Tuesday, January 13, 2026

Pendatang Eksotis dari Argentina

Rekomendasi
- Advertisement -

Pehobi akuaskap memburu tanaman air eksklusif, cantik, adaptif, dan lambat pertumbuhannya.

M Iqbal Kurnianto penasaran melihat foto tanaman air di media sosial. “Luas daunnya hanya sebesar tiga jari orang dewasa dan baru muncul 4 daun, tetapi harganya Rp1.500.000,” ujar pehobi akuaskap di Kediri, Jawa Timur, itu. Karena penasaran Iqbal bergegas mencari informasi mengenai tanaman bernama Echinodorus iguazou itu. Iqbal beruntung, rekannya sesama pehobi akuaskap di Taiwan mengoleksi tanaman eksklusif itu.

“Yang membuatnya mahal, karena langka dan lambat pertumbuhannya,” ujarnya. E. iguazou berasal dari aliran sungai air terjun Iguazou di Argentina. “Sejak 2009 pemerintah Argentina melarang pengambilan tanaman tropis itu di alam secara sembarangan,” ujarnya. Maka sejak adanya kebijakan itu, Echinodorus iguazou yang beredar di pehobi diberi tambahan angka 2009 sesuai tahun terakhir pengambilan di alam.

Tiga juta rupiah

Echinodorus iguazou penghias akuaskap asal Argentina.

Setelah bernegosiasi dengan rekannya, akhirnya mereka sepakat, Iqbal harus membarter 3 tanaman Echinodorus senilai total Rp9 juta dengan 0,5 kg tanaman buchephalandra miliknya. “Saat itu harga Echinodorus iguazou 2009 di Indonesia Rp3 juta untuk tanaman berumur 2 tahunan,” ujar pria kelahiran 21 April 1993 itu. Proses pengirimannya memakan waktu selama 2 pekan hingga tiba di tangan Iqbal.

Ketika tanaman tiba di tanah air, Iqbal segera membuka kemasan. Ia terkejut ketika menyentuh daun Echinodorus iguazou. “Saya kaget karena daunnya kaku seperti tanaman plastik. Sangat unik,” ujarnya. Iqbal memotong akar ketiga tanaman itu karena sudah busuk lalu mencuci hingga bersih. Setelah itu Iqbal menanam di media pasir malang dan meletakkan di kolam air yang di atasnya ada jaring penaung.

“Cahaya yang masuk sekitar 70% saja,” ujarnya. Pada 2015 akhir, dua rekan Iqbal sesama pehobi akuaskap di tanah air kepincut tanaman langka itu. “Akhirnya saya lepas dua tanaman itu seharga masing-masing 3 juta rupiah. Saya hanya mengoleksi satu indukan,” ujar Iqbal. Dari satu indukan itu, Iqbal hanya bisa menghasilkan sekitar 26 anakan yang juga menjadi incaran para kolektor tanaman akuaskap di Indonesia.

Buchephalandra sp variegata, paduan warna daun amat seronok menghias akuarium.

Iqbal mengatakan, “Sekitar 20 tanaman dibeli kolektor di Malang, Jakarta, Bekasi, dan Samarinda.” Kini tersisa 6 anakan. Harap mafhum, perbanyakan Echinodorus iguazou tergolong susah. “Butuh waktu hingga 3 tahun untuk berbunga dan susah berbiji. Maka cara yang efisien dengan setek atau memotong batangnya sekitar 5 cm lalu ditanam di dalam air. Itu pun harus menunggu waktu sekitar 3 tahun baru bisa dipanen,” ujarnya.

Kesulitan itu membuat Echinodorus iguazou masih langka keberadaannya di Indonesia. Dalam akuaskap, tanaman eksotis itu cocok sebagai elemen tanaman pengisi akuaskap bertema dutch style atau tema Belanda. “Dutch style memaksimalkan elemen tanaman. Mulai dari besar kecil dan panjang pendek tanaman, hingga variasi warna mulai dari hijau, merah, ungu, dan perak. Adapun kayu dan batu hanya sedikit saja,” ujarnya. Komposisi itu menghadilkan pemandangan seperti sungai yang banyak ditumbuhi tanaman-tanaman.

Kalimantan

Alam Kalimantan juga menyimpan keanekaragaman hayati pengisi akuarium. Salah satunya bernama Buchepalandra sp. M Iqbal bercerita, pada awal kemunculan Buchephalandra pada 2009, para pemain akuaskap menyangka tanaman itu berasal dari Jepang. “Seorang perancang akuaskap asal Jepang yang pertama mempopulerkan buchephalandra, sehingga banyak yang menduga tanaman itu berasal dari Jepang.

M Iqbal Kurnianto mengeksplorasi tanaman akuaskap di Kalimantan.

Namun pada 2011, hobi akuaskap mulai ramai di Indonesia dan saat itulah diketahui kalau buchepalandra sejatinya tanaman endemik Kalimantan,” ujar lelaki asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu. Keunikan buchepalandra terletak pada kemampuan adaptasinya. “Kalau tanaman lain dipelihara di kondisi akuarium yang minim cahaya, karbondioksida, dan nutrisi, warnanya tidak maksimal, hanya hijau.

Sosok anubias berdaun kompak.

Sementara buchepalandra tetap memamerkan kecantikan daunnya yang bisa berubah menjadi ungu atau perak plus seperti ada gliternya ketika tertimpa cahaya,” ujar Iqbal. Buchepalandra juga cocok untuk semua tema akuaskap mulai dutch style, rimba, dan natural. Pehobi akuaskap di Kota Batu, Jawa Timur, Egi Febri, menuturkan hal senada. Buchepalandra cocok untuk banyak tema pada akuaskap.

“Tema gunung dan hutan paling cocok. Buchepalandra juga bisa dikombinasikan dengan moss sebagai karpet atau lantai pada akuaskap,” ujarnya. Tanaman pengisi akuarium lain yang tak kalah menarik dan sedang tren di kalangan pehobi akuaskap adalah Anubias sp. Sosoknya kompak dengan posisi daun yang memutar. Menurut pehobi di Kediri, Jawa Timur, Hariyanto, anubias tergolong tanaman akuaskap atau minim perawatan.

Hariyanto mengatakan, “Anubias tetap tumbuh subur meski kondisi lingkungan kurang ideal. Tanpa maupun menggunakan karbondioksida anubias juga tetap bisa bertahan.” Anubias cocok untuk mengisi akuaskap bertema natural. Menurut M Iqbal, tanaman akuaskap yang akan terus eksis di kalangan pehobi adalah yang memiliki pertumbuhan lambat, bentuknya unik, dan susah perbanyakannya. Harap mafhum, kalau pertumbuhan cepat, pehobi kerepotan karena harus sering memangkas atau memotong tanaman agar komposisi akuaskap tetap terjaga. Bila bentuknya kurang menarik akan mengurangi nilai estetika. “Kalau mudah perbanyakannya, maka harganya akan jatuh dan menjadi kurang ekslusif,” ujar M Iqbal. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img