Friday, May 15, 2026

Kultur Jaringan :Bibit Bermutu, Massal, dan Cepat

Rekomendasi
- Advertisement -

Permintaan tanaman hias tropis di pasar dunia jauh lebih banyak daripada stok. Perlu kultur jaringan untuk menyediakan bibit tanaman hias berkualitas dalam waktu singkat.

Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman hias yang sangat besar sehingga menjadi plasma nutfah tanaman hias dunia. (Dok. Trubus)

Trubus — Tren tanaman hias daun tengah menguat saat ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di pasar mancanegara. Harga tanaman hias daun itu cenderung meningkat. Terutama tanaman hias langka, mutasi, dan variegata. Harganya bisa beberapa kali lipat daripada tanaman aslinya. Sebut saja bibit Monstera borsigiana variegata berdaun tiga helai yang dihargai sekitar Rp3 juta. Bandingkan dengan harga borsigiana nonvariegata yang mencapai sekitar Rp800.000.

Harga mahal pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemilik. Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman hias yang sangat besar sehingga sangat potensial menjadi sumber plasma nutfah tanaman hias dunia. Banyak para pedagang tanaman hias dunia yang berkunjung ke Indonesia untuk berburu tanaman incaran mereka di alam. Berbagai cara mereka lakukan agar dapat membawa tanaman hias daun variegata itu.

Namun, para pedagang asing itu mulai lelah mengumpulkan ragam tanaman hias dari pelosok. Alasannya warga sudah mengetahui nilai komersial tanaman hias itu sehingga bisa mematok harga. Selain itu, ada warga negara Indonesia yang berkepribadian kurang baik sehingga para pedagang mancanegara itu jera berhubungan dengan pedagang lokal. Para pemburu tanaman hias asing itu pun mencari rekan kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Kultur jaringan

Monstera variegata layak diperbanyak menggunakan bioteknologi kultur jaringan karena banyak dicari konsumen di penjuru dunia dan bernilai ekonomis tinggi. (Dok. Trubus)

Hingga kini permintaan tanaman hias daun cenderung meningkat. Sayangnya hal itu tidak diimbangi dengan ketersediaan stok tanaman yang memadai. Menjual stok yang ada dan memburu di hutan masih menjadi andalan para pedagang tanaman hias dalam negeri. Jika hal itu terus berlangsung, ketersediaan tanaman di pasaran makin berkurang. Apalagi budidaya tanaman oleh petani dan masyarakat luas masih konvensional.

Petani kerap menggunakan benih dan bibit seadanya. Teknik budidaya pun masih sederhana. Mereka hanya menggali lubang, menanam, dan membiarkannya. Perbanyakan konvensional belum sanggup memenuhi permintaan jumlah bibit atau tanaman. Sebetulnya banyak petani tanaman hias di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), yang sangat merespons ilmu pengetahun praktis yang bermanfaat seperti kultur jaringan.

Bioteknologi kultur jaringan berpotensi sangat spektakuler untuk dapat menghasilkan produk atau jasa bernilai tinggi. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkannya di tempat steril dan memiliki sifat seperti induknya. Keunggulan lain kultur jaringan yakni mampu menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah besar, seragam, 100% berkualitas, dan dapat dilakukan kapanpun tanpa dipengaruhi iklim.

Kultur jaringan dapat menghasilkan bibit unggul varietas baru dengan metode pemuliaan. Tanaman hasil kultur jaringan bebas virus dengan memakai teknologi kultur meristem. Produksi tanaman variegata yang berharga tinggi pun bisa tercapai menggunakan kultur jaringan. Meski begitu penerapan kultur jaringan di Indonesia masih sangat terbatas pada pihak dan jenis tanaman tertentu.

Harap mafhum satu laboratorium kultur jaringan menghabiskan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah karena mayoritas bahan dan alat impor. Namun, sebetulnya dapat disiasati sehingga kultur jaringan dapat diterapkan pada kondisi terbatas. Solusinya penerapan kultur jaringan sistem inti dan plasma yaitu kultur jaringan yang dimodifikasi sehingga dapat diaplikasikan dalam kondisi terbatas.

Berharga mahal

Sistem inti dan plasma sebenarnya membagi ruang lingkup pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah dan ringan bagi petani. Musababnya semua pekerjaan yang sulit dilaksanakan oleh laboratorium inti. Laboratorium plasma hanya melaksanakan perbanyakan (subkultur) dengan tingkat keberhasilan 80—100%. menggunakan enkas di masing-masing kelompok tani.

Konsep kultur jaringan inti dan plasma bisa menjadi solusi pemenuhan permintaan tanaman hias daun yang cenderung meningkat setiap tahun. (Dok. Trubus)

Adapun kegiatan lain seperti sterilisasi alat dan bahan, pembuatan media, dan inisiasi dilakukan oleh laboratorium inti. Jika ada 1.000 petani menanam 50 botol kultur, didapat 50.000 botol kultur per hari. Harga botol kultur Rp80.000 (kultur jaringan anggrek) sehingga terjadi transaksi Rp4 miliar saban hari. Dengan begitu kebutuhan benih tanaman hias hasil kultur jaringan bisa mengejar permintaan yang tinggi.

Dalam rangka merebut peluang tren tanaman hias daun, Esha Flora Plants and Tissue Culture merintis grup kecil yang berfokus pada penelitian dan pengembangan tanaman mutasi dan variegata. Pemilihan jenis tanaman mutasi dan variegata karena tengah naik daun. Harganya melambung tinggi dan permintaan mancanegara sangat banyak. Pasar dalam negeri pun terdampak sehingga harga tanaman mutasi dan variegata cenderung naik.

Kulturkan semua jenis tanaman hias daun bernilai ekonomis tinggi saat ini. Jumlah bahan indukan eksplan minimal 100 bibit agar dapat dihasilkan eksplan steril yang relatif banyak dan cepat untuk mencapai target. Selain itu, fokus dan prioritaskan pada satu jenis terbaik dengan harga bagus dan bernilai komersial tinggi. Beli 300—500 varietas unggul baru dan langsung diperbanyak dengan kultur jaringan untuk menghentikan arus tanaman impor.

Produk itu harus lebih berkualitas, baik, unggul, murah, dan mudah diakses. Bila harga tetap tinggi dan permintaan bagus, maka layak diberi perlakuan induksi mutasi dan variegata untuk menghasilkan varietas unggul baru. Harapannya dapat menyaingi produk impor. Membuat tren tanaman baru yang disukai pasar mesti menjadi program rutin sehingga kita bisa menguasai pasar. (Ir. Edhi Sandra, M.Si., Dosen Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Fakultas Kehutanan, IPB University dan Pendiri Esha Flora Plants and Tissue Culture)


Artikel Terbaru

BRIN Kaji Pengembangan GPS Ayam Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor Bibit

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN terus mendorong pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal sebagai langkah strategis...

More Articles Like This