Monday, August 8, 2022

Jenitri Kelas Ekspor

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penjemuran di tampah mempermudah pembalikan. (Dok. Trubus)

Setelah panen jenitri, petani merebus, mengupas, lalu menjemur buah. Jadilah jenitri berkualitas.

Dalam 6 bulan bunga menjadi jenitri siap panen. (Dok. Trubus)

Trubus — Nyala kayu bakar memanaskan dua dandang besar. Uap mengepul dari sela tutup dandang. Itulah suasana dapur pekebun jenitri di Desa Pujotirto, Kabupaten Kebumen, Umar Hadi ketika musim panen. Ia merebus buah Elaeocarpus ganitrus itu selama minimal delapan jam untuk mempermudah proses pengupasan. “Pengolahan yang baik menghasilkan jenitri berwarna merata dan tampak mengilap,” kata Umar.

Kesan mengilap itu lantaran biji bersih dari sisa kulit dan kering sempurna. Prosesnya tidak sulit tapi memerlukan ketelatenan sehingga banyak pekebun tidak sabar. Pengepul jenitri di Pujotirto, Dartadi menyatakan, kebanyakan pekebun menjual buah di pohon secara borongan kepada pengepul. “Jarang sekali yang mengolah sendiri,” katanya. Menurut Umar keuntungan pekebun mengolah buah sendiri adalah mengetahui dengan pasti kualitas dan jumlah hasil panen.

Belajar ke pembeli

Sebaliknya, pengepul seperti Dartadi ingin memproses agar langsung memisahkan biji afkir. Menurut Dartadi buah yang pernah terserang penggerek menyebabkan biji berlubang.

Ketika pemrosesan, lubang pada biji itu tampak sebagai titik hitam yang merusak penampilan biji. Umar mengolah sendiri jenitri dari pohon miliknya sejak 2012. Saat itu seorang pemborong jenitri dari pohon milik Umar berkeras mengolah dengan cara yang sesuai keyakinannya. Ia setuju dengan syarat ingin melihat untuk ikut belajar. Setelah itu, Umar selalu memproses buah sendiri kecuali pembeli berani membanderol harga tinggi sejak di pohon.

Jenitri tumbuh  di hampir semua pekarangan rumah di Desa Pujotirto, Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. (Dok. Trubus)

Menurut perajin aksesori jenitri Alam Rudraksha di Kelurahan Kawedusan, Kabupaten Kebumen, Fuji Wahyono, pada musim panen pembeli dari India, Nepal, atau Tiongkok menyewa rumah di Kebumen. “Bagi umat Hindu, jenitri dianggap suci. Itu sebabnya mereka memantau cara pengolahannya,” kata Umar. Sebutan jenitri di India dan Nepal adalah rudraksa, yang artinya mata ketiga Dewa Siwa.

Fuji menceritakan, seorang utusan pernah memarahi pengepul di Kebumen gara-gara sang pengepul mengupas jenitri dengan menginjak-injaknya. Sejatinya cara itu lazim dilakukan di beberapa sentra jenitri di Jawa Timur. Di sana jenitri tumbuh liar di hutan.

“Dulu pun saya mengupas dengan cara menginjak karena praktis, cepat, dan murah,” kata kakek 4 cucu itu. Umar memanen ketika hampir seluruh buah di pohon matang. “Saat tepat memanen ketika kira-kira 80% buah matang,” kata penyuluh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kebumen, Umi Barokah, S.P, M.P.
Dahulu kalau ada 1—2 saja buah matang, pekebun langsung memetik semua buah di pohon itu. Menurut Umar panen harus hati-hati karena buah matang bersamaan dengan munculnya tunas bunga yang siap panen 6 bulan berikutnya.

Rebus 14 jam

Perajin aksesori jenitri dan pemilik bengkel Alam Rudraksha, Fuji Wahyono. (Dok. Trubus)

Jika serampangan, pemanenan bisa merusak bunga, yang otomatis mengurangi jumlah panenan berikutnya. Pemanen menjatuhkan buah menggunakan galah berujung pisau dengan mata pisau menghadap ke atas. Pemanen menempatkan pisau di tangkai buah dekat ranting lalu mendorong sampai tangkai terpotong. Itu salah satu alasan Umar Hadi lebih suka memanen sendiri ketimbang mempercayakan kepada orang suruhan pengepul.

Menurut Umar, buah pascapetik tidak harus langsung diolah. “Bisa saja kita simpan dalam karung atau bakul bambu sambil menunggu pohon lain panen lalu nanti pengolahannya sekaligus,” katanya. Prinsipnya, makin cepat mengolah, makin cepat menjadi biji siap jual. “Saat ini pengepul sangat mau membeli biji. Tapi harganya hanya Rp25—Rp30 per biji,” katanya.

Sebelum belajar cara pengolahan pascapanen ke pembeli, Umar merebus biji selama 4—6 jam. Kemudian ia mengupas biji dengan cara menginjak-injak sampai kulitnya terlepas. Selanjutnya ia menjemur biji sampai benar-benar kering. Sekarang ia mengubah teknik pascapanen. Ia merebus dengan kayu bakar selama 8—14 jam. Kalau air rebusan berkurang, ia segera menambahkan air baru.

Pada akhir perebusan, air sisa rebusan berwarna biru gelap seperti kulit buah jenitri matang. Setelah air dingin, ia mengupas buah dengan pulper. “Paling bagus pulper dengan mata pisau berbahan besi tahan karat. Bijinya lebih bersih,” tuturnya. Berikutnya, ia menjemur biji. Caranya seperti menjemur gabah, dengan membalik tiap 20—30 menit.

Tujuannya agar kekeringan biji merata sehingga warnanya pun seragam tidak belang. Saat kemarau, penjemuran cukup sehari. Umar menyimpan biji kering sempurna dalam karung sembari menanti pembeli. Jika harga cocok, biji itu menjadi sumber rupiah yang menggiurkan. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articlePangan Cadangan
Next articleMeraup Laba Rudraksha
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img