Wednesday, February 8, 2023

Perjuangan Srikandi Tak Bergaji, Bergerilya Membangun Lingkungan Bebas Sampah

Rekomendasi

Trubus.id — Waktu menunjukkan pukul 11:39 WIB, Indra Hernawan (54) masih sibuk memilah sampah di Bank Sampah Rawajati, pada Kamis (10/11). Ada sekitar dua karung berisi sampah anorganik seperti botol plastik yang belum ia pilah dan bersihkan.

Sesekali, Indra juga terlihat beranjak dari pekerjaannya itu untuk meminum kopi di meja tak jauh dari tempat duduknya bekerja. Setelah itu, ia kembali untuk memulai menuntaskan pekerjaan.

Lima menit kemudian, datanglah pengemudi ojek online (ojol) ke Bank Sampah Rawajati. Uniknya, ojol itu tidak membawa penumpang, tetapi mengantarkan kardus berisi sampah.

Indra berdiri, menghampiri pengemudi ojol dan menerima kardus berisi sampah. Lalu, menimbangnya dan mencatat di buku database nasabah hibah sampah.

“Banyak warga yang menghibahkan sampahnya ke Bank Sampah Rawajati, mengirimnya lewat jasa ojol. Kami sebut mereka itu sebagai nasabah hibah, karena kami tidak wajib mengganti sampah dengan uang,” kata pria yang bergabung di Bank Sampah Rawajati sejak 2018 tersebut.

Sementara itu, di ruangan berbeda, terlihat pria lanjut usia (lansia) bertopi sibuk memotong besi-besi bekas dengan mesin pemotong besi. Ia adalah Wahid (66) seorang pekerja yang mengabdikan diri di Bank Sampah Rawajati. Bahkan, ia termasuk pelaku sejarah perjuangan, sebelum dan sesudah Bank Sampah Rawajati terbentuk dan beroperasi.

Meskipun usia Wahid tidak muda lagi, semangatnya terbilang membara. Ia sangat cekatan saat memotong besi-besi bekas.

Setelah besi-besi terpotong, Wahid mengikat besi itu dan mengangkatnya ke alat penimbangan. Kemudian mencatatnya di buku database.

Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, itu juga bertugas mengelola green house seluas 6 m × 8 m, yang letaknya satu area dengan kantor bank sampah.

Wahid terbiasa mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, eco enzyme, dan pembibitan aneka tanaman. Mulai dari tanaman hias, tanaman obat keluarga, hingga tanaman buah dalam pot.

Beberapa tanaman yang ada dalam green house antara lain, tanaman hias seperti aglaonema, sansivera, puring. Aneka tanaman obat, jahe, lidah buaya, kunyit, sirih, juga tumbuh subur di sana.

Koleksi tanaman green house Bank Sampah Rawajati menjadi lengkap dengan adanya tanaman buah dalam pot, seperti buah kedondong dan jeruk.

Keberadaan tanaman-tanaman itu membuat Bank Sampah Rawajati asri dan sejuk. Bahkan, meskipun terdapat tumpukan sampah, tidak ada bau yang mengganggu. Siapa pun yang datang ke Bank Sampah Rawajati akan betah berlama-lama di sana.

Bank Sampah Rawajati, beralamat di Jl. Zeni AD 4 No. 3, RT 09/RW 03, Rawajati, Kecamatan Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dari Stasiun KRL Pasar Minggu Baru, jaraknya hanya 800 meter, dengan waktu tempuh sekitar 4 menit saja.

Sepanjang jalan dan gang di RW 03 Rawajati dipenuhi dengan pohon-pohon mahoni besar berdaun rimbun. Bahkan, di sana, terdapat sebuah area khusus layaknya taman kota. Tumbuh beragam pohon produktif, seperti mangga, belimbing, dan lainnya.

Selain Indra dan Wahid, terdapat pekerja lain yang mengabdikan diri di Bank Sampah Rawajati. Mereka adalah Ida Dahlia (49) bertugas daur ulang sampah, dan Dinar Puspita Dewi (32) sebagai pengolah sampah anorganik.

Sylvia Ermita (51), Ketua Bank Sampah Rawajati, mengatakan, Bank Sampah Rawajati membawa berkah. Kendati demikian, menurutnya, bergerak dan berjuang di bank sampah tidak mudah.

