Sunday, November 27, 2022

Kapang Pengganda Produksi Ellai

Rekomendasi

Tambahkan sejumput fungi mikoriza arbuskular, niscaya produktivitas nilam terdongkrak dua kali lipat.

Setiap kali hendak menanam nilam Pogostemon cablin, Anwar Ario Kertopati mengisi kantong-kantong polibag dengan media tanam berupa tanah bagian atas. Lalu membuat lubang di bagian tengah media dan memasukkan serbuk mengandung fungi mikoriza arbuskular (FMA) ke dalamnya. Setelah merendam bibit ke dalam zat perangsang akar, Ario menancapkan bibit setinggi 20 cm itu ke dalam lubang tanam.

Pekebun nilam sejak 2007 itu kembali memberi FMA saat bibit pindah tanam ke lahan pada umur delapan minggu di kebun seluas 1 ha. Enam bulan kemudian Sarjana Pertanian alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, itu memanen 15 ton daun per ha per panen. Setiap empat bulan berikutnya ia memanen dengan volume sama hingga tanaman berumur 2,5 tahun. Itu berarti dalam satu periode tanam Ario menuai sekitar 105 ton daun basah.

Menurut peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan yang juga periset nilam, Dra Gusmailina MSi, produktivitas rata-rata pekebun 50 ton daun segar per ha per periode tanam. Itu berarti aplikasi cendawan mikoriza seperti dilakukan Ario mampu mendongrak produksi tanaman patchouli dua kali lipat. Pengalaman Ario rendemen penyulingan juga naik dari 2% menjadi 3% dengan teknik sama.

Kacang asu

Hasil itu sejalan dengan riset oleh Dr Ir Cucu Suherman VZ, MSi dan tim dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. “Pemberian FMA dan zat perangsang akar meningkatkan jumlah daun, jumlah cabang, tinggi tanaman, diameter batang serta bobot basah  tanaman, bobot basah hasil panen, dan bobot kering suling,” kata dosen Agronomi, Fisiologi Tanaman, dan Produksi Tanaman Perkebunan itu.

Cucu membagi penelitian ke dalam dua tahap, yaitu pembuatan bibit dari setek dan penanaman di lapang. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dan diulang tiga kali. Perlakuan terdiri atas 15 kombinasi (lihat tabel). Mula-mula periset kelapa sawit dan jarak pagar itu mengukus media tanam berupa campuran tanah lapisan atas dan pupuk kandang asal kotoran domba dengan perbandingan 2:1. Bila diterapkan oleh pekebun media tidak perlu dikukus. Pupuk kandang memperbaiki porositas tanah. Masukkan media steril itu ke dalam polibag berukuran 15 cm x 20 cm. Lalu buat lubang tanam sedalam 2 – 3 cm dan lebar 3 – 5 cm.

Ke dalam lubang itu Cucu meletakkan propagul FMA terdiri dari campuran cendawan dari genus Glomus, Gigaspora, Acaulospora, dan Scutellospora. “Pencampuran beragam jenis cendawan itu bertujuan untuk mempertinggi daya kerja. Sebab masing-masing cendawan punya kelebihan dan kelemahan,” kata Cucu. Gigaspora dan Acaulospora misalnya berukuran besar dan adaptif di tanah ber-pH masam. Sedangkan Glomus bekerja lebij baik di netral sampai agak basa.

Propagul berisi spora, hifa, dan akar tanaman terinfeksi. Koloni cendawan itu semula ditumbuhkan pada akar tanaman kacang-kacangan Pueraria javanica. Kita juga bisa membudidayakan FMA pada akar tanaman jagung, jarak pagar, dan sorgum, limbah pertanian seperti jerami dan sekam, atau zeolit. Para periset lalu menanam bibit nilam klon sidikalang setinggi 20 cm yang bagian pangkalnya sudah dicelupkan ke dalam zat perangsang akar selama 5 menit. “Tujuannya untuk memacu pertumbuhan akar,” kata Cucu. Sebab FMA bersifat simbion obligat, artinya harus punya inang untuk tumbuh, dalam hal ini akar tanaman. Koloni FMA berkembang sejalan dengan akar yang aktif tumbuh.

