Permintaan Monstera adansonii variegata terus meningkat, tapi ketersediaannya terbatas. Para pemain tanaman hias beramai-ramai memperbanyaknya.

Trubus — Monstera adansonii variegata kuning yang baru berdaun 4 helai itu laku Rp26 juta pada ajang lelang tanaman hias Trubus Agro Expo 2019. Itu berarti setara Rp6 juta per helai daun. Harga janda bolong—sebutan populer Monstera adansonii—koleksi Mukti Setiawan di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, lebih fantastis lagi, yakni mencapai Rp70 juta. Harga selembar daun mencapai Rp11 juta.
Menurut petani tanaman hias di Kecamatan Tamansari, Febriadi Rahmatullah, meski berharga fantastis, adansonii variegata itu menjadi incaran para kolektor tanaman hias di mancanegara. Itulah sebabnya harga tanaman kerabat talas itu terus melambung. “Harga jual adansonii variegata yang terjual di lelang Trubus Agro Expo tergolong murah. Di pasar internasional tanaman berukuran sama bisa laku hingga Rp35 juta,” ujar pria yang akrab dipanggil Abot itu.
Pilih indukan
Harga yang fantastis itu tentu saja menggiurkan para petani tanaman hias di tanah air. Sayangnya, ketersediaan adansonii variegata terbatas. “Permintaan banyak tapi barang tidak ada,” ujar Abot. Itulah sebabnya para pemain tanaman hias yang mengoleksi adansonii variegata seperti Mukti menahan diri untuk menjualnya. Meski adansonii variegata miliknya ditawar hingga Rp70 juta, ia bergeming tak menjualnya.
Ia lebih memilih menjadikan tanaman itu sebagai tanaman induk dan memperbanyaknya dengan cara setek. Ia menargetkan pada Maret 2020 menghasilkan 25 pot adansonii variegata. Di pasaran, harga jual tanaman hasil setek yang baru memiliki satu daun bisa laku hingga Rp15 juta—Rp20 juta per tanaman. Bayangkan jika seluruh hasil produksi Mukti itu seluruhnya laku. Ia bakal mengantongi fulus hingga ratusan juta rupiah.
Contoh lain Handry Chuhairy. Pehobi tanaman hias asal Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu tidak melayani penjualan sepanjang 2020. “Saya fokus memperbanyak dulu,” ujarnya. Begitu juga dengan Abot. Ia rela mencacah adansonii variegata koleksinya demi memperoleh pendapatan berlipat dengan menjual hasil perbanyakan. Menurut Abot untuk memperbanyak adansonii variegata gampang-gampang susah (lihat ilustrasi).
Hal yang harus diperhatikan saat memperbanyak adansonii variegata adalah memilih indukan. “Sebaiknya pilih indukan yang corak variegatanya tidak terlalu dominan. Cukup variegata yang hanya berupa semburat,” ujarnya. Berdasarkan pengalaman Abot, corak variegata yang dominan cenderung menghasilkan anakan albino atau warna daun putih atau kuning seluruhnya.

“Anakan albino pasti mati karena tidak punya klorofil untuk berfotosintesis,” tuturnya. Adapun induk yang bercorak hanya semburat biasanya menghasilkan anakan dengan daun bercorak variegata seimbang atau dominan. Pemilihan media tanam juga tak kalah penting. Abot menuturkan sebaiknya gunakan media tanam yang porous, tapi tetap mampu menyimpan air. Idealnya gunakan media tanam yang juga steril, seperti sphagnum moss.
Hindari pupuk kandang
Biasanya media tanam itu sudah disterilisasi dan dikemas dalam plastik sehingga terlindungi dari kontaminasi. “Cuma harganya mahal,” ujar Abot. Ia biasanya menggunakan media tanam itu untuk memperbanyak jenis aroid—sebutan untuk tanaman anggota famili Araceae—yang eksklusif yang hanya berupa setek batang tanpa daun. “Soalnya lebih rentan kalau hanya setek batang,” katanya.
Abot lebih banyak menggunakan media tanam berupa campuran cacahan pakis andam dan sekam mentah yang telah busuk dengan perbandingan sama. “Bisa juga menggunakan media tanam arang sekam murni,” kata Abot. Ia mewanti-wanti hindari mencampur media tanam dengan pupuk kandang. Menurut Abot penambahan pupuk kandang malah berisiko menularkan bakteri penyebab penyakit pada batang hasil setek.
Hindari pula penambahan pupuk sintetis kimia. Pemberian pupuk untuk tanaman hasil setek sia-sia karena tanaman belum berakar sehingga belum mampu menyerap nutrisi. “Batang setek malah menjadi rentan busuk,” jelasnya. Cara menyetek batang juga turut mempengaruhi tingkat keberhasilan tumbuh. Sebaiknya potong ruas yang sudah memunculkan akar dan memiliki minimal satu daun.
Tujuannya agar tanaman hasil setek tetap berfotosintesis untuk mempercepat pertumbuhan. “Kalau tanpa daun perlu waktu lebih lama dan perawatan yang intensif,” ujar pemilik nurseri Mutasi Flora itu. Khusus setek batang tanpa daun Abot menanamnya dalam media tanam sphagnum moss karena lebih steril dan mampu menjaga kelembapan dengan baik. Abot lalu menyimpan hasil perbanyakan dalam sungkup menggunakan plastik berperekat untuk mencegah kontaminasi bakteri penyakit.
Adapun tanaman hasil setek daun bisa disimpan tanpa sungkup, tapi tetap di bawah naungan. Dalam dua pekan biasanya setekan muncul tunas baru. Saat muncul satu daun Abot mengadaptasikan setekan secara bertahap. Tahap pertama plastik sungkup dibuka. Sepekan kemudian sungkup dilepas seluruhnya dan disimpan di bawah naungan. Setelah muncul minimal dua daun dan perakaran bertambah, baru tambahkan pupuk NPK berimbang lambat urai. (Imam Wiguna)
