Saturday, August 13, 2022

Rayuan Harga Kelapa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Harga buah kelapa melejit dari Rp3.000 menjadi Rp8.000 sejak akhir Mei 2016.

Kelapa menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.
Kelapa menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.

Di tingkat pekebun, harga itu meningkat dari semula tidak sampai Rp2.000 menjadi Rp2.500—Rp3.000 per buah. Bahkan Efli Ramli, pengolah sabut kelapa di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, menyatakan bahwa sekarang harga berkisar Rp3.000—Rp3.500 per buah. Harga itu tentu saja menggembirakan pekebun. “Saat ini petani kelapa tengah berbulan madu,” kata Ardi M Simpala.

Penggagas gerakan Sahabat Kelapa Indonesia dan penulis buku “Save the Tree of Life” itu mengatakan, dampak kenaikan harga menggairahkan petani. Ardi M Simpala melihat banyak pekebun membibitkan kelapa di pekarangan masing-masing. Ketika mengunjungi Pesisir Barat, Ardi melihat bibit-bibit kelapa bertunas di sela pohon sawit yang tidak produktif lagi.

Hukum ekonomi

Menurut Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Amrizal Idroes, kenaikan harga kelapa itu sekadar hukum ekonomi. “Saat pasokan berkurang, otomatis harga terkerek naik,” kata Idroes. Ia mengutip data HIPKI yang menyatakan bahwa pada 2015 kebutuhan kelapa nasional mencapai 14,63-miliar buah—setara 40-juta buah per hari.

Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Amrizal Idroes
Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Amrizal Idroes

Kebutuhan terbesar—53%, setara 7,7-miliar buah per tahun—datang dari industri minyak kelapa. Adapun kebutuhan rumah tangga yang dipasok para pengepul ke pasar-pasar tradisional, hanya 10% atau 1,53-miliar buah setahun. Sementara pasokan yang mengalir, menurut Sensus Pertanian 2013, hanya 12,9-miliar buah. Sudah begitu, “Sebanyak 24% atau 3,5-miliar buah mengalir ke pasar ekspor,” tutur Idroes.

Keruan saja pasokan domestik semakin pincang sehingga harga pun merangkak naik. Bagaimana ceritanya Indonesia, yang menyatakan diri sebagai Negeri Rayuan Pulau Kelapa, bisa kekurangan kelapa? “Kekurangan pasokan itu akumulasi berbagai penyebab,” kata Prof Hengky Novarianto, pengamat kelapa dan periset senior di Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (Balitpalma), Manado, Sulawesi Utara.

Kejayaan kelapa sawit beberapa tahun silam membuat banyak pekebun kelapa berbondong-bondong menebang kelapa dan menggantinya dengan kelapa sawit. Kendala lain, pasokan selama ini mengandalkan tanaman tua yang produktivitasnya semakin merosot. Serangan kumbang badak alias kwangwung Oryctes rhinoceros pun tidak bisa dianggap remeh (baca: “Ampuh Atasi Ulah Badak” halaman 126—127) .

Ekspor dilarang?
Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, lahan kelapa seluas 100 ha rusak akibat berbagai faktor. Menurut Bupati Indragiri Hilir, HM Wardan salah satu penyebab utamanya adalah serangan kwangwung. Pengamat agribisnis kelapa di Manado, Arie Lolong, menyatakan serangan kwangwung itu dipicu rejuvenasi alias peremajaan besar-besaran lahan sawit di sekitar perkebunan kelapa.

“Ketiadaan sawit dewasa membuat kumbang badak mencari inang baru,” ujar Arie. Berkebalikan dengan pohon sawit milik perkebunan besar yang terawat intensif—termasuk pengendalian rutin hama penyakit—kelapa justru minim perawatan. Keruan saja kumbang badak bebas berkembang biak dan memorak-porandakan pohon Cocos nucifera milik masyarakat.

Gula kelapa dapat mendatangkan keuntungan tinggi bagi pekebun.
Gula kelapa dapat mendatangkan keuntungan tinggi bagi pekebun.

