Monday, August 8, 2022

Rupiah dari Bawah Tajuk

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jahe merah hanya toleran 50% naunganIrwan Nugraha mendulang Rp540-juta dari kolong jabon.

Rupiah itu hasil penjualan 36 ton rimpang jahe merah hasil panen dari kebun jabon. Irwan menanam jahe merah di antara barisan tanaman jabon Anthocephalus cadamba di kebun seluas 3 ha. Ia menanam pada awal musim hujan ketika pohon jabon berjarak 2,5 m antartanaman berumur setahun dengan tinggi tanaman kira-kira 3 m. Pada Oktober 2011 alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu menanam 3,6 ton bibit jahe merah di lahan seluas 3 ha.

 

Harga kapulaga fantastis tapi budidaya dan panen lebih repot.Dalam 10 bulan setiap 30—40 g bibit tumbuh menjadi rumpun yang menghasilkan 300—400 g rimpang siap panen. Saat panen Irwan tak pening mencari pembeli. “Sebelum panen saja pengepul rajin menyambangi dan berlomba menawarkan harga,” kata Irwan. Jahe merah dari kebun Irwan memang prima dengan rimpang merah besar dan dipanen tua. Selesai panen pada kemarau itu, Irwan langsung mempersiapkan bibit lagi untuk penanaman jahe merah berikutnya.

Tetap intensif

Irwan memilih bibit berupa rimpang yang benar-benar tua. Biasanya berupa rimpang hasil panen tanaman berumur setahun  pascatanam. Sebelum menanam, ia membuat bedengan selebar satu meter setinggi 20—25 cm di antara 2 barisan pohon jabon. Jarak bedengan ke pohon 75 cm. Lahan di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, itu miring sehingga Irwan membuat bedengan membujur arah kemiringan lahan. Ia lantas membenamkan 50 g pupuk SP-36 ke setiap lubang tanam sebagai pupuk dasar.

Selang 2 minggu pascapemupukan, ia memasukkan 30—40 g rimpang jahe sedalam 5 cm. Jarak tanam antarrimpang 80—85 cm. Selanjutnya ia memberikan pupuk susulan berupa 50 pupuk NPK pada bulan ke-4 dan ke-7 pascatanam. “Budidaya jahe nyaris tidak menghadapi masalah hama penyakit lantaran daunnya tidak disukai serangga,” kata Irwan. Namun, kalau terlalu banyak hujan tanah menjadi asam sehingga ia harus menaburkan 100—200 g dolomit per rumpun untuk mengembalikan pH ke tingkat normal, berkisar 5,5—6,5.

“Jahe perlu air tapi tidak tahan tergenang,” kata Irwan. Pertumbuhan jahe selalu kalah cepat oleh gulma, apalagi saat musim hujan. Itu sebabnya Irwan mempekerjakan 3 orang untuk menyiangi lahan. Dengan rotasi, setiap orang menyiangi lahan yang sama setiap      3 minggu. “Itu waktu yang efektif, karena kalau rumput telanjur tinggi, perlu waktu lebih lama untuk membersihkan lahan dari gulma,” ungkap Irwan. Sembari menyiangi, pekerja kebun sekaligus membumbun rumpun agar rimpang selalu tertimbun.

Setiap hektar, populasi jahe mencapai 30.000 tanam. Artinya di lahan seluas 3 ha, ia menanam 90.000 tanaman. Jika setiap rumpun menghasilkan 400 g rimpang, ia memperoleh total 36 ton jahe merah. Saat panen pada Agustus 2012 Irwan mendapat harga Rp15.000 per kg. Ayah satu anak itu menangguk omzet

Rp540-juta. Pendapatannya kian melonjak jika ia memperoleh harga lebih tinggi, misal pada 2011 harga jahe merah di tingkat kebun Rp30.000 per kg. “Hasil yang luar biasa mengingat budidayanya tidak memerlukan lahan khusus, hanya memanfaatkan kolong tanaman induk,” kata periset tanaman hutan di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta, Ir Mahfudz MP.

Maksimal 3 tahun

Menurut Dr Irdika Mansur MForSc, periset di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pemanfaatan lahan di kolong tanaman utama bisa menjadi sumber pendapatan alternatif sembari menunggu masa panen tanaman utama.

Harap mafhum dengan menanam kayu cepat seperti jabon dan sengon saja mereka harus menunggu 5 tahun untuk menuai kayu. Menurut Ardha Primatopan, pembibit jabon di Kendal, Jawa Tengah, biaya pemeliharaan kebun jabon dan sengon per tahun mencapai Rp1,5-juta—Rp3-juta. Biaya itu untuk keperluan pemupukan, penyiangan, dan tenaga kerja.

Menurut Mahfudz, pemanfaatan lahan di bawah tegakan mesti mempertimbangkan berbagai faktor. Antara lain pemilihan jenis tanaman sela yang toleran 50—60% naungan, perawatan mudah, relatif bebas perawatan, dan tidak rakus nutrisi sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman induk. Secara komersial juga harus bernilai tinggi.

Pengalaman Irwan menunjukkan di atas umur 3 tahun tajuk tanaman jabon sudah terlalu rapat sehingga sinar matahari tidak mampu menembus ke bawah. Menurut Dr Nurliani Bermawie, periset pemuliaan dan genetika tanaman Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, jahe toleran naungan hingga 50%. “Lebih dari itu tanaman mampu hidup, tapi pembentukan rimpang melambat,” kata Nurliani. Artinya, perlu lebih lama, bisa lebih dari setahun, hingga jahe merah siap panen.

Nun di Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Raharjo Sutarmono memilih kencur Kaempferia galanga sebagai tanama sela di antara jabon. Ia menanam   5 ton bibit—setara 250.000 rumpun—di lahan seluas 1 ha. Ayah 2 anak menanam jabon dan kencur bersamaan. Pasalnya, “Kencur memerlukan cahaya matahari 100% di awal pertumbuhan,” kata Raharjo. Ia memilih kencur lantaran harga tinggi. Pada April 2012 silam, harga kencur di lahan mencapai Rp24.000 per kg.

Pilihan lain

Pilihan lain di bawah naungan, temulawak Curcuma xantorrhiza, kapulaga Amomum cardamomum, atau porang Amorphophallus onchophyllus. Pekebun jabon di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Rohim Solihin, menanam temulawak di sela tanaman jabon berjarak 2,5 m x 3 m di lahan seluas 3 ha.

Setahun kemudian, ia memanen 600—700 gram rimpang temulawak per rumpun. “Pertumbuhan temulawak tidak terpengaruh naungan sehingga penanamannya bisa terus-menerus sampai waktunya panen jabon,” kata Rohim. Riset Hidayati Mas’ud dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, menyebutkan bahwa pertumbuhan terbaik temulawak berlangsung di bawah 70% naungan.

Seperti temulawak, kapulaga pun toleran naungan sehingga pekebun bisa menanam sebagai tanaman sela sampai kayu siap panen. Harga kapulaga tergolong fantastis: Rp70.000—Rp85.000 per kg  biji kering. Itu sebabnya Raharjo menanam kapulaga di bawah tegakan jabon seluas 5 ha di lahannya yang lain di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Dari komoditas di kolong tajuk para pekebun mendulang rupiah. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articlePer Gram Rp98,1-Juta
Next articleSumber Fulus Baru
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img