Sunday, August 14, 2022

Laba Apik Stroberi Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Stroberi organik banyak diminati konsumen.

 

Merintis budidaya stroberi organik di lereng Gunung Andong. Omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Jajaran greenhouse tampak di kaki Gunung Andong di timur laut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Area itu sohor dengan kesuburan lahannya. Rumah-rumah tanam itu milik Ikhsanudin yang membudidayakan stroberi di dalamnya. Petani di Dusun Pendem, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, itu mengebunkan stroberi organik sejak Maret 2019.

Ikhsanuddin, S.Pd. menanam stroberi organik sejak Maret 2019.

Sarjana Pendidikan Matematika alumnus Unversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu nekat lantaran belum ada petani yang menanam stroberi di rumah tanam, khususnya di Gunung Andong. Budidaya stroberi biasanya menggunakan polibag di lahan terbuka. Mantan guru Matematika itu justru menanam stroberi di bedengan dalam rumah tanam berketinggian 1.463 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Harga lebih tinggi

Ikhsanudin mengatakan, “Salah satu kendala menanam stroberi adalah musim. Petani tidak bisa panen optimal saat musim hujan. Saya pakai greenhouse supaya bisa panen sepanjang musim.” Luas satu rumah tanam 1.000 m². Keruan saja, Ikhsanudin memerlukan biaya Rp40 juta—Rp50 juta untuk membangun sebuah rumah tanam berukuran 14 m x 70 m.

Rumah tanam itu beratap plastik ultraviolet dan berdinding jaring atau screen net. Ia memprediksi rumah tanam berkerangka bambu itu mampu bertahan hingga 6—8 tahun. Setiap rumah tanam mampu menampung 4.000—5.000 tanaman. Jarak tanam berkisar 30—35 cm. Total Ikhsan menanam sekitar 15.000 tanaman pada tiga rumah tanam. Sejak tanaman berbunga hingga buah siap panen memerlukan 50 hari.

Ikhsanudin memanen buah matang berwarna merah terang dengan kisaran bobot 7—13 gram per buah. Ada empat klasifikasi buah berdasarkan bobot per buah yakni kelas A 10—13 g, B 7—10 g, dan C kurang dari 7 g. Kelas premium berbobot lebih dari 13 gram per buah. Petani muda itu mengatur penanaman agar bisa panen berkesinambungan.

Petani kelahiran Kabupaten Magelang, 12 Mei 1987 itu rutin menuai 5 kg buah per hari. Budidaya di luar naungan dengan luas dan populasi sama, petani hanya memetik 0,5—1 kg per hari. Di tingkat petani, harga stroberi organik pada musim kemarau Rp70.000 per kg dan mencapai Rp80.000 pada musim hujan. Harga saat musim hujan lebih tinggi karena pasokan berkurang.

Bandingkan dengan harga stroberi konvensional hanya Rp20.000 per kg. Ikhsanudin bisa memetik buah 3—4 kali per pekan. Pendapatannya mencapai Rp8—Rp10 juta per bulan. Pemuda 33 tahun itu menuturkan, biaya produksi stroberi hanya Rp3 juta per bulan. Stroberi organik itu mengisi toko-toko yang menyediakan bahan pangan organik seperti Ibu Organik, Tante Sayur, dan jejaring pemasaran Sayuran Organik Merbabu (SOM).

Populasi stroberi di dalam rumah tanam sekitar 15.000 tanaman.

Sumber nutrisi

Buah anggota famili Rosaceae hasil budidaya organik itu terasa lebih manis dan terlihat lebih segar. Iksanudin membudidayakan stroberi organik karena memiliki nilai jual tinggi. Semula ia ingin menanam sayuran organik. Namun, pengamatan menunjukkan pekebun sayuran organik relatif banyak. Itulah sebabnya alumnus Pendidikan Matematika itu memilih budidaya stroberi organik. Ia petani pertama yang mengebunkan stroberi di lereng Gunung Andong.

Fermentasi batang pisang dan daun suren untuk mengusir hama.

Ikhsan risau bila tanah pertanian di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, tak mempan lagi dengan pupuk anorganik sehingga dosisnya terus meningkat. Begitu pula dengan penggunaan pestisida makin tinggi lantaran hama mulai resisten. Ia mengatakan, petani di daerahnya menggunakan pestisida dengan dosis sesuka hati. “Mereka melihat tanaman tetangga dan meningkatkan dosis lebih tinggi. Harapannya sayuran tumbuh lebih baik. Padahal itu justru merusak tanaman karena dosis berlebihan,” kata Ikhsan.

Selain dosis berlebihan, pupuk dan pestisida dosis tinggi juga menyebabkan biaya usahatani melonjak. Sementara itu, harga jual cenderung tetap. Itulah petani di sekitar Ikhsan tak pernah memperoleh keuntungan semestinya. Ia memanfaatkan pupuk kandang fermentasi. Adapun pemupukan susulan dengan fermentasi urine kambing serta bonggol dan batang pisang sebagai sumber nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

Kebun stroberi organik Gunung Andong itu memang belum mengantongi sertifikat organik. Meski demikian, konsumen tetap memburu stroberi Ikhsan. Itu lantaran Ikhsan memastikan setiap proses budidaya bebas bahan kimia anorganik. Konsumen dapat mendatangi kebun untuk membuktikan budidaya stroberi Ikhsan memang benar-benar organik.

Pada bulan-bulan awal korona menjangkit Indonesia, permintaan dari toko organik sempat meningkat sekitar 20%. Namun beberapa bulan berselang, permintaan menurun. Bahkan ada satu-dua toko yang tidak memesan sama sekali. Ikhsan menduga dampak resesi mulai terasa pada pertengahan 2020. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img