Aplikasi FMA cukup sekali karena cendawan terus bersimbiosis dengan akar sepanjang umur tanaman. Aplikasi pada tahap bibit lebih efisien dan terkontrol. Pada minggu ke-8 pascaperlakuan bibit dipindah ke lapang berlokasi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jarak tanam 20 cm x 20 cm pada lubang tanam yang sudah diberi 0,25 kg pupuk kandang. Lalu periset memelihara tanaman sampai umur 20 minggu dan memanen ternanya.

Hasil riset menunjukkan pemberian 20 g FMA dan 75 mg/ml zat perangsang akar memberikan hasil terbaik. Di antaranya jumlah daun mencapai 345 helai pada umur 20 minggu, perlakuan kontrol tanpa FMA dan zat perangsang akar hanya  202 helai. Rendemen sebesar 1,32% dibanding kontrol 1,16%. (lihat tabel)

Cepat masuk

Peningkatan hasil itu karena kerja bareng FMA dan akar. Kehadiran fungi mikoriza arbuskular membuat kemampuan akar menyerap hara terutama unsur fosfor (P) dan air lebih baik. “FMA mengeluarkan enzim fosfatase yang mengurai P tidak tersedia dalam tanah menjadi dalam bentuk tersedia yang dapat diambil tanaman,” papar Cucu. Caranya dengan melepaskan ikatan fosfor dengan unsur Al dan Fe pada tanah masam serta unsur Ca pada lahan berkapur.

Periset di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara, Mustal, dalam risetnya tentang peran FMA meningkatkan produktivitas jagung menyebutkan kecepatan masuknya fosfor ke dalam hifa pada tanaman terinfeksi FMA enam kali lebih cepat daripada penyerapan fosfor oleh akar tanaman tidak terinfeksi FMA. Riset lain juga menunjukkan FMA dapat meningkatkan serapan nitrogen dan kalium serta unsur mikro Cu,  Zn,     dan Mo.

Selain itu FMA juga mengeluarkan hormon auksin. Riset Cucu membuktikan pemberian 1 g FMA setara dengan pengaruh pemberian 1–1,5 ppm auksin (NAA). Menurut Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi tumbuhan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor auksin berperan dalam memacu pertumbuhan akar. Hormon juga berperan memberi sinyal pada perakaran untuk melakukan simbiosis dengan FMA.

Pengalaman Ario penggunaan FMA juga membuat tanaman tahan terhadap kekeringan. “Selama ini cekaman kekeringan menjadi pemicu munculnya penyakit layu bakteri yang hingga kini belum bisa diatasi,” kata kelahiran Jakarta 26 tahun silam itu. Keberadaan hifa membuat kemampuan tanaman menjerap air meningkat.

Periset di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, Bogor, Oktivia Trisilawati juga menguji keandalan FMA mendongkrak produktivitas nilam. Hasil uji di rumah kaca menunjukkan aplikasi FMA meningkatkan jumlah daun, tinggi tanaman, dan rendemen minyak nilam. Pada lima bulan setelah tanam, tanaman dengan cendawan mikoriza memiliki 586 daun, tanpa FMA 361 daun. Bobot segar kelompok satu 93 g per tanaman, kelompok dua 55 g per tanaman. Kadar minyak hasil suling daun tanaman bersimbiosis dengan FMA rata-rata 3%, tanpa FMA 2,5%. “Saat ini tengah dilakukan uji coba dalam skala lebih luas di lapang,” tutur Oktivia. Kadar minyak kian melambung jika perlakuan FMA dibarengi dengan pemupukan mengandung fosfor.

FMA kini sedang banyak dilirik untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam di lahan marginal. Penggunaan FMA terbukti mendongkrak pertumbuhan jati di Muna, Sulawesi Tenggara, seperti riset Husna dan Faisal Danu Tuheteru dari Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo di Kendari, Sulawesi Tenggara dan Mahfudz dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Aplikasi FMA membuat jati berumur sebulan mencapai tinggi 3 m, tanpa aplikasi FMA baru semeter.

Tanah PMK

Pekebun nilam juga dapat mempertinggi produksi dengan memberi asupan pupuk kandang dan kapur. Burhanuddin dan Nurmansyah dari Kebun Percobaan Laing Solok, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah melakukan percobaan tersebut di tanah podsolik merah kuning.

