Monday, July 22, 2024

Pangan Sehat untuk Dunia

Rekomendasi
- Advertisement -
Konsumen Italia menyukai mi ubi ungu, mi cabai, dan mi kunyit. (Dok. Javara Indonesia)

Beragam pangan lokal yang sehat untuk memasok pasar ekspor dan domestik. Konsumen mancanegara ketagihan.

Trubus — Helianti Hilman menyediakan beragam pangan sehat seperti minyak goreng organik, beras organik, gula, garam, dan mi sayur. Menyehatkann lantaran bahan baku semua produk itu organik. Mi sayur sumber karbohidrat nonberas yang seksi. Ia merilis produk itu pada 2010 itu dan laku keras di pasar ekspor. Ekspor perdana mi sayur ke Italia pada 2012 dan sampai sekarang tetap berjalan.

Helianti Hilman meninggalkan profesi konsultan dan merintis Javara Indonesia pada 2008. (Dok. Javara Indonesia)

Alumnus Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran itu juga mengekspor mi sayur ke Afrika Selatan dan Jepang. Setidaknya ia mengirim 10 kontainer ke Afrika Selatan selama setahun terakhir. Konsumen di negara berjuluk rainbow country itu amat menyukai varian mi moringa, mi kunyit, dan mi ubi ungu. Konsumen di Italia meminati mi ubi ungu, mi cabai, dan mi kunyit.

Lebih sehat

Menurut Helianti konsumen Indonesia lebih memilih mi brokoli, mi bayam, mi wortel, dan mi tomat. Itulah sebabnya mi ubi ungu, mi cabai, dan mi kunyit kurang populer di negeri sendiri. Selain itu, persepsi masyarakat juga memengaruhi preferensi mi sayur. Helianti mencontohkan bagi orang Indonesia, sayuran seperti brokoli, bayam, wortel, dan tomat dianggap menu sehat.

Lain dengan konsumen mancanegara, mereka menganggap moringa, kunyit, dan ubi ungu sebagai pangan sehat. Sejatinya tak ada perbedaan rasa pada setiap varian sehingga rasa cenderung netral. Perbedaan ada pada warna dan kandungan nutrisi. Helianti mengatakan kandungan sayuran pada mi warna-warni itu berkisar 20—30%. Mi gourmet itu terbuat dari tepung terigu, bayam, tepung singkong, air, dan garam.

Daun moringa pangan super yang menjadi bahan baku mi gourmet Javara. (Dok. Javara Indonesia) 

Dalam proses pembuatan, Helianti tak menggunakan telur, bahan pengawet, pewarna sintetis, dan penguat rasa. Uniknya mi sayur dapat diolah tanpa panas. Cukup rendam mi dalam air bersuhu ruangan selama 12 menit lalu tiriskan. Mi dapat diolah menjadi mi goreng, mi kuah, atau pasta dengan tambahan bumbu lain. Selain lebih sehat daripada mi pada umumnya, mi sayur alternatif menu sehat bagi anak yang sulit makan sayur.

Konsumsi mi dapat karbohidrat sekaligus serat. Tak heran bila produk itu menjadi incara kaum ibu. Magister Hukum bidang Hak Kekayaan Intelektual King’s College, University of London itu mengatakan, para ibu bahagia setidaknya anak dapat asupan sayuran meski hanya makan mi. Sayurannya pun tak terlalu nampak sehingga anak tidak protes.

Setahun terakhir, permintaan mi sayur untuk pasar domestik meningkat signifikan termasuk saat pandemi korona. Helianti menduga konsumen membeli dalam jumlah banyak sebagai persediaan saat karantina wilayah alias lock down. Selama pandemi, konsumen cenderung butuh bahan pangan siap olah dan siap saji. Saat ini pun proporsi penjualan mi sayur sudah seimbang antara pasar ekspor dan domestik.

Domestik menguat

Sejak meninggalkan profesi konsultan dan merintis Javara Indonesia pada 2008, Helianti selalu tertarik mengamati preferensi konsumen. Terkadang apa yang diminati konsumen mancanegara berbeda jauh dengan yang populer di Indonesia. “Bicara pangan lokal, kami lebih banyak ekspor. Sampai 2014, tercatat 90% penjualan untuk ekspor sedangkan 10% domestik,” tutur Helianti.

Dari atas: mi brokoli, mi ubi ungu, mi kunyit, mi bayam, dan mi wortel. Kadar sayuran dalam mi itu 20—30%. (Dok. Javara Indonesia) 

Namun setelah itu keran pasar domestik perlahan terbuka. Setidaknya tiga tahun terakhir konsumen dalam negeri mulai banyak yang mengapresiasi produk artisan Javara. Uniknya menurut Heli, pemicunya bukan isu pangan lokal tetapi pangan organik dan sehat. Ia masih ingat pada 2008, jika ingin produk organik biasanya hasil impor. Itu karena konsumen kurang percaya merek lokal.

“Dulu sewaktu kami mulai Javara sekitar 2008, kalau mau produk organik biasanya impor karena konsumen kurang percaya merek lokal. Padahal, produk kami sudah tersertifikasi organik untuk standar Eropa, Amerika, dan Jepang,” kata Helianti mengenang. Kini ia patut berbangga lantaran kerja kerasnya mulai berbuah manis. Pangan berlabel sehat dan artisan hasil produksi lokal naik pamor.

Pada 2019 penjualan Javara pun didominasi pasar domestik mencapai 65% sedangkan ekspor 35%. Itu menegaskan tren konsumsi pangan lokal sejatinya tak hanya meningkat saat pandemi tetapi jauh sebelumnya. Menurut Helianti peningkatan terjadi gradual sejak 2016. Faktor pemicu lain yakni milenial memiliki ketertarikan tinggi terhadap kuliner.

Javara memiliki rumah produksi di Kota Bekasi, Jawa Barat dan toko di Jakarta Selatan. Khusus untuk mi sayur, produksi tersebar di beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Sistemnya desentralisasi karena kami berusaha mendekati sumber bahan baku terutama sayuran organik,” kata perempuan yang gemar bertamasya dan memasak itu.

Ada mitra produksi yang ditunjuk untuk mengerjakan pesanan sesuai standar keamanan pangan yang Javara tentukan. Tim Javara menentukan resep, formulasi, dan penyuplai bahan baku. Mitra tersebut mengirim produk jadi ke rumah produksi di Kota Bekasi, Jawa Barat untuk pengemasan dan sejumlah pengujian. Sistem desentralisasi itu turut menghidupkan denyut perekonomian di daerah rural. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

PFI dan Tanoto Foundation Luncurkan Buku Kolaborasi untuk Negeri

Trubus.id—Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Tanoto Foundation dan Klaster Filantropi Pendidikan melalui  Philanthropy Thought Leaders (PTL) ke-15 menyelenggarakan peluncuran...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img