Saturday, January 17, 2026

Panen Vannamei Naik 50%

Rekomendasi
- Advertisement -

Produksi udang vannamei melonjak 50% setelah mengadopsi kombinasi dua sistem yang ramah lingkungan.

Kombinasi sistem budidaya zero water discharge (ZWD) dan recirculating aquaculture system (RAS) menghasilkan 2,7 kg vannamei per m3 pada salinitas rendah sesuai riset Dr. Gede Suantika dan rekan.

Trubus — Para pembudidaya lazimnya hanya menebar 100—150 benur alias benih udang per m3. Dr. Gede Suantika menebar 500 benur per m3. Gede, ahli akuakultur di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), menerapkan sistem budidaya udang vannamei Litopenaeus vannamei superintensif. Meski padat tebar tinggi, sintasan atau kelangsungan hidup mencapai 78%.

Gede dan rekan membudidayakan udang di delapan kolam yang bervolume total 99,2 m³ di lahan 124 m². Hasilnya? Gede memanen 298 kilogram udang vannamei setelah memelihara selama 60 hari. Volume panen itu setara 2,7 kg udang per m3 pada salinitas rendah.

Salinitas rendah

Panen vannamei Gede memang sangat besar. Bandingkan dengan hasil panen sebuah perusahaan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang memproduksi 17,5 ton per hektare atau 1,75 kg per m³. Gede membudidayakan si kaki putih itu di Kabupaten Gresik, Jawa Timur dalam rangka penelitian budidaya vannamei superintensif pada salinitas rendah. Ia bekerja sama dengan pembudidaya dan penangkar udang di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Usman Zuhri. Lokasi budidaya berjarak 17—20 kilometer dari pantai.

Pada umumnya lokasi tambak vannamei berjarak 50—100 m dari pantai. Gede memang beternak satwa air anggota famili Penaeidae itu pada salinitas rendah 5—6 ppt, lazimnya 29—30 ppt. Ia menggunakan benih PL10 yang dipelihara pada air bersalinitas 32 ppt. Tim peneliti lalu mengadaptasikan benur itu agar mampu bertahan pada air bersalinitas 5 ppt. Caranya mereka menurunkan kadar salinitas air sekitar 2 ppt setiap hari selama 13 hari berturut-turut.

Periset itu menggunakan kombinasi sistem zero water discharge (ZWD) dan recirculating aquaculture system (RAS). Prinsip dasar RAS yaitu proses perawatan air dengan sirkulasi menggunakan beberapa komponen termasuk filter fisik dan biologi (Lihat Memadukan Dua Sistem).

Adapun ZWD mengandalkan kehadiran beragam mikrob di kolam yang berperan dalam siklus nutrien, pemurnian air, pengontrol bakteri, dan sumber pakan. Gede mengisolasi bakteri itu dari perairan Indonesia.

Dr. Gede Suantika, peneliti sistem hibrida ZWD dan RAS untuk pembesaran vannamei salinitas rendah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

“Saya berprinsip bakteri lokal lebih baik,” kata doktor alumnus Laboratory of Aquaculture and Artemia Reference Center, Ghent University, Belgia, itu. Pada penelitian yang termaktub dalam Aquaculture Engineering 82 (2018) itu tim periset memakai ZWD ketika memulai budidaya.

Ramah lingkungan

Sebelum itu mereka memastikan mikrob berkembang baik di kolam pemeliharaan. RAS beroperasi jika kadar amonium dan nitrit lebih dari 0,5 ppm dan berhenti bekerja jika kedua ion itu menurun menjadi 0—0,5 ppm.

Gede menuturkan perlu kajian ekonomi lanjutan jika ingin menerapkan hasil riset itu. Hasil penelitian Gede dan rekan mungkin tidak sebesar tambak intensif.
Namun, penggunaan sistem akuakultur tertutup—ZWD dan RAS—membuat industri udang lebih berkelanjutan. Selain itu kombinasi sistem itu juga ramah lingkungan. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img