Hasil uji menunjukkan pemberian 30 ton per ha pupuk kandang dan 2 ton per ha kapur kombinasi terbaik. Tinggi rata-rata tanaman 80,7 cm, jumlah cabang primer 33,4 buah, diameter tajuk 107,5 cm, dan produksi daun 25,2 ton per ha. Bandingkan dengan perlakuan kontrol tanpa pupuk tanpa kapur yaitu tinggi tanaman 57,3 cm, jumlah cabang primer 20,9 buah, diameter tajuk 67,4 cm, dan produksi daun 6,1 ton per ha.

Pupuk kandang meningkatkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro, meningkatkan kapasitas tanah menahan air, dan memperbaiki sifat fisik tanah. Unsur hara seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K) menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman. Pemberian kapur meningkatkan pH tanah, menekan kelarutan aluminium (Al) dan besi (Fe) sehingga serapan hara meningkat, serta sebagai sumber Ca dan Mg.

Harga minyak nilam berfluktuatif. Pada 2002 harganya hanya Rp175.000 per kg. Naik menjadi Rp600.000 per kg (2007). Pada 2011 harga merosot lagi menjadi Rp450.000 per kg. Perhitungan para pemain, ayun-ambing harga itu masih di atas biaya produksi minyak yang hanya Rp200.000 per kg. Itu yang membuat banyak orang tertarik mengebunkan dan menyuling tanaman ellai (bahasa Tamil, red). Industri parfum misalnya membutuhkan minyak nilam sebagai bahan pengikat sehingga aroma parfum bertahan lama. Menanam nilam dengan menerapkan berbagai teknologi pilihan untuk mendongrak produksi.  (Evy Syariefa/Peliput: Tri Istianingsih)

 

Peran Makhluk Liliput

1.    Tanaman mampu menjerap air lebih banyak karena hifa mikoriza dapat menjangkau pori-pori mikro tanah yang tidak terjangkau oleh rambut akar

2.    Mengurai fosfor tidak tersedia dalam tanah menjadi dalam bentuk tersedia yang dapat diambil tanaman

3.    Kecepatan masuknya fosfor ke dalam hifa pada tanaman terinfeksi FMA enam kali lebih cepat daripada penyerapan fosfor oleh akar tanaman tidak terinfeksi FMA

4.    Menghasilkan zat pengatur tumbuh

*) Fungi mikoriza arbuskular membuat jaringan hifa yang masuk ke dalam sel korteks tanaman. Lalu membentuk struktur khas berbentuk oval yang disebut vesikula atau bercabang disebut arbuskular

 

Strategi Tinggi Produksi

1.   Siapkan media tanam berupa campuran topsoil dan pupuk kandang yang sudah steril dengan perbandingan 2:1, bibit nilam berupa setek setinggi 20 cm dengan tiga daun, dan fungi mikoriza arbuskular berupa propagul.

2.   Masukkan media ke dalam polibag ukuran 15 cm x 20 cm. Lalu buat lubang tanam menggunakan jari selebar 3 – 5 cm dengan kedalaman 2 – 3 cm

3.   Masukkan fungi mikoriza arbuskular (FMA) berupa propagul ke dalam lubang tanam

4.   Celupkan potongan bibit nilam ke dalam zat perangsang akar, lalu tanam ke dalam lubang tanam di antara propagul FMA

5.   Delapan minggu kemudian, bibit siap tanam ke lahan

6.   Pada umur 20 minggu setelah penanaman bibit, daun nilam dipanen. Hasil riset menunjukkan pemberian 20 g FMA dan  75 mg/ml zat perangsang akar memberikan hasil terbaik. Di antaranya jumlah daun mencapai 345 helai pada umur 20 minggu, perlakuan kontrol tanpa FMA dan zat perangsang akar hanya 202 helai. Rendemen sebesar  1,32% dibanding kontrol 1,16%

Produktivitas Terpacu

Perlakuan

 

Jumlah Daun (helai)

 

Jumlah Cabang Tanaman (buah)

 

Tinggi Tanaman (cm)

 

Diameter Batang Tanaman (cm)

 

Derajat Infeksi Akar (%)

 

Bobot Basah Tanaman (g)

 

Bobot Basah Panen (g)

 

Bobot Kering Suling (g)

 

Rendemen (%)

 

A

 

202,43 ab

 

45,94 cd

 

72,33 ab

 

0,99 ab

 

13,30 a

 

343,67 e

 

337,60 e

 

155,53 de

 

1,16

 

