
Menemukan keindahan anggrek alam di habitat asli.
Kabut mulai turun bagi tirai yang menghalangi pandangan di Gunung Halimun (secara harfiah halimun berarti kabut). Suasana sore itu senyap. Gerimis perlahan datang. Tiba-tiba suara itu merobek kesenyapan. Setelah rombongan berjalan kaki hampir 1,5 jam menelusuri lantai hutan yang basah, Frankie Handoyo berujar keras, “Lihat Bulbophyllum lobbii lagi berbunga.” Para peserta eksplorasi anggrek spesies di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pun serentak mengarahkan pandangan pada serumpun anggrek yang tumbuh di cabang pohon rasamala, 7 m dari permukaan tanah.
Pohon itu tumbuh di tepi lintasan loop trail, jalan setapak yang berjarak sekitar 2,7 km dari stasiun penelitian Cikaniki menuju kampung Citalahab. Menurut Frankie, penemuan B. lobbii yang tengah berbunga di alam itu tergolong pengalaman langka. “Selama ini para pehobi menikmati keindahan bunga lobbii di dalam pot,” katanya. B. lobbii kerap menjadi salah satu koleksi pehobi anggrek lantaran penampilan bunganya yang cantik. Bunga lobbii bersepal lateral yang melengkung ke bawah sehingga tampak seperti taring gajah.
Itulah sebabnya para peserta tak menyia-nyiakan kesempatan langka untuk mengabadikan kecantikan anggrek yang berpangkal daun menggembung itu. Frankie menuturkan tanaman anggota famili Orchidaceae itu berdaya adaptasi luas. “Ia mampu tumbuh di ketinggian 200—2.000 meter di atas permukaan laut (m dpl),” ujar pria yang pernah bekerja sebagai pembuat program komputer itu. Di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak anggrek itu tumbuh di ketinggian 1.040 m dpl.
Rombongan yang terdiri atas 20 orang itu kembali berjalan menyibak hutan Halimun. Dua puluh menit berselang mata Frankie kembali menemukan spesies lain, Collabium nebulosum. Anggrek itu tumbuh di antara semak-semak yang menutup dinding tanah di bagian kiri jalan setapak. Sayang, anggrek yang ditemukan ahli botani asal Jerman, Carl Ludwig Blume, pada 1825 itu sedang tidak berbunga. Meski tanpa bunga Collabium nebulosum tetap elok. Harap mafhum daun anggrek itu bertotol-totol hitam.
Tidak jauh dari nebulosum, Trubus dan rombongan kembali menjumpai anggrek yang tumbuh di sebuah pohon puspa Schima wallichii setinggi sekitar 5 m. Anggrek itu jenis Agrostophyllum bicuspidatum. Ciri khas anggrek asal Jawa Barat itu adalah posisi daun yang tumbuh berhadapan. Ukuran bunganya sangat mungil, yakni berdiameter sekitar 5 mm. Sayangnya, anggrek yang ditemukan pertama kali pada 1912 itu juga sedang tidak berbunga.
Memprediksi anggrek berbunga di alam memang suatu hal yang sulit ketika mengeksplorasi di habitat asli. Apalagi jika yang dijumpai adalah jenis Macodes sp yang memang “pelit berbunga” (baca: Tiada Bunga Daun pun Elok halaman 110—111). “Jika sedang eksplorasi anggrek, tidak dapat diprediksi anggrek yang dijumpai sedang berbunga atau tidak. Jika beruntung, kita bisa menemukan anggrek berbunga,” ujar Frankie yang memimpin penelusuran anggrek di TNGHS.
Hasrat menyaksikan anggrek berbunga di habitat aslinya di alam akhirnya terbayar saat Frankie menunjukkan Vrydagzynea nuda. Anggrek itu tumbuh di antara semak di dinding tanah di tepi jalan setapak di jalur loop trail menuju kampung Citalahab. Anggrek yang ditemukan pertama kali oleh Blume pada 1859 itu tengah berbunga meski masih kuncup sehingga ciri khas tanaman itu belum terlihat. Menurut Frankie, ciri khas anggrek terlihat dari struktur bunga yang memiliki bagian khas yakni sepal, petal, dan bibir alias labelum. “Jika sedang tidak berbunga, Vrydagzynea nuda pasti dianggap bukan anggrek,” ujar Frankie.
Sekitar 200 m dari lokasi ditemukannya V. nuda, tumbuh anggrek yang sedang berbunga, Erythroides latifolia yang tumbuh di permukaan tanah atau teresterial bersama semak. Menurut Frankie anggrek itu memang tidak menyukai intensitas sinar matahari tinggi sehingga tumbuh di bawah naungan. Bunga belum semuanya mekar. Kuntum bunga yang sedang mekar hanya pada susunan paling bawah hingga bagian tengah. Bunga E. latifolia tergolong mungil, yakni berukuran 1 cm.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari lokasi E. latifolia, rombongan kembali menemukan anggrek yang sedang berbunga. Meski tumbuh di antara semak dan serasah lantai hutan, sosok anggrek itu tampak mencolok karena bunganya berwarna jingga dengan tangkai bunga berwarna merah tua yang tumbuh menjulang. Dalam satu tangkai terdapat puluhan bunga sehingga terlihat semarak. “Itu Diglyphosa latifolia,” ujar Frankie.
