Kakao Atasi Bronkitis

Rekomendasi

Pemanfaatan kulit kakao untuk mengatasi bronkitis.

Selain pakan ternak, kini kulit buah kakao dapat menjadi obat. (Dok. Trubus)

Trubus — Menurut Badan Pusat Statistik luas area perkebunan kakao di Indonesia pada 2017 mencapai 1.724.366 hektare dengan produksi biji kakao 657.050 ton. Padahal 75% buah kakao berupa kulit buah yang berakhir menjadi limbah. Kulit buah kakao terbuang percuma. Padahal, kulit buah Theobroma cacao itu berkhasiat mengatasi bronkitis sebagaimana riset Ratih Lestari, Aditya Sewanggara, dan Kartika Puspitasari.

Periset di Jurusan Kimia Universitas Islam Indonesia itu berhasil memanfaatkan kulit kakao menjadi obat bronkitis. Pengobatan bronkitis selama ini masih sebatas pemberian antibiotik. Konsumsi antibiotik dalam jangka panjang mengakibatkan tubuh menjadi resisten terhadap bakteri sehingga pengobatan menjadi tidak tepat sasaran.

Kulit kakao

Menurut dokter dan herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr. Prapti Utami, M.Si., bronkitis penyakit akibat peradangan cabang tenggorok atau bronkus. Dokter alumnus Universitas Diponegoro itu menuturkan, bakteri penyebab bronkitis masuk melalui pernapasan hingga mengakibatkan peradangan. “Lendir yang dihasilkan bakteri, penderita batuk dan sesak napas karena lendir menghalangi udara yang masuk dan keluar,” kata Prapti.

Apa lagi kualitas udara di kota-kota besar seperti Jakarta serta kota penyangga rendah. Menurut Airvisual, aplikasi pemantau polusi udara secara global, indeks kualitas udara di Jakarta mencapai 153. Padahal, indeks kualitas udara yang baik pada rentang 0—50. Artinya ancaman penyakit akibat paparan polusi udara seperti bronkitis pun meningkat.

Periset dari Universitas Islam Indonesia (kiri ke kanan) Aditya Sewanggara, Ratih Lestari, dan Kartika Puspitasari.

“Penggunaan masker ketika bepergian juga dibutuhkan untuk meminimalisir paparan polusi langsung,” kata Prapti. Menurut Prapti kunci mencegah bronkitis adalah daya tahan tubuh yang kuat. Upaya mengatasi bronkitis dengan kulit kakao yang selama ini terbuang percuma. Ratih Lestari memanfaatkan ekstrak kulit buah Theobroma cacao itu sebagai sumber flavonoid yang bertugas sebagai antibakteri dan antioksidan.

“Ide awalnya karena ingin pemanfaatan limbah kulit kakao. Selama ini hanya dibuang atau hanya menjadi pakan ternak, padahal jumlahnya besar,” kata Ratih yang memanfaatkan ekstrak kulit buah tanaman famili Sterculiaceae itu dalam bentuk nanopartikel—zat aktif dari partikel yang amat kecil. Para periset menyebut obat itu dengan nano shark kao (nano spray inhaler dari limbah kulit kakao).

Nano Shark Kao. Obat hirup berbahan kulit buah kakao, mampu
melawan bronkitis. (Dok. Trubus)

Lestari menuturkan, “Pembuatan sediaan ekstrak dalam bentuk nanopartikel sedang tren. Kelebihan nanopartikel menembus ruang antar sel lebih tinggi dibanding partikel biasa. Salah satu cara aplikasinya dengan nanospray,” kata Lestari. Itu serupa dengan obat isap yang biasa digunakan oleh penderita asma yang lebih efektif dalam penghantaran zat aktif obat. Riset sejak 2018 itu menunjukkan ekstrak kulit kakao efektif mengatasi bronkitis.

Tepat sasaran

Kulit buah kakao mengandung senyawa aktif yang memperkuat sifat antibakteri di antaranya asam laurat, asam mirisat, asam palkmitat, dan asam stearat. Asam lemak rantai sedang itu juga bersifat korosif, sehingga kemampuan merusak dinding dan membran sel bakteri penyebab bronkitis Klebsiella pneumonia akan tepat sasaran. Lestari menguji ekstrak kulit kakao itu terhadap tikus-tikus yang telah diinfeksikan dengan pemberian asap rokok elektrik selama 3 hari.

“Kadar nikotin rokok elektrik lebih tinggi dibandingkan dengan rokok biasa, sehingga kemampuan merusak paru-paru akan lebih tinggi,” kata Aditya Sewanggara, anggota tim riset. Tim riset memberi pengobatan nano spray ekstrak kulit kakao kepada tikus itu. Uji praklinis itu menunjukkan hasil yang memuaskan. Tikus sakit itu mengonsumsi 0,3 gram ekstrak kulit kakao sekali sehari.

Pembedahan paru-paru tikus menunjukkan bahwa organ pernapasan itu berwarna merah segar. Bandingkan dengan tikus yang mengidap bronkitis dan tanpa konsumsi ekstrak kakao, paru-paru tikus sakit berwarna merah pucat. Selain itu di permukaan paru-paru itu terdapat bintik-bintik hitam. Artinya ekstrak kakao berpengaruh dalam menghalau bakteri penyebab bronkitis. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Jangan Asal Tanam! Bongkar Rahasia Kemitraan Ubi Jalar Rp5.000/KG Tembus Pasar Ekspor

Ubi jalar sering dianggap sebagai tanaman biasa yang ditanam di lahan kering, lalu dijual apa adanya. Namun siapa sangka,...

More Articles Like This