Selama jadi ketua, ia mengaku harus memutar otak bagaimana Bank Sampah Rawajati terus beroperasi. Apalagi, keuntungan dari operasional bank sampah saat itu belum begitu besar. Padahal, salah satu kunci bank sampah berjalan adalah adanya dana operasional.

Sudah bukan menjadi rahasia umum, ia bersama pengurus lainnya, kerap menggunakan uang pribadi agar bank sampah tetap beroperasi. Selain itu, pihaknya juga rajin berkolaborasi dengan pemerintah daerah hingga perusahaan swasta, untuk bersama-sama menuntaskan permasalahan sampah.

Indra Hernawan, saat memilah sampah dari nasabah di Bank Sampah Rawajati. (Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)

Lika-liku perjuangan itu membuahkan hasil, banyak pihak yang mendukung Bank Sampah Rawajati agar bisa terus berjalan. Bahkan, sampai mampu memberdayakan masyarakat, dan menggaji tenaga kerja.

Barometer bank sampah

Keberkahan adanya Bank Sampah Rawajati bukan hanya dirasakan oleh pekerja, melainkan bagi seluruh warga sekitar. Lingkungan menjadi bersih, sejuk dan nyaman. Terlepas dari itu, tercatat ada 956 nasabah yang tergabung di Bank Sampah Rawajati.

“Bahkan sempat ada juga nasabah yang sampai mendapatkan uang jutaan rupiah karena rutin menabung sampah. Namun bagi kami, yang terpenting adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah, agar lingkungan tetap terjaga,” kata Sylvia.

Tidak hanya nasabah individu, tetapi banyak nasabah lembaga yang bergabung. Mulai pendidikan dasar hingga Perguruan Tinggi seperti Universitas Tri Sakti, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA), hingga berbagai anak perusahaan Astra International seperti Astra Property, Astra Honda, Astra Daihatsu, tercatat sebagai nasabah Bank Sampah Rawajati.

Sylvia mengatakan, per bulan Bank Sampah Rawajati mampu menampung 2—4 ton sampah dari nasabah. Beragam sampah semuanya dimanfaatkan. Sampah organik diolah menjadi kompos sebagai media tanam.

Kompos kerap dibagikan secara gratis untuk warga. Selain itu, agar masyarakat mandiri, beberapa kali Bank Sampah Rawajati mengadakan pelatihan seputar pembuatan kompos dan eco enzyme dari limbah rumah tangga.

“Kemudahan-kemudahan itu kami berikan semata-mata untuk mengajak warga agar mencintai lingkungan, dengan memilah sampah, mengolah, dan menanam tanaman,” terangnya.

Adapun untuk sampah anorganik sebagian diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas. Berkat pengelolaan sampah dan lingkungan yang terintegrasi itu, RW 03 Rawajati dinobatkan sebagai Bank Sampah Percontohan di DKI Jakarta pada 2013.

Bahkan di tahun yang sama pula, RW 03 Rawajati mendapat penghargaan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA). Astra juga memberi bantuan mesin pencacah plastik, dan pembangunan Gedung PAUD yang saat ini perkembangannya sangat pesat.

Pohon jati sebagai ikon Kampung Rawajati tumbuh subur di halaman Gedung Paud.(Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)

Penghargaan itu membuat Rawajati semakin dikenal, hingga banyak masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong berkunjung ke Rawajati. Selain dari daerah Jakarta, Bank Sampah Rawajati kerap dikunjungi dari daerah luar Jakarta, seperti Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Provinsi Kalimantan, dan provinsi lainnya.

“Selain belajar mengelola sampah, dan membuat kerajinan tangan berbahan daur ulang sampah, sering kali mereka yang berkunjung membeli kerajinan yang kami buat untuk dibawa pulang ke daerahnya,” tutur Sylvia.

Sylvia bersama pengelola sampah Rawajati berkomitmen membuat siapa yang berkunjung agar mendapat kesan terbaik. Misalnya, pengunjung bisa mencontoh sistem pembukuan aktivitas nasabah yang ada di Bank Sampah Rawajati. Pembukuan wajib dilakukan supaya termonitor dengan baik

“Bank sampah, sebagaimana namanya bank, harus ada buku tabungan, slip setoran, dan pembukuan. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami pada nasabah dan RW, dan bisa dicontoh oleh bank sampah lain,” kata Sylvia.