B

 

136,53 a

 

33,50 abc

 

71,17 ab

 

0,90 a

 

16,70 ab

 

262,00 cd

 

254,77 cd

 

155,10 de

 

1

 

C

 

154,72 a

 

31,42 ab

 

67,03 ab

 

0,98 a

 

27,80 abc

 

173,33 b

 

163,87 b

 

46,23 a

 

1,81

 

D

 

87,06 a

 

27,83 a

 

59,72 a

 

0,92 a

 

28,90 abc

 

140,00 ab

 

139,40 ab

 

77,12 b

 

0,43

 

E

 

202,08 ab

 

41,08 abc

 

75,11 ab

 

1,04 ab

 

40,00 bcd

 

434,00 e

 

427,07 f

 

256,08 g

 

0,97

 

F

 

164,92 a

 

36,42 abc

 

70,67 ab

 

0,99 ab

 

15,60 ab

 

230,00 c

 

225,23 a

 

149,80 d

 

1,11

 

G

 

194,89 a

 

38,50 abc

 

74,17 ab

 

1,09 ab

 

25,60 abc

 

263,00 cd

 

259,87 cd

 

180,17 ef

 

1,03

 

H

 

241,67 ab

 

45,17 bcd

 

81,63 b

 

1,07 ab

 

41,10 bcd

 

616,67 g

 

605,27 g

 

324,72 h

 

1,11

 

I

 

221,25 ab

 

36,94 abc

 

73,24 ab

 

0,97 a

 

45,60 cd

 

398,33 f

 

388,40 f

 

192,15 f

 

1,29

 

J

 

145,94 a

 

32,44 abc

 

69,00 ab

 

0,96 a

 

30,00 abc

 

280,00 d

 

277,00 d

 

120,40 c

 

1,12

 

K

 

126,67 a

 

29,78 a

 

60,72 a

 

0,89 a

 

20.00 abc

 

113,33 a

 

110,63 a

 

83,04 b

 

0,48

 

L

 

211,08 ab

 

38,75 abc

 

74,74 ab

 

1,11 ab

 

41,10 bcd

 

414,00 f

 

402,80 f

 

209,33 f

 

1,06

 

M

 

200,00 ab

 

35,33 abc

 

70,83 ab

 

0,94 a

 

25,60 abc

 

323,33 e

 

316,63 e

 

130,69 cd

 

1,02

 

N

 

178,69 a

 

38,39 abc

 

68,03 ab

 

0,96 a

 

32,20 abcd

 

406,67 f

 

397,50 f

 

195,50 f

 

1,02

 

O

 

345,45 b

 

54,33 d

 

84,39 b

 

1,22 b

 

56,70 d

 

743,33 h

 

732,67 h

 

303,92 h

 

1,32

 

 

A: tanpa FMA + tanpa zat perangsang akar

B: FMA 1 g + tanpa zat perangsang akar

C: tanpa FMA + zat perangsang akar 50 mg/ml

D: FMA 5 g + zat perangsang akar 25 mg/ml

E: FMA 5 g + zat perangsang akar 50 mg/ml

F: FMA5 g + zat perangsang akar 75 mg/ml

G: FMA 10 g + zat perangsang akar 25 mg/ml

H: FMA 10 g + zat perangsang akar 50 mg/ml

I: FMA 10 g + zat perangsang akar 75 mg/ml

J: FMA 15 g + zat perangsang akar 25 mg/ml

K: FMA 15 g + zat perangsang akar 50 mg/ml

L: FMA 15 g + zat perangsang akar 75 mg/ml

M: FMA 20 g + zat perangsang akar 25 mg/ml

N: FMA 20 g + zat perangsang akar 25 mg/ml

O: FMA 20 g + zat perangsang akar 75 mg/ml

Sumber: Hasil riset Dr Cucu Suherman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

 

>       Kebun nilam, rata-rata produktivitas petani          50 ton daun segar per periode tanam

 

V       Dr Cucu Suherman meriset peran FMA mendongkrak produksi nilam

 

Perakaran jagung salah satu inang FMA

 

Perbandingan antara tanaman nilam dengan pemberian fungi mikoriza arbuskula (kiri) dan tidak. Dengan FMA tanaman lebih subur

 

Minyak nilam berperan sebagai pengikat sehingga aroma parfum tidak cepat hilang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img