Sunday, June 7, 2026

Sabut Kelapa untuk Pasar Ekspor

Rekomendasi
- Advertisement -

Mengolah sabut kelapa untuk memasok pasar ekspor. Potensi besar belum dilirik.

Efli Ramli, S.E. Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI). (Dok. Efli Ramli)

Trubus — Efli Ramli, S.E. merancang mesin sepanjang 220 cm dan tinggi 130 cm. Ia merancang mesin pengolah sabut kelapa itu pada 2006 selama dua bulan dan menghabiskan biaya Rp115 juta. Menurut Efli harga itu lima kali lebih murah dibandingkan dengan mesin serupa dari mancanegara. Harga mesin impor untuk mengolah sabut mencapai Rp550 juta. Efli lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung merakit sendiri mesin itu.

Menurut Efli menggunakan mesin impor berarti padat modal. Ia harus menyiapkan paling tidak Rp2,5 miliar untuk mendirikan sebuah pabrik pengolahan sabut kelapa. Bandingkan dengan penggunaan mesin lokal buatannya sendiri, ia mampu menekan biaya. Efli menghemat hingga Rp450 juta ketika mendirikan PT Mahligai Indococo Fibre (MIF) pada 1997 yang fokus mengolah sabut kelapa.

Hemat investasi

PT Mahligai Indococo Fibre kini mengelola 14 pabrik pengolahan sabut yang tersebar di Provinsi  Sumatera Barat, Lampung, dan Jawa Barat. Mesin rancangan Efli berbahan bakar solar. Kapasitas tangki bahan bakar 100 liter. Efli mengolah 50 ton sabut kelapa per bulan dengan mesin itu. Pria kelahiran 1 Mei 1962 itu memperoleh bahan baku sabut kelapa dari berbagai sentra seperti Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam. Sumber bahan baku lain 6 sentra di Kota Pariaman, Sumatera Barat, 6 lokasi di Provinsi Lampung, dan empat lokasi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Serabut kelapa bahan baku matras atau jok mobil untuk mengisi pasar ekspor.

Syarat sabut alias kulit kelapa harus kering berkadar air 18% dan serat terurai baik dengan pengelemenan yang baik. Ia mengolah sabut kelapa menjadi dua produk, yakni serabut dan serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Sebetulnya serbuk sabut merupakan produk sampingan. Namun, pasar tetap menerima pasokan. Menurut Efli dari 6.250 butir kelapa menghasikan 50 ton serbuk kelapa dan 100 ton sabut per bulan.

Ia kemudian menata serat sabut itu sebanyak 15—25 ton ke dalam kontainer. Meski menggunakan mesin lokal, Efli mampu menghasilkan serbuk dan sabut kelapa unggul. Ia rutin mengekspor 80% produksi serat sabut per bulan. Negara tujuan ekspor antara lain Jepang, Korea Selatan, Italia, dan Amerika Serikat. Menurut Efli standar ekspor sabut kelapa antara lain berkelembapan 18%, kadar debu 3%, dan serat terurai keseluruhan.

Adapun standar ekspor serbuk kelapa memiliki pH minimum 5,7 dan maksimum 6,5, kelembapan 18%, dan konduktivitas elektrik (ec) di bawah 600 µm. Efli mengatakan, kualitas sabut kelapa dari Indonesia tergolong paling baik. Efli mengolah bahan baku secepat mungkin. Efli membatasi pengupasan sabut kelapa maksimal 1 minggu. Makin lama interval pengolahan sabut menghasilkan produk bermutu rendah. Pasar ekspor membutuhkan serat sabut kelapa sebagai bahan baku matras, jok mobil, dan keperluan rumah tangga seperti sapu, keset, dan tali.

Serapan tenaga kerja

Mesin pengolah sabut kelapa karya Efli Ramli. Harga lebih murah dengan kualitas produksi yang bersaing. (Dok. Efli Ramli)

Menurut Efli pasar ekspor membutuhkan serbuk sabut kelapa untuk jok mobil, matras, tali tambang, media tanam pembibitan, dan “kasur” istal atau kandang kuda. Permintaan sabut kelapa dunia 14.000 kontainer setara 350.000 ton sabut kelapa per tahun. Produksi sabut kelapa Indonesia baru memenuhi 5%. Padahal, Indonesia negara penghasil kelapa terbesar. Menurut Efli Ramli sabut Indonesia paling baik.

Ketersediaan bahan baku juga melimpah. “Dalam setahun, Indonesia mampu menghasilkan 15 miliar kelapa. Delapan butir kelapa dapat menghasilkan 1 kg sabut kelapa, berarti dalam setahun terdapat 1.875 juta ton sabut kelapa,” kata Efli. Sayangnya, biaya transportasi di dalam negeri terbilang mahal. “Pelabuhan di Indonesia belum semua memiliki fasilitas ekspor, sedangkan biaya pengiriman dari daerah untuk ke pelabuhan ekspor 5 kali lebih mahal dibandingkann dengan biaya ekspor,” kata Efli yang mengolah sabut sejak 1997.

Efli yang menjabat ketua umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) sangat berharap industri sabut berkembang. Selain mendatangkan devisa besar bagi negara, pengolahan sabut kelapa juga membantu menyerap banyak tenaga kerja. Menurut Efli, satu pabrik sabut kelapa dapat menyerap paling tidak 120 orang tenaga kerja. Saat ini AISKI menaungi industri sabut kelapa yang tersebar di 12 provinsi di Indonesia. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Cangkang Udang Jadi Sumber Astaxanthin Bernilai Tinggi

Cangkang udang yang selama ini terbuang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Melalui inovasi berbasis bioteknologi, limbah tersebut...

More Articles Like This