Wednesday, June 3, 2026

Jutawan karena Jenitri

Rekomendasi
- Advertisement -
Jenitri menjanjikan laba bisnis. (Dok. Trubus)

Jenitri menjanjikan keuntungan. Pasar ekspor terbuka.

Trubus — Importir dari India mendatangi rumah Umar Hadi di Desa Pujotirto, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kabupaten, Jawa Tengah. Di pekarangan belakang rumah Umar tumbuh sebuah pohon jenitri berumur 10 tahun. Selain itu memborong buah Rp615 juta, importir itu juga membanderol buah dari sebuah pohon lain berumur 6 tahun di kebun Rp200 juta. Umar meraup rezeki Rp815 juta dari penjualan buah jenitri.

Pekebun jenitri di Kabupaten
Kebumen, Umar Hadi. (Dok. Trubus)

Pembeli meminati jenitri dari pohon milik Umar lantaran bentuk bijinya unik. Importir rudraksa—nama populer buah jenitri di India dan Nepal—gandrung dengan biji kecil. Saat itu, pasar memilah jenitri menjadi 11 kelas berdasarkan ukurannya. Jenitri berukuran 0,5 cm atau sebesar lada adalah kelas 1 yang harganya Rp152 per biji. Kelas-kelas di bawahnya, yang diameternya 0,5 cm lebih besar, harganya lebih murah (baca Bisnis “Menggiurkan Pengingat Tuhan”, Trubus November 2007).

Buah unik

Pohon jenitri umur 17 tahun di pekarangan Umar Hadi. (Dok. Trubus)

Umar Hadi mengingat kejadian membahagiakan itu pada 2013. Itulah yang mendongkrak perekonomian keluarganya. Umar yang semula merantau ke Ternate, Provinsi Maluku Utara, akhirnya kembali ke Kebumen. Penjualan jenitri Elaeocarpus ganitrus pada tahun-tahun berikutnya menopang perekonomiannya. Setahun berselang, pasar mulai bergeser. Bentuk buah unik bermotif atau lekukan—disebut mukhi—mendapat kelas sendiri, kerap disebut kelas motif.

“Harganya malah lebih tinggi ketimbang yang bulat sempurna,” kata pengepul jenitri kelas motif di Pujotirto, Dartadi. Menurut Dartadi harga jenitri motif Rp5.000—Rp25.000 per biji. Bandingkan dengan harga jenitri bulat yang pada musim tahun 2019 hanya Rp30—Rp200 per biji. Kepala Desa Pujotirto, Giriyanto, S.Pd menyatakan hal senada. “Sekarang yang lonjong seperti kacang tanah justru harganya lebih tinggi,” kata kepala desa yang juga menanam 600 pohon jenitri itu.

Syaratnya berbentuk simetris agar tengahnya bisa dilubangi untuk membuat perhiasan. Pergeseran minat itu keruan saja memicu perubahan harga. Pembeli membeli jenitri dari Umar Hadi pada 2013—2015 dengan harga Rp15.000 per biji. Kebetulan saat itu pohon di pekarangan belakang berbuah lebat menghasilkan lebih dari 50.000 buah. Setelah pengolahan pascapanen, sekitar 70% masuk kelas 1, 20% kelas 2, sisanya tidak laku karena berbentuk asimetris.

Kepala Desa Pujotirto, Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Giriyanto. (Dok. Trubus)

Begitu para tetangga tahu Umar menerima harga tinggi, mereka mengambil entres dari pohon Umar untuk diperbanyak secara top working. Akibatnya, jenitri seperti itu tidak unik lagi sehingga harganya anjlok menjadi Rp6.000 per biji pada 2016. Tahun-tahun berikutnya harga makin turun apalagi setelah konsumen di negara tujuan meminati kelas motif. Penghasilan pekebun yang menanam jenitri kelas biasa tidak kecil-kecil amat.

Pengalaman Umar, dengan perawatan optimal pohon berumur 10 tahun menghasilkan 50.000 biji. Jika pengepul membayar Rp30 per biji, maka pemilik pohon mendapat Rp2,25 juta per pohon. Bagi pekebun “iseng”—tidak mengandalkan jenitri sebagai penghasilan utama—seperti Giriyanto yang memiliki 600 pohon, hasilnya tidak sedikit. Ia bisa meraup Rp1,35 miliar, dengan syarat semua pohonnya memproduksi setidaknya 50.000 biji.

Pohon hasil perbanyakan vegetatif—cangkok, okulasi, sambung pucuk, maupun sambung susu—yang baru belajar berbuah (umur 2—3 tahun) biasanya hanya menghasilkan 5.000 sampai 8.000 buah. Tetap saja bukan angka kecil. Kalau pekebun punya 100 pohon umur 2—3 tahun saja, ia mendapat Rp75 juta setahun dari jenitri. Kalau punya 600 pohon seperti Giriyanto, kalikan saja hasilnya dengan enam.

Pasar terbuka

Menurut pembuat aksesori berbahan jenitri di Kelurahan Kawedusan, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Fuji Wahyono, tren motif sangat dinamis dan singkat. Pembeli kelas motif biasanya berasal dari Tiongkok. Keinginan mereka berbeda dengan pembeli kelas biasa di India atau Nepal. “Pembeli Tiongkok tertarik dengan motif unik. Permintaannya sangat banyak, berapa pun kita punya dia mau membayar mahal. Tapi hanya sekali itu, lain kali dia tidak mau lagi motif itu,” kata pemilik bengkel Alam Rudraksha itu.

Pengepul jenitri kelas motif,
Dartadi. (Dok. Trubus)

Fuji Wahyono membidik pasar lain, yaitu aksesori. Ia merangkai biji-biji jenitri menjadi gelang, kalung, tas, matras, atau kap lampu. Bentuk-bentuk aksesori—total 23 jenis—itu ia buat sesuai pesanan pembeli. Namun, ada juga pembeli yang membeli biji utuh. Ia menunjukkan percakapan dengan seorang pembeli yang meminta kiriman rutin 30 juta butir. “Kalau mau tanda tangan nota kesepahaman, seumur hidup saya mereka mau membeli,” ujar ayah 3 anak itu.

Namun, ia belum berani menerima karena lazimnya bahan alam, produksi fluktuatif tergantung iklim. Contohnya kemarau ekstrem 2019 menyebabkan penurunan produksi. Menurut Fuji kebutuhan India dan Nepal tidak akan berakhir lantaran jenitri menjadi sesaji dalam upacara keagamaan. “Selesai ritual, sesaji dilarung (dihanyutkan ke sungai, red.) dan tidak mungkin dijadikan sesaji lagi untuk upacara berikutnya,” kata pengajar paruh waktu di salah satu pesantren di Kebumen itu.

Prosesi ritual berikutnya mereka membeli lagi yang baru. Berbeda dengan warga Tiongkok yang menjadikan jenitri sekadar untuk perhiasan. Sekali membeli, orang Tiongkok tidak akan membeli lagi. Fuji yakin bahwa jenitri dan aksesori buatannya selalu punya pasar. (Argohartono Arie Raharjo)


Artikel Terbaru

Beternak Lebah Kelulut di Pekarangan Rumah, Investasi Awal Besar tetapi Minim Perawatan

Budidaya lebah tanpa sengat atau kelulut (Trigona itama) semakin diminati sebagai usaha sampingan yang dapat dijalankan di pekarangan rumah....

More Articles Like This