Monday, November 28, 2022

Mahkota dewa: Herbal Stop Fistula Ani

Rekomendasi

Fistula ani mengering setelah konsumsi herbal selama dua pekan.

Jermia Budi Susetya harus menahan perih saat beraktivitas pada Desember 2012 akibat luka di dekat anus. Luka itu berlubang dengan diameter 0,5 cm dan memerah di sekitarnya. Dari lubang itu juga mengeluarkan cairan bening. “Cairan itu keluar terus- menerus dan berbau,” ujar pria yang berprofesi sebagai terapis medik itu. Rasa perih semakin terasa ketika buang air besar.

526_56-57-1
Mahkota dewa bersifat antiradang

Tak ingin berlarut-larut merasakan perih, pria berusia 67 tahun itu bergegas memeriksakan  diri ke sebuah rumahsakit di Semarang, Jawa Tengah. Dokter yang memeriksa menyebutkan, Jermia menderita fistula ani. Untuk mengatasinya, dokter memberikan antibiotik. Namun, alih-alih membaik, “Perut terasa perih dan keluar keringat dingin,” ucapnya. Kondisi itu membuat dokter menyarankan Jermia menjalani tindakan operasi.

Lubang

Menurut dr Prapti Utami, dokter dan herbalis di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, fistula ani merupakan kelainan saluran di anus. Gejalanya nyeri dan keluar cairan. Prapti menjelaskan, kotoran seharusnya dikeluarkan usus besar melalui anus. Namun, karena adanya lubang lain akibat luka yang membentuk saluran sendiri, kotoran keluar melalui lubang itu. “Kotoran bisa dalam bentuk feses atau cairan,” ujarnya. Bahkan, bila parah kotoran yang keluar disertai nanah.

Bagi Jermia, fistula ani yang muncul saat itu bukanlah kali pertama. Pada 2007, ia mengalami hal serupa dan memutuskan untuk menjalani operasi. Pascaoperasi kondisinya memang berangsur membaik.  Namun, 5 tahun berselang luka itu muncul kembali.

Prapti menjelaskan, lubang dapat muncul lagi pada penderita fistula ani pascaoperasi. Penyebabnya karena luka yang belum kering. “Munculnya bisa karena infeksi, pengaruh pascaoperasi, atau kemoterapi,” ujar dokter alumnus Universitas Diponegoro itu. Fistula ani yang berkepanjangan itu dapat menyebabkan kanker.  Sebab itu, untuk mencegah fistula ani, Prapti menyarankan pasien banyak mengonsumsi makanan berserat, seperti sayuran dan buah.

Menurut Jermia belakangan ia menolak saran dokter untuk melakukan operasi karena kondisinya yang sudah berumur dan tidak adanya yang merawat di rumah kelak. “Pascaoperasi perlu istirahat total selama 3 bulan,” kata kakek dua cucu itu. Sebab itu pula Jermia mencari pengobatan alternatif setelah mendapat saran sang kawan. Ayah satu anak itu menghubungi dr Prapti Utami.

 

Kombinasi

Jermia memperoleh kombinasi herbal yang  terdiri atas buah mahkota dewa Phaleria macrocarpa, umbi daun dewa Gynura segetum, daun ungu Graptophyllum pictum, daun sambiloto Andrographis paniculata, dan rimpang temuputih Curcuma zedoaria. Ramuan itu berupa seduhan dan kapsul. Jermia  menyeduh lima iris mahkota dewa ke dalam 200 cc air hangat. Menutupnya selama 5 menit, lalu meminumnya.

Untuk kapsul, dosisnya beragam, 1—2 kapsul sekali minum. Jermia mengonsumsi ramuan herbal itu tiga kali dalam sehari sebelum makan. Total jenderal, dalam sehari Jermia mengonsumsi 3 gelas seduhan dan 21 kapsul. Dua pekan pascakonsumsi kondisi Jermia  menunjukkan perbaikan. “Luka mulai mengering dan cairannya berhenti,” ungkapnya.

Prapti menuturkan ramuan herbal itu dapat mempercepat proses penyembuhan.   Mahkota dewa, sambiloto, dan daun ungu berfungsi sebagai antiradang, antibiotik, dan mengembalikan fungsi otot. Sementara temuputih dan umbi daun dewa bersifat antikanker. “Kombinasi herbal akan merevitalisasi sel, sehingga luka cepat  membaik,” katanya.

Mengeringnya fistula ani yang diderita oleh Jermia, salah satunya karena mahkota dewa. Itu sejalan  riset Rudi Hendra dari Departemen Biokimia,  Universitas Putra Malaysia. Riset yang termuat dalam “BMC Complementary and Alternative Medicine” pada November 2011 itu membuktikan mahkota dewa bersifat antioksidan dan antiradang. Sifat antiradang itu ditunjukkan dengan nilai hambat sintesis oksida nitrat sebanyak 63,4% pada perikarp atau kulit buah dan 69,5% pada mesokarp atau lapisan bagian tengah buah mahkota dewa.

Selain mahkota dewa, beberapa herbal juga kaya antioksidan. Salah satunya kulit manggis. Menurut Dr Berna Elya Apt MSi, ahli farmasi dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, kulit manggis memiliki senyawa xanthone yang merupakan antioksidan tinggi. Xanthone memiliki gugus hidroksida (OH) yang efektif mengikat radikal bebas di dalam tubuh. Nilai oxygen radical absorbance capacity (ORAC)—indikator kandungan antioksidan—kulit manggis mencapai 17.000—20.000 unit per

100 gram. Bandingkan dengan stroberi yang nilai ORAC-nya hanya 5.938 unit per 100 gram, atau anggur 1.100 unit per 100 gram. Keberadaan xanthone  dalam kulit manggis juga dapat menyembuhkan beragam penyakit. Menurut dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, antioksidan dapat memacu regenerasi sel untuk mengganti sel-sel yang rusak. (Desi Sayyidati Rahimah)

Previous articleDaun Wuluh Antidiabetes
Next articleMari Makan Bayam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img