Wednesday, February 8, 2023

Robusta Rasa Kelapa

Rekomendasi

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. “Padahal yang disajikan kopi robusta,” ujar penyangrai (roaster) di Desa Tamansari, Dwi Muji Prasetyo.

Banyak penikmat kopi salah mengira jenis kopi karena ada cita rasa khas yang muncul pada kopi kreasi Dwi. Lazimnya, cita rasa khas itu kerap muncul pada kopi arabika. Menurut pengolah minuman kopi (barista) di sana, Taufan Romantika, setiap kopi memiliki cita rasa atau karakter masing-masing.

“Contohnya cita rasa kopi arabika ijen memiliki sensasi asam seperti jeruk,” kata Taufan.

Rasa khas yang membuat penikmat kopi mengira robusta asal Desa Tamansari mirip arabika lantaran adanya sensasi cengkir atau rasa kelapa bakar saat menyeruput kopi.

Dekat kelapa

Lantas apa yang memengaruhi cita rasa. Menurut Taufan, sifat tanaman kopi menyerap aroma tanaman di sekitar. “Kebetulan banyak tanaman kelapa di Desa Tamansari. Letak tanaman pun biasanya berdampingan dengan tanaman kopi,” kata Taufan.

Itulah salah satu faktor kopi robusta asal Desa Tamansari bercita rasa kelapa. Menurut Dwi, penyebab lain kopi di desa dengan ketinggian tempat 600–700 meter di atas permukaan laut (m dpl) itu memiliki cita rasa khas karena posisinya tepat di bawah kaki Gunung Ijen.

“Tanah di kebun kopi di Desa Tamansari kaya kandungan belerang dari Gunung Ijen sehingga memungkinkan menghasilkan cita rasa kopi khas,” kata Dwi.

Cita rasa khas itu kian optimal jika pengolahan tepat. Menurut prosesor atau pengolah kopi di Desa Tamansari, Aris Mawardi, pengolahan kopi pun amat memengaruhi mutu kopi. Artinya, dengan mengolah intensif, mutu kopi kian optimal.

Lazimnya, pengolahan intensif demi menghasilkan cita rasa optimal itu semula diterapkan pada kopi arabika. Harap mafhum, arabika memang produk kopi premium.

“Padahal jika diterapkan pada robusta pun hasilnya optimal seperti petik merah dan penjemuran di tempat terkontrol,” kata prosesor kopi sejak 2005 itu.

Kopi robusta asal Desa Tamansari dalam sajian espreso. (Trubus/Muhamad Fajar Ramadhan)

Aris pun menerapkan pengolahan intensif pada kopi robusta. Pengolahan tepat berpengaruh terhadap rendemen dan mutu. “Jika memetik asalan (campuran buah kopi dominan hijau), rendemen dari buah ke kopi beras (greenbean) hanya 20–22%. Sementara menerapkan petik merah rendemen hingga 25%,” kata Aris.

Mutu kopi hasil petik merah pun cukup kentara karena harga jual kopi beras robusta asalan hanya Rp25.000 per kg. Sementara, harga kopi beras asal buah petik merah mencapai Rp45.000 per kg. “Jika berasal dari buah merah, rasanya pasti enak,” kata Aris.

Pengelolaan tepat itu membuahkan hasil. Pasalnya, saat salah satu prosesor mencoba mengirim kopi robusta asal Desa Tamansari untuk dinilai pada acara kopi di Bali, ternyata nilainya mencapai 80.

Artinya, kopi itu termasuk kategori fine robusta. Taufan menambahkan, kecocokan pengolahan pascapanen dengan jenis kopi amat berperan untuk menghasilkan cita rasa kopi premium. “Robusta di Desa Tamansari cocok dengan pengolahan natural sehingga rasanya kian premium,” kata Taufan.

Pasar ekspor

Cita rasa premium itu bukan isapan jempol. Pasalnya, pasar kopi robusta asal Desa Tamansari menjangkau mancanegara. Dwi rutin memasok 10 kg kopi robusta dalam bentuk roastbean atau kopi pascasangrai dan bubuk untuk pembeli di Hongkong saban bulan.

Banyak permintaan kopi dalam bentuk bubuk. (Trubus/Muhamad Fajar Ramadhan)

“Rutin juga kirim 70 pak (kemasan 150 g) kopi bubuk ke Israel,” kata pria yang menjadi Juara Harapan 5 Jagoan Tani Banyuwangi 2022 itu.

Dwi tidak membedakan harga untuk pasar ekspor dan lokal. Harga jual kopi Rp125.000 per kg dalam bentuk kopi pascasangrai dan Rp140.000 per kg bubuk. Ongkos kirim ditanggung pembeli. Dwi tidak sendiri mengisi permintaan ekspor itu. Ada pula Taufan yang kerap memenuhi permintaan negara lain seperti ke Jepang dan Selandia Baru.

“Mereka mengolah kopi menjadi bahan lulur dan rum atau minuman beralkohol,” kata Taufan.

Lebih lanjut ia menuturkan, permintaan terbesar mancanegara memang masih jenis arabika. Namun, permintaan robusta pun mulai tumbuh. Permintaan rutin arabika dari Jepang 5–10 kg per bulan, dan dari Selandia Baru 40–150 kg per bulan. Harga jualnya Rp300.000–Rp350.000 per kg pascasangrai.

Adapun robusta Rp200.000 pascasangrai. “Sementara robusta baru 5% dari pasar ekspor arabika,” kata Taufan. Meskipun begitu, nyatanya robusta asal Desa Tamansari bisa dibilang naik kelas karena menembus pasar internasional. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img