Wednesday, August 10, 2022

Meraup Laba Rudraksha

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kalung jenitri buatan bengkel milik Fuji Wahyono. (Dok. Trubus)

Mendulang rezeki dari jenitri.

Trubus — Rumah di Desa Kawedusan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu selalu bising. Deru gerinda atau dentaman palu terdengar sampai ke rumah di sebelahnya. Gerinda itu berhenti berputar praktis hanya ketika hari gelap. Di teras rumah, tampah berisi biji-biji sebesar telur cecak terhampar menadahi sinar matahari. Biji-biji itu adalah jenitri Elaeocarpus ganitrus. Sang pemilik rumah, Fuji Wahyono (41), merangkai jenitri menjadi gelang, kalung, matras, tas, atau mala—tasbih sarana bermeditasi umat Hindu.

Fuji mengirim aksesori itu kepada pelanggan di Tiongkok dan Nepal. “Semua bentuk yang saya buat adalah pesanan dari pembeli sehingga pasti sesuai selera mereka,” ungkap ayah 3 anak itu. Pesanan enam bulan terakhir adalah gelang dan tas masing-masing 5.000 buah. Harga gelang Rp25.000, sedangkan tas Rp150.000 per buah. Saat Trubus mengunjungi bengkelnya pada Januari 2020, Fuji menunjukkan rangkaian jenitri berbentuk ular kobra yang siap mematuk. Ia menyatakan itu adalah pesanan khusus dari pembeli di India.

Produsen aksesori jenitri Alam Rudraksha di Kebumen, Jawa Tengah, Fuji Wahyono. (Dok. Trubus)

Terpincut akik

Fuji menggeluti produksi aksesori jenitri sejak 2014. Biji pohon Elaeocarpus ganitrus itu menjadi pilihan ketika ia memutuskan meninggalkan kehidupan di ibu kota. Ia memilih pulang ke Kebumen, tempat kelahirannya. Melihat belimpahnya jenitri, Fuji lantas menjadikan biji bermotif unik itu sebagai mata pencaharian baru. Belum lagi ia serius mendalami jenitri, demam batu akik melanda.

Dasar Fuji juga menggandrungi akik, ia asyik berburu batu indah itu sampai tidak sadar bahwa trennya mereda. “Pas balik ke jenitri, saya sudah ketinggalan start,” katanya. Ia tidak tahu jenis maupun harga yang populer di pasar (baca boks “Aral Jenitri”). Suatu hari, sang istri pulang dari kegiatan PKK membawa tas berbahan manik-manik. Akal Fuji muncul, ia berniat membuat produk sejenis menggunakan biji jenitri.

Pengeboran biji jenitri untuk dijadikan rangkaian. (Dok. Trubus)

Setelah berunding, sang istri mencoba merangkai biji-biji jenitri menjadi tas. “Namun PR saya belum selesai. Saya bisa membuat tapi tidak bisa menjual,” katanya mengenang. Pasar lokal tidak meminati, bahkan menganggap aneh karya itu. Unggahan foto produk itu di blog, laman maya, maupun media sosial minim tanggapan. Melihat banyaknya utusan pembeli jenitri mancanegara yang mengontrak rumah di Kebumen, Fuji memutuskan “bergerilya” dari pintu ke pintu.

Upaya itu pun tidak seketika berhasil. Tidak satu pun pembeli jenitri yang ia datangi tertarik apalagi membeli. Tidak putus asa, beberapa hari kemudian ia kembali mengunjungi orang-orang yang sama untuk menawarkan tas berbahan rangkaian jenitri itu. Ia melakukannya berulang-ulang sampai, “Salah satu ada yang kasihan dan mempersilakan saya masuk. Saat ia bertanya saya bisa membuat apa saja, saya jawab ‘Apa yang Anda mau saya bisa buatkan’. Padahal waktu itu baru bisa membuat tas,” katanya sambil tergelak.

Mengkaryakan tetangga

Setelah tawar-menawar, sang pembeli lantas memesan 23 jenis aksesori berbahan jenitri, antara lain berupa tas, gelang, kalung, dan mala masing-masing sebanyak 100 buah. Fuji pulang dengan kegembiraan meluap-luap.

Produksi pesanan pertama itu jauh dari lancar. Selain harus mencoba-coba, semuanya hanya mereka bertiga, Fuji, istri, dan pembantunya, yang mengerjakan. Keruan saja tenggat yang pembeli tetapkan tidak terpenuhi. Untungnya utusan pembeli asal Nepal itu tidak mempermasalahkan. Pembeli membayar tunai tanpa keluhan, bahkan menjadi pelanggan tetap sampai sekarang. Setelah itu, pesanan datang susul-menyusul. Sadar keterbatasannya, Fuji tidak lantas kalap. Ia memilih fokus memenuhi pesanan pembeli pertamanya dahulu.

Untuk melayani pembeli selanjutnya, Fuji mengaryakan para tetangga. Waktu itu, ada 25 orang yang membantu kelancaran produksinya. Lantaran keterbatasan tempat di bengkel, ia memberikan kelonggaran kepada pekerja untuk mengerjakan di rumah masing-masing. Pada Januari 2020 pekerjanya tinggal 20 orang, 5 di antaranya bekerja di bengkel. Musababnya ia kesulitan bahan baku. “Kebanyakan sudah dijual secara butiran oleh pengepul kepada pembeli mancanegara sehingga saya tidak kebagian,” katanya.

Selain itu, cuaca ekstrem pada 2019 membuat pasokan biji anjlok. Setiap 45 hari ia mengirim 23 jenis aksesori masing-masing 200 buah. Ia yakin dan konsisten memproduksi jenitri, bahkan menanam 5.000 pohon yang tersebar di 10 tempat.

Aral Jenitri

Jenitri 21 mukhi koleksi Fuji Wahyono. (Dok. Trubus)

Keasyikan menggeluti batu akik membuat Fuji Wahyono nyaris berpaling dari jenitri. Ketika tren akik meredup, ia tidak lagi mengetahui jenis yang disukai pasar maupun kisaran harga. Akibatnya ia terperosok. Ketika seseorang menawarkan satu bak truk jenitri seharga Rp300 per biji, Fuji terpincut lalu membeli. Begitu bertanya kepada seorang teman, ternyata harga jenitri yang ia beli itu hanya Rp30 per biji. Keuntungan dari batu akik dan tabungannya sampai nyaris ludes.

Untungnya Fuji dan istri mampu berkreasi membuat aksesori. Ia tidak berhenti memburu biji-biji jenitri unik. Fuji lantas menunjukkan sebiji jenitri seharga Rp15 juta yang ia peroleh dari Papua. Selain itu, ia juga mengoleksi biji jenitri simetris 21 mukhi—lekukan di permukaan jenitri—yang ia rangkai menggunakan benang hias. Pada Januari 2019 Fuji menanam 5.000 pohon untuk memenuhi kebutuhan bengkelnya. Kebutuhan bengkelnya 70% jenis butiran (diameter 5,5—10 mm), sisanya jenis motif.

Baru juga berumur 5 bulan, pohon miliknya dihajar kemarau 2019 yang cukup intens. Demi menyelamatkannya, Fuji rela menyewa pompa air Rp30.000 per jam. Durasi penyiraman 4—6 jam setiap 2 hari sekali. “Jenitri perlu penyiraman sampai umur 3 tahun,” katanya. Meski pernah membuatnya khilaf membeli sebanyak satu bak truk jenitri, Fuji menjatuhkan pilihan mata pencaharian pada jenitri. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img