Hujan gerimis yang turun sepanjang hari dan kondisi jalan setapak yang licin tak menyurutkan para peserta eksplorasi melanjutkan perjalanan. Rasa dingin dan lelah seakan sirna saat rombongan menemukan Dendrobium mutabile yang tengah berbunga. Anggrek itu tumbuh rendah di permukaan pohon rasamala Altingia excelsa sehingga para peserta dapat mengamatinya dari dekat. Sayangnya, bunga anggrek berwarna putih berbercak kuninng di bagian pangkal lidah atau labellum itu sudah lama mekar sehingga mahkotanya tampak layu. Apalagi hujan mengguyur mahkota mutabile yang tipis sehingga bunga tampak seperti merunduk.
Asyiknya menikmati anggrek yang banyak ditemukan di sepanjang jalan membuat perjalanan sejauh 2,7 km dari Cikaniki ke Citalahab terasa begitu lamban. Padahal, matahari mulai condong ke peraduan. Hari mulai gelap dan gerimis yang terus mengguyur membuat Odi Sobandi, pemandu dari TNGHS resah. “Kalau kondisi hujan begini saya khawatir ada pohon tumbang,” ujarnya.

Di sepanjang perjalanan rombongan dua kali menjumpai pohon puspa berdiamater sepelukan orang dewasa yang tumbang dan menghalangi jalan setapak. Untuk melewatinya, rombongan mesti merangkak naik ke permukaan batang pohon anggota famili Theaceae itu. Menurut Odi, pohon itu tumbang akibat hujan besar yang mengguyur kawasan TNGHS sepekan sebelumnya.
Akibat tumbang beberapa rumpun anggrek yang tumbuh di pohon puspa itu turut berkalang tanah. Pada pohon tumbang, terdapat anggrek Appendicula sp. Salah satu tangkainya tengah berbunga. Pada pohon tumbang itu juga terdapat rumpun Dendrophyllum sp. Namun, nama spesiesnya sulit diidentifikasi karena sedang tidak berbunga.
Rombongan juga beberapa kali menjumpai rumpun anggrek yang jatuh ke tanah. Menurut Odi, anggrek-anggrek itu kemungkinan jatuh akibat ranting atau cabang tempat mereka tumbuh sudah lapuk sehingga patah akibat guyuran hujan deras. Ketika eksplorasi pada pertengahan April 2013, hujan mengguyur kawasan TNGHS. Untuk menyelamatkan anggrek itu, pengurus PAI cabang DKI Jakarta, Dian Rahardjo, berinisiatif mengambil anggrek yang jatuh. Ia lalu mengikatnya pada pohon menggunakan tali plastik. “Dengan begitu nantinya perakaran kembali tumbuh dan menempel pada pohon inang baru,” ujarnya.

Upaya penyelamatan anggrek yang jatuh akibat ranting patah dan pohon tumbang juga ditempuh pengelola TNGHS. Mereka membuka kebun koleksi seluas sekitar 3.000 m2 di bagian belakang gedung penginapan di stasiun penelitian Cikaniki. Saat itu, beberapa jenis anggrek di kebun koleksi sedang berbunga. Salah satunya Calanthe pulcra. Penampilan bunga anggrek itu atraktif karena berwarna jingga.
Jenis anggrek lain yang sedang berbunga adalah Phaius reflexipetalus yang juga berbunga cantik, bersepal dan petal berwarna kuning dengan bercak cokelat. Yang unik pada permukaan lidah tampak seperti bulu-bulu halus. Yang tak kalah unik adalah Tainia speciosa yang bermahkota ramping berwarna hijau dengan corak garis cokelat memanjang. Sementara bagian lidah berwarna putih dan lebih lebar. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, rombongan akhirnya tiba di Kampung Citalahab.
Eksplorasi kali itu ditutup dengan sajian pemandangan deretan anggrek Arundina graminifolia yang sedang berbunga. Anggrek itu tumbuh di dinding lereng di tepi jalan saat hendak menempuh jalan pulang dari Citalahab ke Cikaniki. Tim eksplorasi berhasil menemukan 27 jenis anggrek. Jumlah itu jauh masih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggrek yang pernah diidentifikasi peneliti Pusat Penelitian Biologi, Drs Uway Warsita Mahyar dan Asep Sadili. Kedua peneliti itu berhasil mengidentifikasi 156 spesies anggrek di TNGHS. (Imam Wiguna)
