Tanam kedelai produktif dan hemat biaya produksi.
Subono tersenyum menatap hamparan kedelai seluas 23 hektare. Glycine max itu tumbuh subur dan dipenuhi puluhan polong per tanaman. “Produktivitas kali ini lebih tinggi dibandingkan dengan musim sebelumnya,” ujar petani di Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, itu. Menurut Subono produktivitas kedelai varietas devon 1 mencapai 2,8 ton per hektare.

Padahal, sebelumnya ia hanya menuai rata-rata 2,1 ton per hektare. Harga kedelai pada September 2018 mencapai Rp7.500 per kg. Itulah sebabnya, selisih keuntungan Subono dibanding tanam sebelumnya mencapai Rp5 juta per hektare. Selain itu Subono juga memperoleh 2 ton biji layak benih sehingga keuntungan pun berlipat. Harap mafhum, harga kedelai untuk benih bisa dua kali lipat dibanding dengan untuk konsumsi.
Hemat biaya
Selain lonjakan produksi, Subono juga menghemat biaya produksi. Pasalnya, ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo itu mengubah budidaya atas saran peneliti di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Dr. Ir. M Muclish Addie, M.S. “Kebiasaan di Nganjuk benih langsung disebar saja,” ujarnya. Hasilnya, penggunaan benih terlalu banyak. Padahal dengan cara icir atau lurus barisan, petani bisa menghemat sekitar 40% dari kebutuhan benih.
“Subono hanya membutuhkan 50 kg benih, sebelumnya memerlukan sekitar 80—90 kg benih per hektare,” ujar Muclish Adie. Harga benih anggota famili Fabaceae Rp15.000 per kg. Maka per hektare, para petani di Nganjuk bisa menghemat biaya benih Rp600.000. Untuk lahan kedelai seluas 23 hektare, petani menghemat hampir Rp14 juta. Proses budidaya itu merupakan program budidaya kedelai di lahan sawah (budesa) dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Subono sebagai ketua kelompok tani mitra dalam pelaksanaan program itu. “Penetapan 2018 sebagai tahun perbenihan didukung penuh oleh Badan Litbang Pertanian dengan meluncurkan program budesa yang produksinya ditujukan untuk memperkuat penyediaan benih kedelai nasional,” ujar Muclish. Program budesa itu terlaksana di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dan Parigimoutong, Sulawesi Tengah, dengan luas lahan masing-masing 40 hektare.

Harap mafhum, sebagian besar kedelai di Indonesia dibudidayakan pada musim kemarau di lahan sawah. Dengan demikian, budidaya tanaman berprotein tinggi itu di lahan sawah menjadi penyumbang terbesar kebutuhan kedelai di Indonesia. “Hingga saat ini, penyumbang terbesar kebutuhan kedelai nasional berasal dari kedelai yang dibudidayakan di lahan sawah,” ujar peraih penghargaan inovasi pangan dan pertanian tingkat nasional pada 2015 itu.
Sawah
Muclish menyebutkan banyak keunggulan pengembangan kedelai di lahan sawah khususnya yang ada di pulau Jawa dibanding dengan pengembangan di luar pulau Jawa. “Keunggulan itu di antaranya hampir tidak berkendala oleh keharaan tanah, berdekatan dengan industri berbahan baku kedelai, pengalaman petani berbudidaya kedelai relatif telah lama, dan produktivitas per satuan luas relatif tinggi,” ujar Muclish.
Muclish Adie menerapkan 15 paket teknologi. Beberapa paket itu adalah membuat saluran drainase sedalam 25 cm, cara tanam dengan model icir lurus barisan, dan penggunaan varietas devon 1. Selain itu Muchlish juga menggunakan pupuk kandang 250 kg per hektare sebagai penutup lubang tanam, penggunaan pupuk cair gandasil B umur 40 hari setelah tanam dengan konsentrasi 400 g per 400 liter per hektare.

Ia memilih devon 1 karena merupakan kedelai unggul yang masih relatif baru di kalangan petani. Devon yang merupakan singkatan dari kedelai isoflavon memiliki keunggulan dibandingkan dengan kedelai lain pada produktivitas dan kadar isoflavon yang tinggi plus berbiji besar. “Potensi hasilnya mencapai 3,09 ton per hektare dan berbiji besar 14,3 g per 100 biji. Devon 1 merupakan silangan kedelai varietas kawi dan galur IAC 100 yang dirilis Kementerian Pertanian pada Desember 2015,” ujar alumnus Pemuliaan Tanaman, Institut Pertanian Bogor itu.
Produsen benih kedelai di Nganjuk, Jawa Timur, Putut Agus Kardika, siap menampung kedelai devon 1 hasil panen Subono dan rekan. “Selama ini petani di Nganjuk cenderung memilih varietas anjasmoro dan wilis yang merupakan kedelai varietas lama. Devon 1 itu sangat prospek dikembangkan karena produktif dan berbiji besar. Kami siap menampung kedelai devon 1,” ujar Putut.
Ada tiga perusahaan yang siap menampung hasil panen Subono dan rekan yaitu CV Adi Jaya, CV Kardika Kresna, dan UD Sumber Makmur. Menurut Putut kedelai hasil budidaya Subono masih benih pokok atau benih murni. Oleh karena itu, sayang kalau dijual langsung ke pengolahan,” ujarnya. Harapan Putut, varietas devon 1 menjadi unggulan para petani karena terbukti memiliki kuantitas dan kualitas yang bagus. (Bondan Setyawan)
