Thursday, July 25, 2024

Ubi Jalar Makin Pulen

Rekomendasi
- Advertisement -

Ubi jalar baru berkadar pati tinggi, produktif, dan tangguh hadapi hama penyakit.

“Inilah ubi jalar berkadar pati tertinggi di Indonesia,” ujar Joko Restuono S.P., peneliti ubi jalar di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi). Kadar pati ubi jalar itu mencapai 24%. Artinya dari 100 kg ubi jalar, menghasilkan 24 kg tepung atau pati. Bandingkan dengan ubi jalar lain yang berkadar pati rata-rata 18—20%. Dengan kadar pati tinggi, rasa ubi jalar lebih pulen.

Joko mengatakan, “Jika kadar pati tinggi maka kadar air rendah. Dengan komposisi seperti itu, tekstur ubi jalar menjadi pulen, sehingga makin enak saat dikonsumsi.” Ubi jalar Ipomoea batatas itu bernama pating satu dan pating dua. Pating singkatan dari pati tinggi. Bersama rekannya dari Balitkabi, Joko mulai merakit pating satu dan pating dua sejak 2010.

Bahan biodiesel

Umbi pating satu berkadar pati hampir 25%.

Induk betina pating satu merupakan ubi jalar lokal Sulawesi Utara bernama mamasa dua. Joko menyilangkan varietas itu secara poline cross atau sari bebas dengan 10 pejantan varietas lokal lain secara acak. Mamasa dua unggul dari kadar pati yang cukup tinggi mencapai 19%. Namun, produktivitasnya masih rendah yaitu 20—30 ton per hektare.

“Harapan petani selain kadar pati tinggi, produktivitasnya juga harus tinggi juga,” ujar alumnus Agronomi, Universitas Tribhuana Tunggadewi, Malang, Jawa Timur, itu. Proses penyilangan itu menghasilkan pating satu dengan produktivitas 26,8 ton per hektare. Potensi hasil pating satu hingga 29 ton per hektare. Kadar pati pating satu mencapai 24,83%. Proses nyaris sama pada pating dua. Perbedaannya pada induk betina.

Indukan betina pating dua merupakan ubi jalar varietas lokal Kuningan, Jawa Barat, bernama lampeneng berkadar pati 20%. Namun, produktivitas 24 ton per hektare. Hasil poline cross membuat anak lampeneng yaitu pating dua meningkat produktivitasnya hingga 28,7 ton per hektare dengan potensi hasil mencapai 31 ton per hektare. Sementara kadar pati pating dua mencapai 23,3%.

Joko Restuono, S.P. meneliti pating satu dan dua sejak 2010.

“Pating satu dan dua bisa ditanam di dataran rendah hingga tinggi. Namun, yang paling cocok di dataran menengah sekitar 750 meter di atas permukaan laut,” ujar peneliti yang hobi bermain musik itu. Menurut Joko Restuono, dengan kadar pati tinggi pating satu dan dua cocok untuk industri pangan seperti keripik dan tepung. Namun tidak menutup kemungkinan untuk bahan bakar nabati seperti biodiesel.

“Jika dibandingkan ubi kayu, ubi jalar lebih cepat menghasilkan biodiesel karena umur panennya hanya 4—5 bulan. Sementara ubi kayu 10—12 bulan. Hasil biodiesel memang lebih tinggi ubi kayu tetapi tidak begitu signifikan,” ujar manajer produksi Unit Pengelolaan Benih Sumber Balitkabi itu.

Cegah Boleng

Ubi jalar baru pating satu dan pating dua agak tahan terhadap hama boleng dan penyakit kudis. Boleng hama utama tanaman anggota famili Convolvulaceae itu. Jika tidak dikendalikan Cylas formicarius bisa merugikan petani karena gagal panen. “Kalau kita mengonsumsi ubi jalar dan ada rasa pahitnya. Itu akibat hama boleng,” ujar peneliti di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Joko Restuono. Serangan boleng lebih banyak saat musim kemarau.

Produktivitas pating dua mencapai 28,7 ton per hektare dengan kadar pati 23,3% dan tahan boleng.

Ketika musim hujan, banyak serangan penyakit kudis Sphaceloma batatas. Namun kerugiannya tak sebesar boelng, sekitar 50—70%. “Hingga saat ini belum ada varietas ubi jalar yang tahan menghadapi boleng dan kudis. Statusnya hanya agak tahan atau toleran,” ujarnya. Selain penggunaan varietas yang agak tahan, pengendalian boleng dan kudis sejatinya mudah. Rendam bibit ubi jalar berupa setek dalam larutan insektisida berbahan aktif deltametrin dan fungisida berbahan aktif mankozeb selama 3—9 menit.

Hasil penelitian Tantawizal dan rekan dari Balitkabi, cendawan entomopatogen Beauveria bassiana efektif mengendalikan hama boleng. Pencelupan setek ubi jalar ke dalam suspense konidia B. bassiana selama 30 menit plus penyemprotan 10 ml suspense ke tanah menekan serangan boleng hingga tersisa 5,33%. Bandingkan dengan kontrol yang tingkat kerusakannya mencapai 73,75%. Makin tinggi frekuensi aplikasi cendawan itu, tingkat kerusakan umbi dan populasi hama boleng makin rendah. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kembangkan Kelapa Genjah Merah Bali, Pekebun Panen Lebih Cepat

Trubus.id—Gede Sukrasuarnaya kesengsem penampilan kelapa genjah merah bali. “Warnanya cantik jingga kemerahan. Buahnya lebih banyak dan lebih besar dibandingkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img