Sunday, November 27, 2022

Ke Nagoya Mengusir Dahaga

Rekomendasi

Di sebuah restoran di Nagoya, Jepang, atraksi itu menarik perhatian pengunjung. Setelah ujung buah garudo cocoyashi terbuka gadis berkebaya itu menghidangkan ke pria Jepang yang antre dilayani. Pria paruh baya itu menyeruput air kelapa untuk menepis dahaga. Untuk mencicipi kelapa gading dari Sukabumi itu ia mengeluarkan ¥650 atau setara Rp48.750.

Atraksi buka kelapa gading itu berlangsung di Gorudo Cocoyashi House, sebuah kedai di kompleks Ko Worudo alias dunia kecil. Daerah tujuan wisata di pinggir kota Nagoya, Jepang itu mirip Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Bedanya, di taman itu ditampilkan kebudayaan dan adat istiadat bangsa-bangsa di dunia. Di paviliun Bali, atraksi cicip kelapa gading disajikan bersama dengan mengolah pisang goreng.

Acara seperti itu amat diminati masyarakat Jepang. Ketika melihat kelapa berwarna kuning, mereka tertarik mencicipinya. Wajar Coco nucifera itu laris. “Sekitar 800 buah habis terjual setiap hari libur. Suatu hal yang tidak masuk akal,” ungkap Adi Djohan, pemasok kelapa gading di Gorudo Cocoyashi House. Bagi mereka warna kuning simbol kemakmuran.

Pertama gagal

Sebelumnya di gerai itu hanya dijajakan cocoyashi kulit hijau pasokan Filipina. Adi Djohan, pemilik Exotica Prima Nursery, menawarkan gorudo cocoyashi yang berkulit kuning. Adi juga menjanjikan mengirim orang untuk mengupas kelapa yang selama ini merupakan kendala di Jepang.

Pada Maret 2004 untuk pertama kali Adi mengirim 1.000 buah. Sayang lebih 800 buah rusak. Itu karena salah kemas. Buah anggota famili Palmae dikemas dalam kardus sehingga menimbulkan hawa panas. Akibatnya kulit terbakar dan menghitam. Buah yang selamat sekitar 200 buah langsung diserbu.

Karena itulah Adi tetap diminta mengirim kelapa gading. Pelopor penanaman stevia di Indonesia itu kembali mengirim 2.150 buah. Belajar dari pengalaman, kali ini kelapa ditumpuk dalam peti kayu berukuran 220 cm x 120 cm x 130 cm. Kelapa itu dikirim dalam kontainer berpendingin 15ºC. Hasilnya, jumlah yang rusak turun drastis. Dua minggu kemudian, Adi kembali mengirim 3.200 buah di dalam kontainer bersuhu 10ºC. Jumlah kerusakan kian sedikit. Pada pengiriman ke-4,—akhir Mei 2004—kerusakan tinggal 20% dari 2.950 buah yang dikirim dalam suhu 8ºC.

Permintaan Dunia Kecil terus melonjak membuat Adi Djohan kewalahan. Betapa tidak 3.000 kelapa habis dalam 2 minggu. Pengusaha tanaman hias itu kerepotan mencari pasokan lantaran hingga saat ini belum ada pekebun khusus kelapa gading. Beberapa sentra seperti Sukabumi dan Pandeglang didatangi, tetapi hasilnya nihil. Padahal, ia meneken kontrak untuk mengirim 20.000 buah.

Pelosok Sukabumi

Selama ini, kerabat sagu itu dikumpulkan dari berbagai pelosok, khususnya Sukabumi dan Pandeglang. Kelahiran Padang itu juga menjalin kerjasama dengan pengepul. Syaratnya, kelapa tidak boleh dijatuhkan sehingga terjadi benturan saat panen. Dampaknya buah memar, kulit dan sabut menghitam.

Buah itu harus diturunkan dengan tali. Sebatang pohon dipanen 1—2 tandan. Tempurung yang mengeras lebih disukai daripada tempurung muda. Maklum yang muda rentan pecah sehingga buah busuk. Buah kemudian disortir di kantor Exotica Prima Nursery di Kalibata, Jakarta Selatan. Yang kulit lembek mudah busuk karena air mudah masuk ke dalam sabut. Oleh karena itu harus disingkirkan. Buah tanpa tangkai dditutup dengan lilin untuk mencegah kerusakan.

Tingkat kerusakan selama pengiriman mencapai 50%. Oleh karena itu Adi mempersiapkan cadangan sama banyaknya dengan volume permintaan. Importir minta cadangan 200% karena lamanya pengangkutan. Dengan adanya perbaikan teknik pengiriman, kini tingkat kerusakan dapat ditekan menjadi 20%.

Buah berbobot 1,8—2 kg itu dicuci bersih dan disikat. Kutu putih paling diharamkan bersarang dalam lipatan tudung—tempat tangkai buah melekat. Kulit dikeringkan dengan kain bersih agar air tak meresap ke kulit. Kelapa kemudian direndam dalam larutan Fungisida untuk mencegah penyakit berkembang biak selama perjalanan.

Setelah petugas Karantina Tumbuhan memeriksa dokumen ekspor, buah dimasukkan ke peti kayu. Peti-peti itu tersusun dalam kontainer berpendingin menempuh perjalanan lewat laut selama 14 hari. Ketika tiba di Nagoya, kelapa siap dinikmati konsumen 2—3 hari kemudian. (Syah Angkasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img