Saturday, December 3, 2022

Kebonsari Kampung Telur Asin

Rekomendasi
Telur asin menjadi produk andalan kampung bebek di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Konsumen menggemari aneka rasa telur asin di sentra itik Kebonsari. Tantangan pengembangan sentra adalah lahan penggembalaan yang menyempit.

Trubus — “Produksi telur asin saya setiap hari 970 butir. Padahal permintaan yang datang bisa dua kali lipatnya,” ujar Sulaiman. Peternak itik petelur di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, itu memelihara 1.500 ekor di lahan 2700 m². Setiap hari sekitar 80% itik-itik itu bertelur. Ia mengolah telur-telur itu menjadi beberapa varian seperti telur asin bakar, goreng, oven, dan original.

Gapura Kampung Bebek dan Telur Asin di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjao, Jawa Timur.

Sulaiman kerap kewalahan memenuhi permintaan konsumen seperti Imam Su’udi yang menggemari telur asin bakar. “Rasanya enak, gurih, dan tidak amis,” ujar warga Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu. Imam Su’udi bersama keluarga berkunjung ke sentra itik itu dan memborong 12 kardus telur asin aneka rasa sebagai buah tangan. Ia mengetahui sentra telur asin di Kebonsari dari kerabatnya.

Harga stabil

Konsumen Sulaiman dari berbagai daerah di penjuru Nusantara, bahkan hingga mancanegara seperti Thailand dan Jepang. Sulaiman hanya melayani pembelian telur di tempat.
Di desa Kebonsari bukan hanya Sulaiman yang memproduksi telur asin. Ada sekitar 20-an peternak itik yang mengolah telur. Para peternak itik tersebar di desa Kebonsari kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Pangan. Ketua kelompok tani itu Nur Hidayata menuturkan, Desa Kebonsari mulai sohor sebagai kampung itik sejak mendapat penghargaan juara nasional lomba ketahanan pangan dari pemerintah Republik Indonesia pada 2010.

Jumlah itik Nur Hidayat semula 500 ekor meningkat menjadi 1.000 ekor pada 2007. Populasi meningkat menjadi 2.000 ekor pada 2007—2008 dan hingga 7.000 ekor itik pada 2008—2009. Saat ini Nur Hidayat mengelola 2.000 itik jenis mojosari. Peternak sejak 1995 itu memelihara itik dengan sistem semiintensif di lahan 240 m². Ia memberi pakan berupa kepala udang, roti apkir, dan bekatul. Frekuensi pemberian dua kali sehari.

Nur Hidayat mewakili kelompok tani Sumber Pangan menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Produksi telur per hari mencapai 80—90% dari total itik atau rata-rata 1.600—1.800 butir setiap hari. Pria 48 tahun itu mengolah telur-telur itik menjadi beragam varian rasa, di antaranya rasa goreng, bakar, dan original.

Saat itu anggota kelompok tani mencapai 37 orang dan masing-masing memelihara 500—8.000 itik. Para peternak menjual telur mentah, sudah terkukus, goreng, oven, dan bakar. Harga telur mentah Rp2.000 per butir, sedangkan telur asin original Rp3.300 per butir. Khusus untuk varian rasa lain seperti oven, bakar, dan goreng harga jual Rp3.500 per butir.

Daun pisang

Para peternak seperti Sulaiman membuat telur asin secara tradisional. Mula-mula ia mencuci bersih telur kemudian menyeleksinya dengan memilih yang tidak pecah dan retak. Langkah berikutnya, ia melapisi telor dengan campuran serbuk bata merah plus garam. “Per 300 butir telor, garamnya 2 kg, sedangkan bata merahnya menyesuaikan saja,” ujar Sulaiman.

Proses pengasinan telur selama 11—17 hari.

Proses pengasinan itu selama 11—17 hari. “Kalau ingin telur asin yang masir atau teksturnya seperti berpasir, proses pengasinan bisa 17 hari,” ujar lelaki kelahiran 5 Mei 1957 itu. Setelah proses pengasinan selesai, Sulaiman mengolahnya menjadi telur asin original atau dikukus, oven, bakar, dan goreng. “Maksud digoreng itu ya di oven dengan dilapisi minyak dan daun pisang di bawah telurnya,” ujarnya. Proses “penggorengan” selama 6 jam.

Adapun proses produksi telur asin oven selama 3 jam. “Yang agak lama membuat telur asin bakar. Proses pembakarannya sekitar 12 jam dengan panas dibawah 100oC. Bakar sampai cangkangnya menghitam,” ujar Sulaiman. Telur itu awet 1—2 bulan di suhu ruang. Salah satu keunggulan telur asin produksi Sulaiman dan peternak lain di Desa Kebonsari adalah tidak amis. “Itu karena pakan itik dominan pakan alami seperti limbah kepala udang dan kupang,” katanya.

Sulaiman memproduksi 970 telur asin aneka rasa setiap hari.

Sayang, sejak 2011 jumlah peternak itik petelur di Desa Kebonsari menyusut satu per satu. “Banyak peternak yang gulung tikar karena lahan untuk ternak itik bergeser menjadi lahan industri. Di satu sisi, tidak ada regenerasi dari peternak senior kepada anak cucunya. Kini jumlah anggota kelompok tani tinggal 20 peternak. Banyak pemuda di desa itu yang lebih memilih merantau dan bekerja sebagai buruh pabrik daripada beternak itik petelur. Padahal peluang pasar telor asin masih terbentang luas.

Hal itu pula yang menjadi keresahan Sulaiman terhadap kelanjutan usahanya. Ia bertekad untuk mewariskan usaha telur asinnya kepada anaknya. Peternak yang tak lulus bangku sekolah dasar itu berhasil membuktikan bahwa ketekunan dan kesabaran adalah kunci sukses berwirausaha. “Saya sudah membuktikannya. Sekarang giliran anak saya melanjutkan,” ujar Sulaiman. (Bondan Setyawan)

Previous articleRahasia Walet Betah
Next articleInovasi untuk Negeri
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img