Tuesday, April 21, 2026

Kreasi Olahan Kelor dari Susu Hingga Nuget

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Di tangan Imanina Salwa Adani, daun kelor diolah menjadi beragam produk inovatif. Bersama tiga rekannya, Aisy Fitri Rusmawati, Yunita Cahyani Fatikasari, dan Bryan Zake Haryanto, mereka menciptakan berbagai olahan menarik dari daun moringa, seperti Moringa Milk, Moribites Nugget, Morincies, dan Mori La Mian.

Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, mereka mengombinasikan 50% ekstrak daun moringa dengan 50% susu sapi segar pasteurisasi dalam pembuatan Moringa Milk. “Rasanya hampir mirip seperti matcha,” ujar Imanina.

Tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan minat konsumen untuk mengonsumsi kelor, mengingat banyak orang enggan mengonsumsinya meski daun ini kaya manfaat, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi anemia, dan menstabilkan gula darah. Bahkan, pemerintah telah merekomendasikan kelor sebagai pangan tambahan untuk mengatasi stunting.

Moringa Milk mulai diproduksi sejak 2023 dalam dua ukuran kemasan, yakni 100 ml seharga Rp12.000 dan 250 ml seharga Rp15.000. Untuk menarik lebih banyak pembeli, mereka juga menawarkan varian rasa seperti stroberi, jeruk, dan cokelat, meskipun tanpa campuran kelor.

Moringa Milk hanya bertahan 2 jam pada suhu ruang dan perlu disimpan dalam lemari pendingin jika tidak segera dikonsumsi. Produk ini juga tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya tersedia melalui sistem pre-order (PO).

Meski memiliki potensi besar, produksi Moringa Milk masih menghadapi kendala, terutama dalam hal bahan baku. Daun moringa yang digunakan berasal dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sementara produksi dilakukan di Kota Semarang. Hal ini menyebabkan biaya produksi tinggi, sehingga harga jual juga menyesuaikan.

Namun, semangat Imanina dan tim tidak surut. Dalam sebulan, mereka mampu memproduksi 4—5 liter Moringa Milk, dengan konsumennya berasal dari kalangan mahasiswa hingga dosen. Bahkan, mereka mulai membudidayakan kelor di Kota Semarang untuk mengurangi ketergantungan bahan baku dari daerah lain.

Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, mereka mengombinasikan 50% ekstrak daun moringa dengan 50% susu sapi segar pasteurisasi dalam pembuatan Moringa Milk. “Rasanya hampir mirip seperti matcha,” ujar Imanina.

Tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan minat konsumen untuk mengonsumsi kelor, mengingat banyak orang enggan mengonsumsinya meski daun ini kaya manfaat, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi anemia, dan menstabilkan gula darah. Bahkan, pemerintah telah merekomendasikan kelor sebagai pangan tambahan untuk mengatasi stunting.

Moringa Milk mulai diproduksi sejak 2023 dalam dua ukuran kemasan, yakni 100 ml seharga Rp12.000 dan 250 ml seharga Rp15.000. Untuk menarik lebih banyak pembeli, mereka juga menawarkan varian rasa seperti stroberi, jeruk, dan cokelat, meskipun tanpa campuran kelor.

Moringa Milk hanya bertahan 2 jam pada suhu ruang dan perlu disimpan dalam lemari pendingin jika tidak segera dikonsumsi. Produk ini juga tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya tersedia melalui sistem pre-order (PO).

Meski memiliki potensi besar, produksi Moringa Milk masih menghadapi kendala, terutama dalam hal bahan baku. Daun moringa yang digunakan berasal dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sementara produksi dilakukan di Kota Semarang. Hal ini menyebabkan biaya produksi tinggi, sehingga harga jual juga menyesuaikan.

Namun, semangat Imanina dan tim tidak surut. Dalam sebulan, mereka mampu memproduksi 4—5 liter Moringa Milk, dengan konsumennya berasal dari kalangan mahasiswa hingga dosen. Bahkan, mereka mulai membudidayakan kelor di Kota Semarang untuk mengurangi ketergantungan bahan baku dari daerah lain.


Artikel Terbaru

Pakan Ayam Probiotik dan Antikoksi Buatan IPB: Bebas Bau, Bobot Cepat Naik

Upaya hilirisasi riset di bidang pertanian dan peternakan terus mendapat dorongan kuat dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman....

More Articles Like This