merah Anthocephalus macrophyllus di kebunnya seluas 5 ha di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sana ia menanam 500 jabon merah pada pertengahan 2010. Doktor Sosiologi alumnus Universitat Belfield, Jerman, itu mengungkapkan sederet keunggulan jabon merah, antara lain daun sebagai pakan domba.

Selain itu ulat juga tak menggemari daun jabon merah. Itu berkebalikan dengan jabon putih Anthocephalus cadamba, domba tak menyukai daunnya. Celakanya ulat penggulung daun justru gemar menyantap daun jabon putih. Soal kecepatan tumbuh, menurut Gumilar, tidak ada perbedaan mencolok antara jabon merah dan jabon putih. Di kebun Gumilar, pohon mencapai tinggi 5 – 6 m dan bergaris tengah 10 cm pada umur 1,5 tahun. Padahal pada awal penanaman, ia banyak menerima informasi soal lambatnya pertumbuhan samama alias jabon merah.

Disangka lambat

Menurut Ir Agus Fatoni dari Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (AHTRMI) wilayah Kediri, Jawa Timur, jabon merah lambat tumbuh ketimbang jabon putih. Begitu juga dengan Ardha Primatopan, pembibit tanaman kayu di Kendal, Jawa Tengah, yang mengatakan bahwa samama alias jabon merah panen pada umur 8 – 10 tahun. Kadamba atau jabon putih hanya perlu 5 – 7 tahun, saat diameter batang mencapai 30 cm atau lebih.

Penampilan jabon merah dan jabon putih berbeda nyata. Daun jabon merah lebih lebar dengan helai daun penuh sampai pangkal tangkai daun. Selain lebar, daun jabon merah juga tebal dan berbulu di permukaan atas. Tulang daun muda merah sampai di ujung daun. Warna serat kayu kemerahan sehingga sebutan jabon merah melekat pada pohon anggota famili Rubiaceae itu. Ukuran biji dan bunga lebih besar dan mengkilap.

Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar fisiologi tanaman, daun lebar menguntungkan dari segi kemampuan menangkap sinar matahari. “Klorofil di permukaan daun lebar lebih banyak sehingga energi hasil fotosintesis pun lebih banyak,” kata Yos. Di sisi lain, itu juga bisa menjadi kelemahan lantaran daun lebar yang terkulai bisa menutupi daun di bawahnya. Alih-alih meningkatkan fotosintesis, itu justru mengurangi kemampuan pohon menangkap sinar matahari sehingga pembentukan energi di bagian lain berkurang. Akibatnya pertumbuhan melambat.

Namun, itu hanya terjadi jika daun tumbuh membesar sampai menjuntai akibat kelebihan pasokan unsur nitrogen. Pada pohon yang daunnya besar secara alami, biasanya memiliki kemampuan mekanisme absisi alias pengguguran daun saat kemarau. “Itu yang terjadi pada jati,” kata Yos. Pada jabon, pengguguran daun terjadi di daun terbawah dengan mekanisme self pruning alias menggugurkan daun dan cabang terbawah.

Menurut peneliti di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Irdika Mansur MForSc, kemampuan menggugurkan daun terbawah terjadi karena pohon mengeluarkan hormon yang memblokade aliran air dan hara ke daun dan cabang terbawah. Setelah kering, cabang dan daun akan rontok sendiri. “Makanya jabon – baik putih atau merah – tidak perlu pemangkasan,” kata Irdika. Saat musim kemarau, samama berpotensi menderita kekeringan karena berdaun lebar, sehingga ia mesti mengurangi jumlah daun untuk bertahan hidup. Konsekuensinya jelas, pertumbuhan melambat.

Kondisi itu mengakibatkan pertumbuhan jabon merah lebih lambat 25 – 40% ketimbang jabon putih. Gambarannya, “Kalau umur panen jabon putih pada umur 5 – 6 tahun, maka samama bisa 8 – 10 tahun,” kata Ardha. Saat itu diameter batang mencapai lebih dari 40 cm sehingga tergolong kualitas A. Harga di tingkat pekebun di atas Rp1-juta per m3.

Namun, pertumbuhan lambat terjadi hanya jika samama kekurangan air. “Kalau kebutuhan air tercukupi, pertumbuhannya sama cepat dengan kadamba,” kata Joko Tulus Sanyoto dari divisi penanaman dan kemitraan PT Kutai Timber Indonesia (KTI). Itu berdasarkan pengamatan Joko di lapangan. Temuan Joko dan pengalaman Gumilar pun mematahkan anggapan bahwa samama lebih lambat ketimbang jabon putih.

Toleran

Sebenarnya keunggulan jabon merah bukan cuma tahan ulat dan cepat tumbuh. Industri kayu juga berminat pada jabon merah. “Pasar Eropa menghendaki kayu merah,” kata Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera – produsen kayu lapis di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Adapun pasar Asia – terutama Jepang dan Korea – lebih menghendaki jabon putih dan sengon, yang kayunya berwarna putih. Artinya pengembangan jenis jabon, tergantung pasar yang hendak dibidik.

Menurut Joko samama potensial menggantikan mahoni atau meranti, yang masa tumbuhnya perlu 20 – 40 tahun. “Serat dan warnanya hampir mirip,” kata Joko. Saat melakukan pengujian terhadap jabon merah dan jabon putih, divisi penelitian dan pengembangan PT KTI mendapati densitas alias rapat jenis jabon merah lebih tinggi daripada jabon putih. Densitas samama 0,44 g; sedangkan kadamba, 0,42 g per cm3. Oleh karena itu KTI getol memperluas penanaman samama di Jawa Timur pada 2 tahun terakhir.

Saat ini, harga bibit samama lebih mahal 2 – 2,5 kali lipat kadamba. Musababnya, “Pasokan bibit dari daerah Indonesia Timur terbatas,” kata Ardha. Menurut Hendrikus Setiawan, pembibit jabon di Malang, Jawa Timur, pertumbuhan benih samama juga lebih lambat ketimbang kadamba sehingga perawatan lebih lama. Itu menjadikan pembibit mesti membedakan harga jual.

Perbedaan harga itu kerap dimanfaatkan pembibit nakal yang melabel bibit jabon putih sebagai jabon merah. Tujuannya semata meraup profit dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli. Menurut Joko, yang perlu diperhatikan adalah bentuk daun dan tunas daun. “Ciri utama jabon merah adalah tulang daun menutup sampai pangkal, sedangkan bentuk tunas daun menyerupai kelopak bunga,” kata Joko.

Menurut Ardha, penanaman jabon merah dan putih bersamaan membuat orang bisa menikmati panen bertahap hingga tahun ke-9 – 10. Polanya, tahun ke-3 panen dari penjarangan jabon putih, lantas tahun ke-5 – 6 panen jabon putih. Berikutnya, tahun ke-7 panen pertama jabon merah, lalu panen total jabon merah di tahun ke-8 – 9. Ardha menyarankan perbandingan kadamba dan samama antara 9:1 hingga 7:3. Jabon merah pun tidak lagi menjadi anak tiri. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Tri Susanti & Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img