Wednesday, April 17, 2024

Kiat Sukses Budidaya Patin Unggul

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Dr. H. Purwanto, S. Kom., M.M., C.F.P., semringah lantaran bisa memanen ikan patin ukuran konsumsi (berbobot 800—1.000 g) 6 bulan pascapenebaran dari benih berukuran 1,5 inci. Lazimnya pembudidaya lain memanen patin berukuran sama 7 bulan setelah penebaran benih. Rahasianya ia budidayakan patin pustina.

Selain menggunakan varietas unggul patin pustina pembudidaya patin di Desa Sukosari BK9, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatra Selatan, budidaya patin secara intensif.

Purwanto memberikan pakan 2 kali saat pagi pukul 07.00 dan sore pukul 16.00. Patin pustina juga berdaging tebal dan rendah lemak. “Lemaknya tidak banyak sehingga tingkat kekenyalan daging baik,” kata pria berusia 40 tahun itu. Kelebihan lainnya patin pustina memiliki warna daging putih.

Pasar menghendaki warna daging patin yang cerah mendekati putih. Buktinya Purwanto mudah menjual patin pustina. Ia memasarkan patin unggul itu ke hotel, restoran, dan kafe (horeka). Menurut Purwanto keunggulan lain patin pustina tahan terhadap serangan aeromonas.

Namun patin pustina memiliki kelemahan terhadap serangan bakteri Edwardsiella ictaluri. Pembudidaya harus menangani serangan E. ictaluri dengan cepat dan tepat. Terlambat penanganan mengakibatkan tingkat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) rendah.

“Kalau terserang Edwardsiella ictaluri SR patin rendah yaitu kurang dari 50%,” kata pembudidaya patin sejak 2017 itu. Ada dua cara ala Purwanto untuk mengatasi kelemahan patin pustina yakni pencegahan dan penanganan.

Pencegahan dilakukan saat persiapan kolam sebelum tebar benih. Lakukan sterilisasi kolam dengan menyedot lumpur. Kemudian berikan hidrogen peroksida (H2 O2 ), yang berperan untuk pengolahan udara, penanggulangan hama dan penyakit ikan, serta sebagai sumber oksigen untuk transportasi benih ikan.

Sebelum tebar benih, endapkan air kolam selama 2 hari. Adapun untuk penanggulangan saat terjadi serangan bakteri E. ictaluri, lakukan pengurangan air kolam sebanyak 70%. Puasakan ikan sampai tidak ada kematian patin di kolam. Lakukan pengobatan dengan probiotik yang terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menurut Purwanto jika pembudidaya menerapkan langkah-langkah itu, tingkat kematian ikan kurang dari 5%. Sementara kalau tidak segera melakukan penanganan dengan tepat tingkat kematian tinggi mencapai lebih dari 50%.

Dengan budidaya intensif Purwanto mendapatkan rasio konversi pakan atau feed convertion ratio (FCR) patin pustina yakni 1,3. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging membutuhkan pakan 1,3 kg. FCR itu relatif sama dengan patin lain.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Peternak di Kabupaten Magelang Sukses Silangkan Ayam Poland

Trubus.id—Penggemar ayam poland di Indonesia berasal dari berbagai daerah. Alasannya karena sosok ayam poland sangat unik. Muhammad Doni Saputra...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img