Friday, January 16, 2026

Mutu Salak yang Dikehendaki Oleh Pasar Ekspor

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Perniagaan salak ke mancanegara tergolong mudah. Musababnya kriteria salak dari Indonesia memenuhi kualitas standar ekspor dari negara tujuan. Sebagai contoh Indonesia mengirimkan salak ke sejumlah negara seperti Kamboja, Malaysia, Thailand, Tiongkok, dan Singapura.

Berdasarkan data International Trade Center (ITC) 98% kebutuhan salak di Kamboja terpenuhi dari Indonesia. Salah satu eksportir salak di Indonesia yakni Untoro Hadi Suharto rutin mengekspor 2 ton salak ke beberapa negara di Asia Tenggara. Negara tujuan meliputi Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Ia juga rutin mengekspor 200 kuintal salak ke Belanda. Untoro rutin mengekspor salak setiap dua pekan. Menurut Untoro buah salak yang dikehendaki oleh pasar mancanegara memiliki beberapa kriteria. Seperti ukuran buah dengan bobot 100 gram per buah.

Tingkat kematangan buah 70%. Dalam setiap buah minimal terdapat 3 biji dengan ukuran daging buah yang besar. Buah yang memiliki 3 biji biasanya ditandai dengan bentuk buah yang bulat lonjong dan presisi. Selain itu syarat salak kualitas ekspor harus memiliki kulit buah yang mulus mengilap tanpa duri.

Banyak petani di lereng Gunung Merapi, Provinsi Jawa Tengah, yang membudidayakan salak nglumut. Ia mengebunkan salak pada lahan seluas 50 hektare. Untoro mengekspor salak varietas nglumut yang dibudidayakan secara organik. Budidaya organik menjadi salah satu persyaratan untuk ekspor.

Musababnya salak hasil budi daya organik memiliki kesegaran buah lebih tahan lama.

Salak organik mampu bertahan di suhu ruang hingga 7 hari. Bandingkan dengan masa simpan salak budidaya nonorganik yang hanya bertahan 4 hari di suhu ruang. Klaim budi daya organik itu harus disertai bukti nyata.

Sertifikat organik

Untoro mengantongi sertifikat organik dari Control Union sejak 2010. Menurut Untoro untuk kualitas buah yang diminta oleh pasar Asia Tenggara dan Eropa sama saja. Perbedaannya hanya dari segi pengemasan. Pasar Eropa menghendaki kemasan buah dalam kardus khusus pengemasan buah.

Dalam kardus itu tertera informasi seperti  yang berisi kadar pH, nama perusahaan yang mengirim, dan total bobot buah. Setiap kardus berisi 9,5 kg salak. Sementara pengiriman ke Asia Tenggara menggunakan kapal laut dengan kemasan keranjang buah berbahan plastik.

Bobot tiap keranjang sama seperti pengemasan ke Eropa, yakni 9,5 kg. Suhu udara dalam kontainer harus stabil pada angka  10—20°C. Tujuannya untuk menjaga kesegaran buah hingga sampai ke tangan konsumen. Untoro rutin mengekspor salak sejak 2020.

Upaya yang dilakukan Untoro terbukti berhasil. Ia tidak pernah mendapatkan komplain dari konsumen lantaran kerusakan buah akibat proses pendistribusian. Untoro mengekspor salak nglumut organik di bawah bendera PT Zalac Food Indonesia.

Saat panen raya pada Desember—Januari, 90% salak bermutu baik dan masuk kategori kelas ekspor. Di luar panen raya—Februari hingga November—mutu salak sedikit menurun, yakni hanya 80% pasokan yang masuk kelas ekspor. Perlakuan budi daya dan pascapanen salak yang tepat terbukti meningkatkan mutu sekaligus nilai jual salak.

Pekebun salak lainnya dapat meniru langkah yang ditempuh oleh Untoro. Supaya kesegaran buah tetap terjaga meskipun menempuh jarak ribuan kilo meter menuju negara tujuan. Apabila kualitas selalu terjaga pemesanan ulang alias repeat order dari konsumen akan berkelanjutan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img