Membebaskan diri dari banjir

Bank Sampah Rawajati merupakan salah satu gerakan lingkungan. Jauh sebelum terbentuknya bank sampah, dulu RW 03 Rawajati termasuk daerah gersang dan menjadi daerah langganan banjir.

Sejak 2001, gerakan penghijauan di lingkungan RW 03 Rawajati dimulai, di bawah komando Solichah Indah Setyani (61), yang saat ini menjabat sebagai Pembina Bank Sampah Percontohan Rawajati.

Saat itu, ia tengah menjabat sebagai Ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 03, Rawajati. Penghijauan lingkungan menjadi prioritas programnya kala itu. Tujuannya, menciptakan lingkungan yang asri, teduh, dan bebas banjir.

Gerakan penghijauan dilakukan dengan komitmen bersama warga. Satu rumah diwajibkan mempunyai tujuh pot berisi tanaman. Warga membuat media tanam kompos secara mandiri dari limbah dapur yang ada. Jadi, sebelum terbentuknya bank sampah, kegiatan pembuatan kompos sudah biasa dikerjakan.

Program satu rumah tujuh pot tanaman itu sukses terealisasi. Sayangnya, pada 2002, banjir menerjang beberapa wilayah di RW 03. Wilayah terdampak banjir di antaranya RT 01, RT 03, RT 04, dan RT 10.

Ketinggian banjir hingga 2,5 meter. Beberapa tempat umum yang tidak terdampak banjir, seperti masjid dan SD difungsikan sebagai lokasi pengungsian.

Rumah Solichah yang tidak terdampak banjir, dijadikan posko bantuan. Segala bantuan untuk pengungsi berpusat di sana. Lalu, disalurkan ke tempat-tempat warga pengungsi. Banjir baru surut setelah sepekan kemudian.

Tanaman pot yang ditanam di rumah otomatis hilang tak berbekas. Namun, hebatnya setelah kejadian itu, masyarakat masih semangat untuk melakukan penghijauan. Mereka mulai menanam kembali.

“Dari situ, saya melihat semangat warga menginginkan lingkungan hijau sangat tinggi, hanya butuh sosok penggerak,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani Jati Mandiri, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan.

Banyak tanaman peneduh yang ada di Taman RW 03 Rawajati. (Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)

Kemudian, Solichah, menginisiasi program penghijauan selanjutnya, dengan penanaman pohon-pohon peneduh yang produktif. Beragam pohon seperti melinjo, belimbing, jamblang, kecapi, kesemek, pinang, mangga, dan jati mulai ditanam di berbagai titik penghijauan.

“Dipilih tanaman produktif karena niat awal, setelah tumbuh besar bisa dimanfaatkan warga, buahnya bisa diolah menjadi beragam olahan. Sementara pohon jati dipilih untuk mengembalikan ikon Rawajati agar tetap ada,” jelasnya.

Tanaman-tanaman itu kini sudah tumbuh besar dan berdiri kokoh di lingkungan RW 03 Rawajati. Enam pohon jati setinggi 6—7 meter ada di halaman Paud Rawajati, dua jati lain ada di depan rumah Sholichah.

Selain penghijauan, Solichah bersama warga juga membuat biopori, dan rutin membersihkan saluran air sekitar pemukiman. Upaya penghijauan itu sukses membuat RW 03 Rawajati menjadi lingkungan yang indah, asri, dan terbebas banjir.

Bank sampah pertama di Jakarta

Tidak hanya mengolah sampah organik dan penghijauan, Solichah, memutar otak agar lingkungannya terbebas dari sampah anorganik. Pada 2008, ia mencetuskan ide Tabungan Sampah Kering “TASAKE”.

Seiring berjalannya waktu, dan terus sosialisasi mengajak warga untuk bergabung TASAKE. Sukses mengajak warga, pada akhir 2010, nama TASAKE berganti menjadi Bank Sampah Rawajati.

Bank Sampah Rawajati menjadi bank sampah yang pertama kali berdiri di Jakarta. Selain masih menjabat ketua PKK waktu itu, Solichah, merangkap menjadi Ketua Bank Sampah Rawajati pertama kali.

Pemerintah daerah mulai melirik Bank Sampah Rawajati, hingga kolaborasi pun dilakukan. Solichah mulai sibuk diminta melakukan sosialisasi kepada warga Jakarta Selatan untuk membuat bank sampah serupa.