Banyak pohon kelapa gundul tinggal batang dan beberapa pelepah patah. Padahal, kelapa salah satu andalan masyarakat Indragiri Hilir. Amrizal Idroes mengungkapkan, pergeseran cuaca akibat el nino pada 2015 juga berkontribusi terhadap penurunan produksi. Ekspor kelapa bulat, baik resmi maupun ilegal, memperparah kekurangan pasokan itu. HIPKI mengusulkan agar pemerintah melarang ekspor buah kelapa nonolahan.

Tujuannya demi menjamin pasokan kepada pabrik-pabrik pengolah kelapa. HIPKI mendasarkan usul itu kepada regulasi pemerintah, antara lain Perpres No.28/2008 tentang Kebijakan Industri Nasional dan Permendag No.44/2012. Usul itu tidak serta-merta disetujui semua pihak. Menurut periset di Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Dr Ir David Allorerung MS, pekebun tergiur ekspor semata-mata lantaran disparitas harga pasar ekspor dan domestik.

Ucapan David itu senada dengan pernyataan Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Nurlaila Nur Muhammad SE. Di Riau perusahaan lokal membeli kelapa kualitas baik dari pekebun seharga Rp2.700 per kg. Sementara pedagang dari negeri jiran Malaysia berani membeli dengan harga lebih tinggi Rp50—Rp200 per kg. “Perbedaan harga sedikit saja menarik bagi pekebun karena mereka menjual ribuan buah,” kata Nurlaila.

Nilai tambah
Menurut David pemerintah sebaiknya mempertimbangkan efektivitas kebijakan sejenis yang pernah dilakukan terhadap komoditas lain. “Pelarangan ekspor pernah diberlakukan terhadap rotan dan kakao. Ternyata harga malah semakin turun karena industri tidak mampu menyerap semua produksi,” tutur David. Harga rendah membuat pekebun malas mengurus tanaman sampai akhirnya produksi pun merosot.

Pada akhirnya, pelarangan ekspor justru memukul pekebun. David mewanti-wanti jangan sampai hal itu terulang di kelapa, yang sekarang saja pasokannya semakin surut. Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo), Muhaemin Tallo, juga tidak yakin pelarangan ekspor solusi terbaik. “Pekebun ingin uang secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya, tidak peduli dari mana pembeli datang,” kata Muhaemin.

Industri minyak kelapa menyedot pasokan kelapa bulat paling tinggi.
Industri minyak kelapa menyedot pasokan kelapa bulat paling tinggi.

Ardi Simpala menyoroti panjangnya tata niaga yang membuat pekebun, yang berada di pangkal rantai, justru memperoleh margin terkecil. “Sekarang saja tidak semua pekebun menikmati bulan madu. Pekebun di Indonesia timur tidak menerima perbaikan apa pun karena pasokan masih melebihi permintaan,” kata Ardi.

Guru besar Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Prof Sudarsono, mengingatkan sudah saatnya bisnis kelapa menjadikan kesejahteraan pekebun sebagai tolok ukur yang penting. “Jika pekebun sejahtera, pasokan kelapa lancar, industri berjalan, semua pun kebagian untung,” kata Sudarsono. Menurut Ardi Simpala salah satu kuncinya adalah pemberdayaan pekebun untuk memberikan nilai tambah.

Ardi mencontohkan Thailand yang mampu mengembangkan agribisnis kelapa dengan nilai tambah tinggi sejak tingkat pekebun. Pasalnya, menurut sekjen HIPKI Donatus Gede Sabon, ekonomi makro justru dibangun oleh pedagang perantara yang memilih abai terhadap nilai tambah produk apalagi kesejahteraan pekebun. “Sebenarnya pemerintahlah yang bisa berperan aktif dalam pengaturan tataniaga,” kata Donatus.

Menurut Ir Mustaufik MP dari Gula Center Universitas Jenderal Soedirman, Banyumas, Jawa Tengah, penghasilan petani yang membuat gula kelapa lebih menjanjikan. Risikonya, pohon yang diambil niranya untuk membuat gula tidak akan memproduksi buah. Semua sepakat bahwa kelapa menyimpan potensi besar sebagai pohon pemberi kehidupan sekaligus sumber kesejahteraan. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img