Trubus.id—Populasi kerbau Pampangan di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan cenderung menurun saban tahun. Menurut peternak di Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, Ali mengatakan, saat ini populasi kerbau di Kecamatan Pampangan sekitar 600 ekor pada 2020.
Ia menuturkan betina mendominasi populasi karena peternak menjual anak kerbau jantan yang berumur setahun. Alasannya harga jual tinggi mencapai belasan juta rupiah per ekor.
Menurut Ali salah satu penyebab penurunan populasi kerbau Pampangan yakni alih fungsi padang penggembalaan berupa rawa yang menjadi lahan pertanian dan perkebunan sawit.
Dampaknya ketersediaan pakan pun berkurang. Kadang masih ada rumput di kebun sawit. Kerbau pun masuk kebun sawit dan menimbulkan sengketa.
Agar kerbau tidak masuk kebun sawit, pengelola membuat parit yang cukup dalam. Ali menuturkan ada 3—4 kerbau terperangkap dalam parit dan akhirnya hilang karena dicuri.
Beberapa kerbau juga tiba-tiba jatuh dan tidak bisa berdiri sepulang mencari pakan. Ali menduga air sungai yang tercemar pupuk kimia atau pestisida kimia berpengaruh pada kesehatan kerbau.
Husin, Ali, dan peternak di Kecamatan Pampangan berharap pihak berwenang membuat peraturan yang mengatur tentang padang penggembalaan agar tidak beralih fungsi. Dengan begitu kelestarian kerbau Pampangan di masa depan pun lebih terjamin.
“Kalau kerbau Pampangan punah ya punah juga budaya kuliner,” kata dosen di Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Ir. Arfan Abrar, S.Pt., M. Si., Ph. D., IPM, ASEAN Eng. Baca juga Kerbau Pampangan Satwa Unik Gemar Menyelam.
Peneliti di Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Ir. Chalid Thalib, M.S., dalam WARTAZOA, menyatakan, kendala peningkatan populasi kerbau secara genetik karena keterbatasan bibit unggul.
Kehadiran bibit unggul diperlukan untuk perkawinan outbreeding yang dapat menurunkan tingkat inbreeding pada kelompok ternak. Kurangnya pengetahuan peternak dalam memilih calon pejantan atau pejantan unggul yang akan digunakan sebagai pejantan pun merupakan tantangan peningkatan kerbau dari sisi genetik.
Dari segi pakan, perlu peningkatan pengetahuan peternak tentang sumber pakan lokal dan tanaman pakan ternak (TPT) unggul untuk dikembangkan lebih lanjut. Selain itu pemanfaatan pakan untuk perbaikan produktivitas dan kinerja reproduksi kerbau juga perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, suatu mekanisme perlu dihadirkan agar kelompok peternak pembibit dapat menerapkan prinsip pembibitan untuk menghasilkan bibit kerbau unggul. Menurut Arfan di Desa Bangsal ada diklat untuk memperbaiki sistem budidaya kerbau Pampangan.
Adanya Buffalo Center sebagai instansi ex situ yang beroperasi sejak 2019 juga berperan meningkatkan produktivitas dan kapasitas genentik kerbau melalui adopsi inovasi dan teknologi yang bersifat sistematis.
“Soal Buffalo Center atau upaya pemerintah untuk mempertahankan kerbau Pampangan ini arahnya sudah tepat,” kata Arfan.
Ia juga aktif menyuarakan pelestarian kerbau Pampangan seperti melalui tulisan. Arfan dan rekan berencana menjadikan Desa Kuro dan Desa Bangsal sebagai desa ekologis wisata. Tujuannya agar generasi muda lebih mengenal kerbau Pampangan.
“Kerbau Pampangan bukan hanya plasma nutfah lokal, tetapi juga warisan budaya dari kerajaan di Sumatra Selatan. Kita harus membuat kerbau Pampangan bukan semata ternak lokal, tetapi ikon Sumatra Selatan. Ikon budaya. Kalau kerbau itu punah, gulo puan pun tidak ada,” kata Arfan.
