Potret Pasar Teh Premium

Rekomendasi

Penggemar teh premium meningkat. Celah bisnisnya terbuka.

Banyak orang meyakini khasiat kesehatan secangkir teh. (Dok. Trubus)

Trubus — “Harga sekilogram teh produksi saya Rp350.000,” kata Ferri Kurnia. Ferri (41) bukan menanam teh asamika Camellia sinensis var. assamica layaknya kebanyakan perkebunan besar berskala luas. Di lahan enam hektare milik Ferri bersama kakak dan adiknya di Desa Pasircanar, Takokak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu tumbuh teh sinensis C.s. var sinensis. Soal produktivitas, teh sinensis tiarap kalau melawan asamika. Menurut Ferri produktivitas kebun teh miliknya hanya 500—1.000 kg per hektare per tahun.

Angka itu jauh di bawah produksi kebun teh asamika yang 2—3 ton per ha per tahun. Tentu dengan asumsi tiap kebun terawat baik dengan pemupukan optimal. Kalau menanam bibit unggul seperti GMB 7, produksi per tahun malah bisa lebih dari 5 ton daun teh kering per hektare (baca “Teh Unggul dari Gambung” hal. 42—43). Rendahnya produksi itu juga lantaran Ferri hanya memetik pucuk teh (peko) plus tiga daun di bawahnya. Bandingkan dengan produsen lain yang mengejar kuantitas dengan memetik sampai daun ke-7. Bahkan, ranting hasil pangkasan pun diolah.

Pasar daring

Produsen teh premium di Takokak, Cianjur, Jawa Barat, Ferri Kurnia. (Dok. Pribadi)

Menurut Ferri Kurnia produksi teh hijau maksimal enam ton per tahun. Produk teh sinensisnya hampir habis terserap pembeli asal Rusia, Vladimir Mosaygin. Pelanggan yang membeli sejak 2017 itu rutin meminta kiriman antara 500—2.000 kg per order. Artinya omzet minimal per pengiriman Rp175 juta. Padahal dalam setahun Vladimir tidak hanya sekali meminta kiriman. Selain mengirim ke Rusia, Ferri juga membuat produk teh dengan merek Oero. Merek itu berasal dari nama sang ayah, Muhammad Oero, yang merintis pengolahan teh. Ferri menjalankan bisnis teh itu.

Ia mengemas tujuh varian teh, yaitu teh merah sinensis, teh merah asamika, teh hijau sinensis, teh hijau asamika, teh kuning sinensis, teh kuning sinensis gepeng, dan teh sinensis bambu. “Teh bambu adalah teh hijau yang disangrai dalam bumbung bambu sehingga rasa dan aromanya spesial,” katanya. Selain menanam, mengolah, memproses, dan menjual teh sinensis, Ferri juga bermitra dengan 50 pekebun teh asamika. Ia memproses dan mengemas hasil panen di pabrik Pasircanar warisan dari almarhum sang ayah. Ia juga menjual teh pekebun mitra itu dengan bendera Oero.

Teh kuning produksi Ferri Kurnia tetap laku meski pandemi. (Dok. Pasircanar)

Meski terjadi pandemi korona sejak Maret 2020, teh asal pabrik Pasircanar tetap mendapat pasar. Ferri mengandalkan penjualan melalui berbagai aplikasi lokapasar (marketplace) yang kini tersemat dalam tiap ponsel pintar. Manajer produk PT Bukit Sari, Ronald Goenawan juga merasakan peningkatan penjualan melalui kanal daring. Selain lokapasar, perusahaannya juga getol mempromosikan teh berlabel Bankitwangi Premium Tea itu melalui kanal media sosial yang banyak digandrungi generasi masa kini.

Dalam acara bincang teh yang diadakan gabungan pemerhati komoditas perkebunan Gamal Institute pada Mei 2020, Ronald menyatakan, penjualan melalui kanal daring meningkat dua kali lipat. Kondisi itu cukup menyambung napas produsen teh organik di Kabupaten Cianjur itu lantaran pandemi korona memukul telak penjualan produk curah.

Ketua umum Asosiasi Teh Spesialti Indonesia (Association of Indonesian Specialty Tea, AISTea), Galung Atri menyatakan, permintaan lokal terhadap produk teh premium mulai terasa dua tahun berjalan atau sejak 2018. “Padahal 6—7 tahun lalu produk itu menumpuk di gudang perusahaan karena penjualan sedikit sekali,” kata juara even National Tea Competition 2019 itu. Perusahaannya memproduksi teh premium curah untuk ekspor maupun domestik.

Rentang usia lebar

Semangat mengonsumsi teh “enak” itu tidak hanya mendongkrak penjualan produsen di Jawa. Nun di desa Ketap, Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Li Po On dan Sugia Kam juga merasakan gurihnya perniagaan teh. Mengandalkan sinensis dataran rendah, sejak Desember 2019 Sugia memasarkan label Teh Tayu – The Heritage Tea. Ia mengemas sendiri dalam kantong pouch berdiri seharga Rp40.000—Rp50.000 berisi 100 g teh. Dalam sebulan ia menjual 5—8 kg teh atau 50—80 kantong.

Sementara itu dengan penjualan rata-rata 30 kg dan harga Rp300.000 per kg, Li Po On mengantongi omzet bulanan Rp9 juta. Aon—panggilan Li Po On—menjual produknya sampai Kota Pangkalpinang dengan sistem jual titip.

Pegiat teh Indonesia, Ratna Somantri. (Dok. Trubus)

Menurut pegiat teh tanah air dan ketua Bidang Promosi AISTea, Ratna Somantri, kemunculan kafe secara langsung mendongkrak penjualan teh. Ia mengisahkan ulang penuturan seorang rekan yang memiliki kafe, yang menyatakan 30% omzetnya adalah dari teh. “Bahan baku menghidangkan segelas teh lebih murah daripada segelas kopi sehingga lebih irit. Rentang usia peminum teh juga lebih lebar,” katanya. Ratna berani meminumkan teh kepada putranya yang baru berusia 3 tahun, tapi ia tidak akan melakukan hal serupa menggunakan kopi.

Pemicu lain, “Banyak orang yakin teh adalah minuman kesehatan,” kata Ratna. Pandemi korona turut memengaruhi penjualan teh lantaran banyak yang meyakini khasiatnya. “Riset peneliti Tiongkok menunjukkan kandungan zat teaflavin teh mencegah molecular docking (pelekatan, red.) virus Covid-19 di sel target,” kata direktur Pusat Penelitian dan Kina, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Dadan Rohdiana, S.T., M.P. Dadan menyatakan, teaflavin terbentuk ketika teh mengalami oksidasi. Artinya zat itu terkandung dalam teh hitam alias teh merah. Sebaliknya teh hijau yang sama sekali mengharamkan oksidasi tidak memiliki teaflavin. Fakta-fakta itu mewakili antusiasme makin banyak orang ngeteh. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Kandang Bersih Tanpa Bau Dukung Produksi Susu Kambing

Kandang modern menjadi kunci keberhasilan Rahmat Bintang Ramadhan dalam menjaga kualitas susu kambing perah di Prabhu Farm, Sleman, Daerah...

More Articles Like This