Foto bersama pengelola Bank Sampah Rawajati, Wahid, Indra Hernawan, Sylvia Ermita, dan Dinar Puspita Dewi (dari kiri ke kanan). (Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)

Kesibukan itu membuat Solichah mempercayakan jabatan kepemimpinan Bank Sampah Rawajati pada Sylvia sejak 2012. Sementara itu, Solichah, terus melakukan gerakannya mengajak warga Jakarta membangun bank sampah baru.

Gerakan itu, disambut baik oleh berbagai pihak yang diajaknya. Hanya membutuhkan waktu singkat, sekitar puluhan bank sampah mulai terbentuk dan mulai membuat paguyuban. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya harga jual sampah yang tidak sama di antara pelapak.

Inilah titik awal sejarah terbentuknya Bank Sampah Induk Gesit Jakarta Selatan. Melalui pertemuan paguyuban, disepakati pembentukan Bank Sampah Induk (BSI) sebagai sebuah solusi. Akhirnya, Bank Sampah Induk Gesit, berhasil dibentuk pada 2017.

Berjuang untuk sembuh

Bank Sampah Induk Gesit berperan sebagai pusat dari bank sampah unit yang ada. Periode pertama kepengurusan Solichah menjabat sebagai pendamping BSI. Akan tetapi, dalam perjalanannya BSI belum bisa berjalan efektif.

Dari pendamping, akhirnya Solichah, turun tangan menjabat sebagai Ketua Bank Sampah Induk Gesit. Dalam kepemimpinannya pun belum berjalan mulus. Bank Sampah Induk Gesit kerap diterpa kendala terkait biaya operasional.

Sering kali, ia menggunakan dana pribadi agar operasional Bank Sampah Induk Gesit bisa terus berjalan. Masa-masa itu semakin sulit, ketika Solichah, menderita sakit mag dan batu empedu. Ia harus bolak balik ke rumah sakit. Selama 2 bulan ia melawan rasa sakit itu.

Setelah sembuh, ia berjuang kembali dengan melakukan berbagai upaya agar Bank Sampah Induk Gesit bisa maju. Segala usaha dan perjuangannya tidak sia-sia. Pada 2018, omzet pernah mencapai Rp150 juta. Omzet itu digunakan untuk biaya operasional, termasuk membayar tenaga kerja.

Pada 2019, Solichah, digantikan Ellen de Wilde. Namun, ia masih menjabat sebagai Wakil Ketua Bank Sampah Induk Gesit, untuk mendampingi Ellen. Sampai saat ini, Bank Sampah Induk terbilang survive, dan mampu memberdayakan warga untuk menjadi tenaga kerja di Bank Sampah Induk Gesit.

Solichah Indah Setyani, saat memberi pelatihan pembuatan kompos di SMA Al Azhar Syifa Budi, Jakarta Selatan, baru-baru ini. (Dok. Istimewa)

Solichah, mengatakan, ada 461 nasabah bank sampah unit di Jakarta Selatan, yang berada di bawah naungan Bank Sampah Induk Gesit. Termasuk Bank Sampah Percontohan Rawajati adalah bank sampah unit. Dengan keberadaan bank sampah, beragam sampah bisa dikelola dengan baik.

Srikandi tak bergaji

Pengurus Bank Sampah Induk Gesit ada empat, semuanya perempuan. Selama bergerak di gerakan bank sampah, baik di Rawajati dan BSI, Solichah mengaku tidak pernah menerima gaji sepeser pun dari operasional Bank Sampah.

“Itu mengapa semua pengurusnya adalah perempuan. Kerja seperti ini banyak dari sisi sosialnya, sementara kalau dari laki-laki kan kepala keluarga memiliki kewajiban menafkahi keluarganya,” tutur perempuan kelahiran Magelang itu.

Baginya sebuah gerakan yang dilakukannya itu semata-mata untuk lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai capaian yang ia torehkan tidak membuatnya tinggi hati. Ia menilai apa yang dilakukannya semata-mata karena kecintaannya terhadap lingkungan, Rawajati, Jakarta dan Indonesia.

“Yang hebat bukan saya, tapi semua masyarakat yang mau diajak bergerak bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan. Saya yakin, suatu saat Jakarta akan bisa menjadi zero waste,” paparnya.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Sukses Budidaya Lele agar Menguntungkan

Trubus.id — Budidaya lele tak semudah yang dipikirkan. Beberapa kendala akan ditemui saat seseorang sudah mulai terjun di peternakan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img