Penambahan jeli dalam kelapa muda dan daging buah sudah terkupas, makin lezat.
Trubus — Deru mesin kendaraan terdengar dari dalam rumah. Rahmad Kudri Rusli keluar menghampiri lalu menurunkan muatan mobil bak terbuka itu. Ia memasukkan buah-buah kelapa utuh yang baru dipetik dari kebun itu ke “dapur”. Bukan dapur tempat memasak sayur atau lauk-pauk, melainkan tempat membuat minuman dari air dan daging buah kelapa. Di sana pekerja mengeluarkan air kelapa, mengerok dagingnya, menambahkan jeli air dan gula, merebus sampai mendidih, lalu membiarkan sampai dingin.

Sabut dan tempurung tidak dibuang. Bermodal parang tajam, pekerja lain mengiris bagian luar sabut sehingga membentuk kerucut. Mereka mengupas sabut sedemikian rupa sehingga bagian luar kelapa berwarna putih bersih. Setelah rapi dan bersih, Rahmad mengisikan kembali rebusan air kelapa dingin ke dalam kelapa. Ia membungkus dengan plastik wrapper lalu mendinginkan dalam kulkas. Setelah dingin, jadilah kelapa “instan” berisi air kelapa plus rautan daging kelapa dan jeli yang segar.
Kewalahan
Rahmad melabeli produknya dengan merek Indatu d’Coco. Coco merujuk pada Cocos nucifera alias kelapa. Ia menambahkan jeli berbahan rumput laut. Pengusaha itu membuat minuman kelapa itu sejak Januari 2016 karena terinspirasi ketika bekerja di Malaysia. Ayah 2 anak itu memilih kelapa genjah sebagai bahan baku lantaran ukurannya lebih kecil sehingga pas untuk sekali konsumsi oleh satu orang.

“Pengolahan kelapa dalam lebih sulit karena serabut lebih liat dan tempurung lebih keras,” kata Rahmad. Ia tidak menentukan umur pasti kelapa, hanya mensyaratkan sudah terbentuk daging tipis. Masyarakat menyebutnya degan. Oleh karena itu, ia membuat 2 ukuran, yakni standar dan kecil. Padahal, semula kelapa berukuran kecil tidak punya pasar. Setelah mengolah, Rahmad menjualnya dengan harga lebih murah daripada yang berukuran standar. “Produk kelapa genjah ukuran kecil yang semula tidak laku dijual jadi punya pasar,” kata anak ketiga dari tujuh bersaudara itu.
Rahmad tidak menambahkan pengawet sehingga pascaproses kelapa itu mesti segera masuk kulkas. Ia tidak menyarankan penyimpanan dalam freezer karena bisa membeku. Dengan cara itu, “Di atas kertas bisa tahan seminggu,” katanya. Jika dibiarkan di ruangan, dalam sehari saja produk itu rusak lantaran dominan air kelapa. Ia membuat sekitar 200 liter minuman yang dikemas dalam 300 buah kelapa. Selain daging kelapa dan jeli yang meningkatkan volume, ia juga menambahkan air sekadar agar jumlahnya pas.
Bermodal ilmu dari pendidikan di sekolah kejuruan mesin produksi, Rahmad sempat merancang mesin bubut khusus untuk membentuk kelapa sesuai keinginannya. Variasi ukuran dan bentuk kelapa menjadikan hasilnya tidak memuaskan. Berkali-kali mencoba, akhirnya ia kembali menggunakan cara manual. Dalam sejam, seorang tenaga terampil bisa membentuk 30—40 kelapa. Tenaga berbeda mengupas dan mengerok daging buah. Sementara itu pekerjaan meracik, merebus, dan mengolah pun dikerjakan orang berbeda.
Membuka cabang

berbeda. (Dok. Rahmad)
Selain dalam tempurung berbentuk artistik itu, Rahmad juga mengemas jeli kelapa itu dalam gelas dan botol untuk segmen berbeda dengan harga jual lebih murah. Pada Januari 2016, ia memulai dengan produksi 10 kelapa per hari. Angka itu perlahan naik menjadi 15 buah, 20 buah, 30 buah, lalu mencapai 40 kelapa per hari. Pada tahap itu ia mulai keteteran. Maklum, ia melakukan semuanya sendiri, mulai dari berbelanja, mengupas, meracik, merebus, mengemas, sampai berjualan keliling.
Rahmad mengandalkan sepeda motor yang dilengkapi kotak di bagian belakang sadel sebagai wadah ketika berkeliling. Kapasitas kotak itu hanya 30 buah sehingga begitu permintaan bertambah, ia mengubah strategi pemasaran dengan menitip jual (konsinyasi). Meski tahan sepekan, setiap 4 hari ia mendatangi mitra konsinyasi, menarik produk yang belum terjual, dan menitipkan produk yang baru.
Ia memperoleh pasokan kelapa dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, berjarak 240 km. Saat ini Indatu di Banda Aceh memproduksi rata-rata 300 buah per hari. Total waktu untuk memproses semuanya sampai siap konsumsi dalam keadaan dingin adalah 8 jam. Untuk menghemat waktu proses, ia menempatkan tenaga pengupas di Meulaboh. Proses di Banda Aceh tinggal memerlukan waktu 4—5 jam. Untuk mempertahankan kesegarannya, Rahmad menempatkan dalam kotak stirofoam.
Pengusaha itu berencana memasarkan kelapa instan di Jakarta. Sebelumnya, ia membuka cabang di Medan dan Yogyakarta. Pada November 2019, ada 5 cabang selain Banda Aceh. “Tiap cabang memanfaatkan kelapa dari sumber terdekat,” ujar pria berusia 51 tahun itu. Dengan cara itu ia memberdayakan pekebun lokal sekaligus mengefisienkan rantai pasokan. (Argohartono Arie Raharjo)
